Loading Now

Dampak Serius Penyalahgunaan Tramadol, Dr. Frengky Sebut Bahaya Ketergantungan hingga Kriminalitas

Jakarta – Fenomena penyalahgunaan obat-obatan seperti tramadol yang belakangan viral di media sosial menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk DPR. Menanggapi hal tersebut, dr. Frengky, Dip.Cib., Cid., Cos.Med, mengingatkan bahwa penggunaan obat keras tanpa pengawasan dokter dapat menimbulkan dampak berbahaya, baik secara fisik maupun mental.

Menurut dr. Frengky, obat seperti tramadol sebenarnya bukanlah obat yang berbahaya jika digunakan sesuai indikasi medis. Obat ini umumnya digunakan sebagai analgesik atau pereda nyeri, bahkan dalam beberapa kasus dapat membantu gangguan seperti insomnia atau depresi, namun harus dengan resep dan pengawasan dokter.

“Obat-obatan ini bermanfaat jika digunakan dengan benar, ada indikasi jelas, serta dalam pengawasan dokter. Yang jadi masalah adalah ketika digunakan sembarangan, tanpa dosis yang tepat, dan dalam jangka panjang,” jelasnya.

Ia menerangkan, tramadol bekerja pada sistem saraf pusat yang dapat menimbulkan efek euforia ringan. Efek ini yang kerap membuat sebagian orang merasa “lebih nyaman” dan akhirnya menyalahgunakan obat tersebut.

“Awalnya mungkin dipakai untuk menghilangkan rasa sakit, tapi lama-lama tubuh jadi terbiasa. Ketika tidak digunakan, justru badan terasa lemah dan tidak nyaman,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr. Frengky menjelaskan sejumlah efek samping serius yang bisa muncul akibat penyalahgunaan obat tersebut. Di antaranya adalah meningkatnya toleransi (kebutuhan dosis yang semakin tinggi), ketergantungan (dependensi), hingga gejala putus obat (withdrawal) seperti tremor, gelisah, dan sulit tidur.

“Untuk tramadol sendiri, dalam kondisi tertentu juga bisa memicu kejang. Selain itu, fungsi hati bisa terganggu karena organ tersebut bekerja untuk detoksifikasi. Dampaknya juga ke otak, seperti penurunan fungsi kognitif, lambat berpikir, hingga mudah lupa,” tambahnya.

Tak hanya berdampak pada kesehatan, penyalahgunaan obat juga berpotensi memicu tindakan kriminal. Hal ini berkaitan dengan kondisi ketergantungan yang membuat pengguna berusaha mendapatkan obat dengan cara apa pun.

“Ketika sudah ketergantungan, orang akan berusaha mendapatkan obat itu, bahkan jika tidak punya uang. Ini bisa mendorong tindakan negatif atau kriminal,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan individu dalam menghadapi masalah atau yang dikenal dengan coping mechanism. Menurutnya, banyak anak muda yang memilih cara instan dan negatif, seperti menggunakan obat-obatan, untuk mengatasi tekanan hidup.

“Coping mechanism itu ada yang positif, seperti olahraga, curhat, atau kegiatan spiritual. Tapi kalau yang dipilih adalah cara negatif seperti obat-obatan, itu justru memperparah kondisi,” jelasnya.

Dr. Frengky menegaskan bahwa ketergantungan tidak bisa diukur dari berapa kali seseorang mengonsumsi obat tersebut, karena setiap individu memiliki respons yang berbeda tergantung kondisi mental, lingkungan, dan masalah yang dihadapi.

Ia juga mengingatkan bahwa menghentikan penggunaan obat tidak semudah yang dibayangkan, terutama jika sudah digunakan dalam jangka panjang. Hal ini karena telah terjadi perubahan pada sistem otak, termasuk pada sistem dopamin dan kontrol diri.

“Berhenti itu bukan soal niat saja. Ada perubahan biologis di otak yang membuat seseorang sulit lepas secara tiba-tiba,” tegasnya.

Adapun ciri-ciri pengguna yang mulai mengalami dampak penyalahgunaan antara lain perubahan perilaku, sulit fokus, bicara tidak nyambung, mudah lupa, mata tidak fokus, gelisah, tremor, hingga gangguan tidur.

Menutup pernyataannya, dr. Frengky mengimbau masyarakat, khususnya anak muda, untuk lebih bijak dalam menghadapi tekanan hidup serta tidak mudah tergoda menggunakan obat-obatan tanpa pengawasan medis.

“Penanganannya harus menyeluruh, tidak hanya dari sisi medis, tapi juga psikologis dan dukungan sosial. Ini penting agar seseorang bisa benar-benar pulih,” pungkasnya.

Share this content: