Dr. Frengky Ungkap Risiko Abu Vulkanik bagi Kesehatan: Bukan Sekadar Debu, Ada Partikel Halus dan Gas Berbahaya
Jakarta — Abu vulkanik tidak boleh dianggap remeh. Selain dapat mengiritasi mata, kulit, dan saluran pernapasan, partikel halus serta kandungan gas tertentu dari aktivitas erupsi juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan.
Praktisi kesehatan Dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med., mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap abu vulkanik hanya sebagai debu biasa yang cukup dibersihkan setelah erupsi gunung terjadi.
Menurutnya, dampak paparan abu vulkanik dalam jangka panjang hingga saat ini masih terus diteliti. Ia mengatakan, sejumlah penelitian menunjukkan adanya kemungkinan kondisi membaik setelah paparan dihentikan, tetapi untuk memastikan apakah dampaknya dapat menetap selamanya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
“Kalau dia menetap sampai sekarang, penelitiannya masih dalam penelitian. Kalau dia kemudian membaik, ya itu penelitiannya jelas ada. Tapi kalau untuk menetap selamanya itu masih dalam penelitian,” ujar Dr. Frengky.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa paparan abu vulkanik dapat memperburuk kondisi kesehatan, khususnya apabila masyarakat tidak melakukan perlindungan dan terus terpapar.
“Kalau untuk memperburuk, jelas pasti. Aku percaya,” katanya.
Empat Langkah Menghadapi Abu Vulkanik
Dr. Frengky menyarankan masyarakat mengingat beberapa langkah sederhana ketika terjadi hujan abu akibat erupsi.
Pertama, masyarakat diminta berada di dalam ruangan. Jika memungkinkan, pintu dan jendela ditutup untuk mengurangi masuknya partikel abu ke dalam rumah. Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dihindari apabila tidak benar-benar diperlukan.
Kedua, masyarakat dianjurkan menggunakan respirator atau masker yang memadai. Ia menyebut respirator N95 sebagai salah satu jenis yang direkomendasikan oleh CDC untuk menyaring partikulat.
“Jangan lupa respirator yang baik. Masker yang dianjurkan oleh CDC itu N95. Dengan N95 dia bisa menyaring partikular,” jelasnya.
Selain masker, perlindungan terhadap mata juga perlu diperhatikan. Masyarakat dapat menggunakan kacamata untuk membantu mengurangi paparan partikel abu terhadap mata.
“Kalau bisa, untuk mata itu pakai kacamata,” katanya.
Jangan Membersihkan Abu dengan Cara yang Membuatnya Terbang Lagi
Hal lain yang sering luput diperhatikan masyarakat adalah cara membersihkan abu vulkanik.
Dr. Frengky mengingatkan agar abu yang sudah mengendap tidak langsung disapu atau dibersihkan dengan cara yang membuatnya kembali beterbangan.
“Begitu abu itu sudah turun, jangan diterbangkan lagi kemudian udara lagi tertiup masuk ke paru-paru,” ujarnya.
Ia menyarankan masyarakat terlebih dahulu menggunakan perlindungan diri, seperti masker dan kacamata, sebelum melakukan pembersihan.
Abu juga sebaiknya dibasahi terlebih dahulu. Namun, pembasahan tidak dianjurkan dilakukan dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi karena justru dapat membuat sebagian abu kembali beterbangan.
“Kalau mau bersihin abu kan itu dibasahin dulu. Nah, dibasahin itu jangan disemprot langsung pakai air yang kencang. Karena kalau disemprot kencang, abunya sebagian terbang lagi,” jelasnya.
Menurut dia, penggunaan air dengan tekanan rendah dapat membuat abu menjadi lembap sehingga lebih mudah dikumpulkan secara perlahan dan tidak kembali menjadi partikulat di udara.
Ikuti Informasi dan Arahan Pemerintah
Selain perlindungan pribadi, masyarakat juga diminta mengikuti informasi serta arahan pemerintah ketika terjadi erupsi.
Jika pemerintah meminta masyarakat melakukan evakuasi, Dr. Frengky menekankan agar instruksi tersebut diikuti.
“Kalau pemerintah bilang evakuasi, ya ikut evakuasi,” tegasnya.
Sementara bagi masyarakat yang mengalami gejala ringan seperti iritasi atau batuk ringan, langkah awal yang dapat dilakukan adalah menghindari sumber paparan dan mencari tempat yang udaranya lebih bersih.
Namun, apabila gejala berkembang menjadi lebih serius, masyarakat disarankan segera mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan yang memadai.
“Kalau sudah mulai sesak napas, kemudian sudah penuh kesadaran, sudah merah, iritasi, itu harus ke fasilitas kesehatan yang memadai,” katanya.
Air Purifier Bisa Membantu, tetapi Tergantung Kemampuannya
Mengenai penggunaan air purifier, Dr. Frengky mengatakan alat tersebut dapat membantu mengurangi paparan partikulat di dalam ruangan. Namun, efektivitasnya bergantung pada kemampuan penyaringan masing-masing perangkat.
Menurutnya, terdapat berbagai jenis dan merek air purifier dengan kemampuan menyaring partikel yang berbeda-beda. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kemampuan filter serta luas ruangan yang dapat dijangkau perangkat.
“Kalau ditanya bisa membantu, bisa. Tergantung brand-nya sama, jangkauan ruangannya sama, dia punya kekuatannya itu berapa, penyaringannya berapa partikel atau berapa besar yang bisa disaring,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak semua perangkat mampu menyaring partikel dengan ukuran yang sama. Ada alat yang efektif terhadap debu tertentu, tetapi belum tentu mampu menyaring partikel yang berukuran sangat kecil.
Abu Vulkanik Bukan Hanya Abu
Dr. Frengky juga mengingatkan masyarakat bahwa aktivitas erupsi tidak hanya menghasilkan abu. Material vulkanik dapat disertai berbagai gas yang berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan.
“Erupsi itu bukan hanya abu,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah gas yang dapat muncul dalam aktivitas vulkanik, antara lain SO₂, CO₂, H₂S, dan HCl.
Menurutnya, partikel halus yang masuk ke paru-paru tentu dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan. Karena itu, masyarakat perlu tetap menjaga diri dan mengurangi paparan selama kondisi udara belum aman.
“Kalau abu masuk ke paru-paru dengan partikel halusnya, pasti berpengaruh,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan perlindungan mata dan kulit. Paparan partikel dapat menyebabkan iritasi, terutama bagi orang yang memiliki kulit sensitif.
Jika kulit terkena abu dan mengalami iritasi, masyarakat tidak disarankan langsung menggaruk atau menggosok bagian tersebut. Sebaiknya area yang terkena dibersihkan menggunakan air bersih.
Perhatikan Makanan dan Air yang Terpapar Abu
Perlindungan juga perlu dilakukan terhadap makanan dan air yang berpotensi terkena abu vulkanik.
Dr. Frengky mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan mengonsumsi makanan atau menggunakan air yang telah terpapar abu tanpa memastikan kebersihannya.
“Makanan, air itu kalau sudah terpapar, jangan sembarang. Mesti dibersihkan dengan air yang setidaknya bersih,” ujarnya.
Tidak Ada Obat Preventif Khusus untuk Mencegah Dampak Abu
Ketika ditanya mengenai obat yang dapat dikonsumsi untuk mencegah dampak abu vulkanik, Dr. Frengky menjelaskan bahwa penanganan pada dasarnya bersifat simptomatik, yaitu disesuaikan dengan gejala yang muncul.
Ia mencontohkan, apabila mata mengalami iritasi, penanganannya disesuaikan dengan kondisi mata. Begitu pula dengan gangguan pada saluran pernapasan atau gejala lainnya.
“Kalau obat itu kan simptomatik, sakitnya apa, obatnya apa, dikasih obat apa. Jadi bukan obat yang diminum preventif untuk mengurangi dampak atau mencegah dampak dari abu vulkanik,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan obat tidak menggantikan langkah utama berupa menghindari sumber paparan. Jika sumber paparan masih ada, penggunaan obat tidak otomatis mencegah partikel abu masuk ke tubuh.
Mengapa Abu Vulkanik Bisa Baik untuk Tanah tetapi Berisiko bagi Manusia?
Di sisi lain, Dr. Frengky menjelaskan bahwa abu vulkanik yang berisiko bagi manusia dapat memberikan manfaat bagi tanah dalam kondisi tertentu.
Material dari gunung api dapat membawa berbagai mineral dan nutrisi yang kemudian berkontribusi terhadap kesuburan tanah. Karena itu, wilayah di sekitar gunung api dalam jangka tertentu dapat memiliki tanah yang subur.
Namun, menurutnya, manfaat bagi tumbuhan tidak dapat disamakan begitu saja dengan dampaknya terhadap manusia.
Ia menggunakan analogi mengenai kebutuhan manusia dan tumbuhan yang berbeda. Manusia membutuhkan oksigen untuk bernapas, sementara tumbuhan dalam proses fotosintesis menggunakan karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.
“Kenapa buat tumbuhan ternyata baik, buat manusia kurang baik? Analognya seperti itu. Semua itu bisa disamakan, soalnya memang kebutuhannya beda-beda,” jelasnya.
Menurut Dr. Frengky, alam memiliki sistem dan prosesnya masing-masing. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan atau tanaman tidak selalu berarti aman bagi manusia ketika terpapar secara langsung.
Masyarakat Diminta Tidak Menganggap Remeh Hujan Abu
Pada akhirnya, Dr. Frengky kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ringan paparan abu vulkanik.
Langkah paling penting adalah mengurangi sumber paparan, tetap berada di dalam ruangan ketika kondisi udara tidak aman, menggunakan perlindungan seperti respirator dan kacamata, membersihkan abu dengan cara yang tidak membuatnya kembali beterbangan, serta mengikuti arahan pemerintah.
“Yang paling penting ini, ingatnya gini aja: abu itu bukan… ingatnya erupsi itu bukan hanya abu,” pungkasnya.
Share this content:


