Loading Now

Dokter Frengky Tegaskan GERD Tidak Menyebabkan Henti Jantung, Ini Penjelasan Medisnya

Jakarta — Perbincangan soal penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kembali ramai di media sosial, terutama setelah muncul perdebatan terkait anggapan bahwa GERD bisa menyebabkan sakit jantung hingga henti jantung. Menanggapi hal tersebut, praktisi kesehatan Dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med., memberikan penjelasan medis agar masyarakat tidak salah kaprah.

Dr. Frengky menjelaskan bahwa GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus) akibat melemahnya katup atau sfingter yang seharusnya menahan asam lambung tetap di lambung.

“GERD itu bahasa awamnya asam lambung naik. Normalnya ada katup yang menahan asam lambung, tapi kalau katupnya lemah, asam bisa naik ke kerongkongan,” jelasnya.

Gejala GERD kerap menyerupai gangguan jantung, seperti dada terasa panas (heartburn), sesak napas, dada terasa berat, mual, muntah, hingga perut kembung. Kemiripan inilah yang sering membuat masyarakat mengira GERD berkaitan langsung dengan penyakit jantung.

Menurut Dr. Frengky, secara medis GERD tidak menyebabkan henti jantung maupun serangan jantung secara langsung. Ia menegaskan pentingnya membedakan antara henti jantung dan serangan jantung.

“Henti jantung itu kondisi jantung berhenti memompa dan harus ditangani dalam hitungan detik sampai menit. Sedangkan serangan jantung biasanya disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah. Dua-duanya berbahaya, tapi mekanismenya berbeda,” ujarnya.

Ia menambahkan, GERD tidak memicu kedua kondisi tersebut secara langsung. Namun, gejala GERD yang menyerupai nyeri dada dan sesak napas sering menimbulkan kecemasan dan stres, yang kemudian memicu palpitasi atau jantung berdebar. Kondisi inilah yang kerap disalahartikan sebagai gangguan jantung.

Meski demikian, GERD tetap tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak terkontrol, GERD dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada sistem pernapasan.

“Asam lambung bisa teraspirasi ke paru-paru dan menyebabkan aspirasi pneumonia, bronkospasme, hingga pneumonia berat. Kalau ini tidak ditangani, bisa mengancam nyawa,” jelasnya.

Terkait anggapan bahwa GERD merupakan penyakit mematikan, Dr. Frengky menyebut angka kematian akibat GERD secara langsung sangat kecil dan jarang terjadi. Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya hubungan statistik antara GERD dan penyakit jantung, namun hal tersebut bukan hubungan sebab-akibat.

“Data jurnal itu hubungan statistik, bukan berarti GERD menyebabkan penyakit jantung. Jadi jangan disamakan,” tegasnya.

Ia menambahkan, risiko fatal biasanya muncul bila penderita GERD memiliki penyakit penyerta lain, seperti hipertensi, diabetes, atau riwayat penyakit jantung, sehingga kondisi tubuh secara keseluruhan menjadi lebih rentan.

Sebagai kesimpulan, Dr. Frengky menegaskan bahwa GERD tidak secara langsung menyebabkan henti jantung, namun tetap perlu ditangani dengan baik melalui pengaturan pola makan, gaya hidup sehat, dan manajemen stres untuk mencegah komplikasi serius.

Share this content: