Loading Now

Ketum BKN Kecam, Serangan Israel Amerika Ke Iran “Presiden Prabowo Harus Keluar dari BOP”

Jakarta, — Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN) Gus Rofii menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya seorang ulama yang disebutnya sebagai duriah Rasulullah. Ia menilai peristiwa tersebut menjadi pemicu meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
“Saya pertama ingin menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya seorang alim, duriah Rasulullah, cucu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sebagai orang Islam dan sesama manusia, kami sangat menyayangkan kejadian ini,” ujar Gus Rofii dalam keterangannya.
Menurutnya, peristiwa itu terjadi di tengah proses perundingan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terkait isu nuklir. Namun di saat diplomasi berlangsung, justru terjadi serangan yang disebutnya tidak mencerminkan sikap sportif dalam perundingan internasional.
“Di saat perundingan tentang nuklir berjalan, ternyata Israel dan Amerika tidak sportif. Mereka justru melakukan serangan. Kami mengutuk keras apa yang dilakukan oleh Israel dan Amerika,” tegasnya.
Gus Rofii menilai respons Iran yang melakukan serangan balasan sebagai sesuatu yang wajar dalam konteks menjaga kehormatan dan membalas serangan yang terjadi lebih dahulu. Ia berpandangan bahwa tindakan tersebut merupakan konsekuensi dari eskalasi yang dipicu oleh serangan awal.
Lebih lanjut, Gus Rofii juga menyinggung soal pembentukan BOP (Board of Peace) yang menurutnya mengusung misi perdamaian. Ia mempertanyakan konsistensi komitmen perdamaian jika di saat bersamaan masih terjadi serangan militer.
“Kalau Donald Trump membentuk BOP yang misinya perdamaian, menurut saya itu omong kosong. Tidak sesuai antara ucapan dan tindakan. Fakta di lapangan justru menunjukkan konflik makin melebar,” ujarnya.
Ia mengaku sejak awal telah menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut. Menurutnya, Indonesia perlu berhati-hati dalam menentukan posisi geopolitik, terutama jika forum yang diikuti dinilai tidak sejalan dengan prinsip keadilan dan perdamaian yang konsisten.
“Saya dari awal ketika Presiden bergabung dengan BOP, termasuk yang paling keras menyuarakan agar Indonesia tidak ikut serta. Kita harus waspada terhadap gerakan yang berpotensi mengadu domba antarumat, khususnya di dunia Islam,” katanya.
Gus Rofii juga menilai wafatnya ulama yang disebut sebagai cucu Rasulullah itu berpotensi memperpanjang konflik. Ia memperkirakan situasi akan terus memanas dan memicu aksi saling serang di kawasan Timur Tengah.
“Ini bisa berkepanjangan. Apalagi yang wafat adalah seorang ulama dan disebut sebagai cucu Rasulullah. Dampaknya tentu besar secara emosional dan politik,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Rofii turut menyampaikan pesan kepada Presiden Republik Indonesia agar mengambil sikap tegas. Ia meminta Presiden menyampaikan secara terbuka belasungkawa atas wafatnya ulama tersebut, serta mengevaluasi keanggotaan Indonesia dalam BOP.
“Saya mohon dengan hormat kepada Bapak Presiden, minimal sampaikan belasungkawa atas wafatnya duriah Rasulullah tersebut. Kedua, berani ambil sikap untuk keluar dari BOP jika memang ada penyimpangan yang tidak sesuai dengan tujuan awal pembentukannya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti isu iuran keanggotaan yang disebut mencapai angka Rp17 triliun. Menurutnya, angka tersebut perlu dikaji secara transparan dan rasional dalam konteks kepentingan nasional.
“Kalau sampai membayar iuran sebesar itu, tentu harus dipertimbangkan secara matang. Semua harus berpihak pada kepentingan rakyat dan bangsa,” tambahnya.
Gus Rofii menutup pernyataannya dengan kembali menegaskan sikap BKN yang mengutuk keras serangan yang terjadi di tengah proses perundingan. Ia berharap para pemimpin negara, khususnya di negara mayoritas Muslim, lebih waspada terhadap dinamika geopolitik global yang dinilainya sarat kepentingan.
“Kami berharap para pemimpin negeri, khususnya yang mayoritas Muslim, waspada terhadap gerakan yang berpotensi memecah belah. Indonesia harus berdiri pada prinsip keadilan dan perdamaian yang sejati,” pungkasnya.***

Share this content: