Loading Now

Ibnu Riyanto Padukan Empat Budaya dalam Koleksi Batik Trusmi, Gandeng Muse Disabilitas untuk Tembus Pasar Dunia

Jakarta – Pendiri Batik Trusmi, Ibnu Riyanto, memperkenalkan koleksi terbaru yang mengusung konsep “Bikin Batik Beda” dengan memadukan empat budaya dunia dalam satu rancangan. Melalui koleksi ini, Batik Trusmi ingin menghadirkan batik yang lebih kasual, modern, sekaligus mampu bersaing di industri fesyen internasional.

Menurut Ibnu, selama ini batik identik dengan busana formal. Karena itu, Batik Trusmi berupaya menghadirkan inovasi agar batik dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat.

“Kami ingin membuat batik yang berbeda. Biasanya batik identik dengan pakaian formal, sekarang kami ingin membuatnya lebih kasual sehingga bisa dipakai lebih luas,” ujar Ibnu.

Koleksi terbaru Batik Trusmi memadukan empat unsur budaya, yakni Tiongkok, Jepang, Indonesia melalui motif khas Megamendung Cirebon, serta sentuhan gaya jeans yang terinspirasi dari Amerika Serikat.

Untuk unsur Jepang, Ibnu menjelaskan pihaknya mengadaptasi teknik jahitan tradisional Sashiko yang dikenal dengan karakter detail, rapi, dan presisi.

“Kenapa Jepang? Karena Jepang identik dengan ketelitian dan detail. Nilai itu ingin kami hadirkan dalam kualitas setiap produk Batik Trusmi,” jelasnya.

Ibnu mengatakan perpaduan empat budaya tersebut merupakan bagian dari visi besar Batik Trusmi untuk membawa batik Indonesia semakin dikenal di dunia.

“Visi kami adalah membatik dunia. Kami ingin batik bukan hanya dikenal di Indonesia, tetapi benar-benar diterima secara global,” katanya.

Dalam peluncuran koleksi tersebut, Batik Trusmi juga menggandeng Ali Amran Al Afif sebagai muse. Tak hanya itu, sejumlah penyandang disabilitas turut dilibatkan sebagai model dalam sesi pemotretan koleksi terbaru.

Ali Amran menjelaskan langkah tersebut merupakan bentuk komitmen Batik Trusmi terhadap inklusivitas di dunia fesyen.

“Kami ingin menunjukkan bahwa teman-teman disabilitas juga bisa tampil keren, percaya diri, dan tetap fashionable. Karena itu kami melibatkan mereka sebagai muse dan model dalam koleksi ini,” ujar Ali Amran.

Ibnu berharap langkah tersebut dapat memberikan pesan bahwa fesyen merupakan ruang yang terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang keterbatasan fisik.

Selain menghadirkan inovasi desain, Batik Trusmi juga menargetkan pasar internasional. Setelah tampil dalam ajang peragaan busana di Jakarta, Ibnu berharap tahun depan koleksinya dapat dipresentasikan di kota-kota mode dunia seperti Paris atau London.

“Doakan saja, semoga tahun depan kami bisa menggelar presentasi koleksi di luar negeri, mungkin di Paris atau London,” ucapnya.

Ia optimistis batik Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi tren global. Ibnu bahkan menyinggung momen ketika mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, mengenakan batik saat berkunjung ke Indonesia pada era 1990-an yang dinilainya berhasil menarik perhatian masyarakat dunia.

“Harapan kami, ke depan semakin banyak kepala negara dan tamu asing yang mengenakan batik sehingga batik semakin mendunia,” katanya.

Menurut Ibnu, industri batik memiliki dampak ekonomi yang besar karena satu lembar kain batik mampu menghidupi banyak perajin.

“Satu kain batik bisa mempekerjakan banyak orang. Dampaknya sangat besar bagi ekonomi dan industri kreatif Indonesia,” ujarnya.

Koleksi terbaru Batik Trusmi dipasarkan sebagai lini luksuri (luxury) dengan harga sekitar Rp3,5 juta per potong. Meski demikian, Ibnu menilai harga tersebut masih sebanding dengan proses produksi batik yang rumit, dikerjakan secara teliti, dan memiliki nilai seni tinggi.

Ibnu juga mengenang perjalanan membangun Batik Trusmi yang dimulai sejak 2006 dengan modal sekitar Rp17 juta. Momentum pengakuan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada 2009, menurutnya, menjadi titik balik yang membuat industri batik berkembang pesat.

Berbekal pengalaman tersebut, Batik Trusmi kini terus berinovasi agar batik tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk fashion yang mampu bersaing dengan merek-merek internasional.

“Kami ingin batik bisa menjadi kebanggaan Indonesia sekaligus mampu bersaing dengan brand dunia. Batik dibuat melalui proses yang sangat rumit dan penuh detail, sehingga sudah saatnya memiliki nilai yang setara di pasar global,” pungkas Ibnu.

Share this content: