Loading Now

dr. Mintarsih A. Latief Soroti Tekanan terhadap Dokter: Jangan Asal Menghakimi Sebelum Fakta Jelas

Jakarta – Psikiater dr. Mintarsih A. Latief, Sp.KJ, menyoroti fenomena tekanan dan intimidasi yang belakangan dialami sejumlah tenaga medis, termasuk kasus yang menimpa dokter Ica. Menurutnya, setiap persoalan medis harus dinilai berdasarkan fakta dan kajian ilmiah, bukan langsung direspons dengan tekanan atau penghakiman.

Dalam keterangannya, dr. Mintarsih menilai penting untuk memahami duduk perkara secara utuh sebelum menyimpulkan bahwa seorang dokter telah melakukan kesalahan. Ia menegaskan bahwa tindakan medis selalu mempertimbangkan manfaat dan risiko bagi pasien.

“Yang harus dilihat terlebih dahulu adalah apakah dokter tersebut melakukan kesalahan atau tidak. Jangan otomatis melakukan penekanan. Setelah dianalisis, dalam kasus dokter Ica justru dinilai tidak melakukan kesalahan dan tindakannya sudah sesuai pertimbangan medis,” ujar dr. Mintarsih.

Menurutnya, dalam kasus pasien yang mengalami keracunan ular misalnya, keputusan pemberian serum tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dokter harus mempertimbangkan kondisi pasien serta kemungkinan dampak positif dan negatif dari tindakan yang akan diberikan.

Karena itu, ia mempertanyakan munculnya tekanan yang terus diarahkan kepada tenaga medis meski hasil evaluasi menunjukkan tindakan yang dilakukan sudah sesuai prosedur.

“Kalau memang sudah benar, mengapa masih ditekan? Ini yang menjadi persoalan. Jangan sampai ada pihak yang belum memahami persoalan secara utuh tetapi kemudian memberikan tekanan berlebihan,” katanya.

Tekanan Berlebih Bisa Berdampak Buruk

dr. Mintarsih menilai tekanan yang berlebihan terhadap tenaga medis dapat menciptakan preseden yang tidak sehat. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat dokter merasa harus mengikuti tekanan pihak tertentu daripada berpegang pada pertimbangan profesional dan ilmiah.

Ia mengingatkan bahwa keputusan medis seharusnya didasarkan pada keahlian dan standar profesi, bukan karena adanya tekanan dari pihak luar.
“Kalau dokter akhirnya mengikuti tekanan, lalu keputusan yang diambil ternyata tidak tepat, siapa yang akan bertanggung jawab? Ini yang harus dipikirkan bersama,” ujarnya.

Tidak Semua Dokter Harus Dibekali Cara Melawan Tekanan

Saat ditanya mengenai perlunya dokter dibekali kemampuan khusus untuk menghadapi tekanan atau perundungan, dr. Mintarsih menilai hal tersebut perlu dilihat secara proporsional.

Menurutnya, fokus utama pendidikan dokter tetap pada penguasaan ilmu kedokteran. Meski demikian, ia mengakui pentingnya kemampuan komunikasi dan keberanian untuk menyampaikan pendapat profesional secara tepat.

“Kalau terlalu banyak pelajaran tambahan, waktu untuk mempelajari ilmu kedokteran bisa berkurang. Yang penting adalah keseimbangan. Namun kita juga tidak boleh membiarkan orang bertindak semena-mena terhadap profesi dokter,” katanya.

Bullying Kerap Membuat Korban Memilih Diam

Lebih lanjut, dr. Mintarsih menjelaskan bahwa banyak korban perundungan atau bullying memilih untuk diam karena merasa proses pelaporan sering kali tidak memberikan hasil yang sepadan dengan energi dan biaya yang dikeluarkan.

Ia menggambarkan adanya anggapan di masyarakat bahwa melapor justru bisa menimbulkan masalah baru yang lebih besar.

“Banyak orang berpikir, kalau melapor justru akan menambah beban. Sudah menghabiskan tenaga, waktu, bahkan biaya, tetapi belum tentu mendapatkan hasil yang diharapkan. Akibatnya banyak korban memilih memendam apa yang dialaminya,” jelasnya.

Dampak Psikologis dan Profesional

Sebagai psikiater, dr. Mintarsih menilai perundungan yang terjadi di lingkungan profesi dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental maupun kualitas pelayanan yang diberikan.

Ia mencontohkan sebuah kasus yang pernah terjadi di Jawa Tengah, ketika seorang dokter yang dikenal berprestasi mengalami persoalan hukum akibat kesalahan dalam situasi darurat. Menurutnya, peristiwa tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan tenaga medis.

“Ketika tenaga medis merasa takut atau tertekan, mereka bisa menjadi lebih defensif dalam mengambil keputusan. Padahal belum tentu tindakan yang paling aman itu adalah tindakan yang paling baik bagi pasien,” ujarnya.

dr. Mintarsih menambahkan, dokter pada dasarnya dilatih untuk bersikap tenang, empatik, dan fokus pada pengobatan pasien. Karakter tersebut berbeda dengan profesi lain yang terbiasa berdebat atau menghadapi dinamika politik.

“Dokter memang dididik untuk mengobati dengan tenang dan ramah. Karena itu wajar jika dalam menghadapi tekanan, pendekatan mereka berbeda dibandingkan profesi yang sehari-hari terbiasa berdebat atau berhadapan dengan konflik,” pungkasnya.

Share this content: