Loading Now

Akupuntur Bukan Solusi Utama Diet, Dr. Rudy Wenarta Tekankan Pola Makan dan Aktivitas

Jakarta – Metode akupuntur kerap menjadi pilihan sebagian orang untuk membantu menurunkan berat badan. Namun, Dr Rudy Wenarta menegaskan bahwa akupuntur bukanlah terapi utama dalam program penurunan berat badan, melainkan hanya sebagai terapi pendukung.

Menurutnya, prinsip dasar penurunan berat badan tetap bergantung pada keseimbangan antara asupan dan pengeluaran kalori. “Intinya sederhana, input yang masuk harus lebih kecil daripada output yang keluar. Makanan yang dikonsumsi harus lebih sedikit dibandingkan energi yang dibakar,” jelasnya.

Dr. Rudy menyebutkan bahwa kontribusi terbesar dalam penurunan berat badan berasal dari pola makan. Ia memperkirakan sekitar 70–80 persen keberhasilan diet ditentukan oleh kontrol asupan makanan, sementara sisanya dipengaruhi oleh aktivitas fisik.

Akupuntur, lanjutnya, berperan membantu mengontrol nafsu makan serta memperbaiki metabolisme tubuh secara ringan. Selain itu, terapi ini juga dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur, yang kerap menjadi faktor pemicu kenaikan berat badan.

“Banyak pasien yang mengalami kenaikan berat badan karena stres atau kurang tidur. Akupuntur bisa membantu relaksasi, membuat tidur lebih baik, dan secara tidak langsung membantu mengontrol berat badan,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa akupuntur tidak bisa dijadikan satu-satunya metode. Program penurunan berat badan ideal tetap harus mengutamakan pengaturan pola makan dan diikuti aktivitas fisik, seperti olahraga ringan.

Bagi pasien dengan kondisi tertentu seperti penyakit jantung atau hipertensi yang tidak bisa melakukan olahraga berat, Dr. Rudy menyarankan aktivitas sederhana seperti jalan santai selama 20–30 menit setiap hari. Aktivitas ini dinilai cukup membantu membakar kalori tanpa membebani tubuh.

Dalam praktiknya, akupuntur dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti diet, olahraga, hingga terapi medis tertentu agar hasilnya lebih optimal. Untuk program rutin, ia menyarankan akupuntur dilakukan 2–3 kali dalam seminggu, atau cukup sekali seminggu jika dikombinasikan dengan terapi lain.

Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya memahami indeks massa tubuh (BMI) sebagai acuan. Rentang BMI normal berada di angka 18 hingga 23,9. Di atas itu masuk kategori kelebihan berat badan hingga obesitas yang berisiko menimbulkan komplikasi kesehatan.

Terkait cara kerja akupuntur, Dr. Rudy menjelaskan bahwa terapi ini dilakukan dengan menstimulasi titik-titik tertentu pada tubuh yang berkaitan dengan organ seperti lambung, hati, ginjal, dan limpa. Tujuannya adalah menyeimbangkan fungsi organ sehingga nafsu makan lebih terkontrol dan metabolisme menjadi lebih baik.

Namun, untuk mengurangi lemak visceral yang berbahaya, ia menegaskan bahwa kunci utamanya tetap pada pengurangan asupan kalori. “Kalau makan dikontrol, lemak pasti turun. Akupuntur hanya membantu dari sisi metabolisme,” katanya.

Dengan demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak bergantung sepenuhnya pada satu metode. Kombinasi pola makan sehat, aktivitas fisik, dan terapi pendukung seperti akupuntur dinilai menjadi kunci utama dalam mencapai berat badan ideal.

Share this content: