Loading Now

Darius Sinathrya Bangga Anak-anak Makin Mandiri di Portugal, Akui Tetap Khawatir Meski Sudah Terbiasa

Jakarta – Darius Sinathrya berbagi cerita mengenai kehidupan putra-putranya yang kini menempuh pendidikan dan menjalani aktivitas sepak bola di Portugal. Meski harus tinggal jauh dari orang tua, Darius mengaku bersyukur karena anak-anaknya mampu beradaptasi dan belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Dalam kesempatan wawancara, Darius mengungkapkan bahwa dirinya dan sang istri, Donna Agnesia, melihat banyak perubahan positif pada anak-anak mereka sejak tinggal di luar negeri. Salah satu hal yang paling menonjol adalah kemandirian dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Kalau aku sama Dona melihat mungkin salah satu yang anak-anak belajar banget di luar adalah mandiri, tanggung jawab sama keseharian mereka sendiri,” ujar Darius.

Menurutnya, kehidupan di Portugal membuat anak-anak harus mengurus berbagai kebutuhan tanpa bergantung pada orang tua. Mulai dari mengatur jadwal, merawat rumah, hingga mengelola aktivitas sekolah dan latihan olahraga.

Darius menjelaskan bahwa saat ini anak-anaknya sudah terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Bahkan mereka telah belajar menyetir dan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), sehingga tidak lagi selalu bergantung pada orang tua untuk bepergian.

“Kalau sekarang udah mulai gede-gede, udah dijemput teman-teman, udah belajar nyetir juga, sudah punya SIM. Jadi kadang sudah pergi sendiri,” katanya.

Meski demikian, Darius mengaku rasa khawatir sebagai orang tua tentu tetap ada. Apalagi anak-anak tinggal di negara yang berbeda dan berjarak sangat jauh dari Indonesia. Namun seiring waktu, ia dan Donna mulai terbiasa dengan kondisi tersebut.

“Pasti khawatir. Cuma lama-lama mungkin karena sudah terbiasa. Kebetulan mereka tinggal di kota yang cukup aman,” ungkapnya.

Tak hanya Darius, sang putra juga menceritakan tantangan hidup mandiri di Portugal. Mereka harus membagi waktu antara sekolah, latihan sepak bola, dan mengurus kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

“Bangun pagi, harus masak, beres-beres rumah, cuci piring. Kita bagi tugas sebisanya,” ujar salah satu putranya.

Ia mengakui bahwa tinggal bertiga tanpa orang tua bukan hal yang mudah. Kelelahan setelah sekolah dan latihan terkadang memicu perbedaan pendapat hingga pertengkaran kecil di antara mereka. Namun masalah tersebut biasanya bisa diselesaikan dengan cepat.

“Kalau capek kadang bisa berantem karena ada yang merasa tugasnya belum dikerjakan. Tapi habis itu baik lagi,” tuturnya.

Di sisi lain, Darius juga menyoroti pentingnya kemampuan berbahasa bagi anak-anak yang tinggal di Portugal. Selain menggunakan bahasa Inggris, mereka juga dituntut untuk memahami bahasa Portugis agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Menurut Darius, cara terbaik untuk menguasai bahasa adalah dengan terus berlatih dan berinteraksi dengan masyarakat lokal setiap hari.

“Harus dipraktekin terus, sering dengar orang lokal bicara, nanti lama-lama terbiasa,” jelasnya.

Mengenai biaya pendidikan dan kehidupan anak-anak di luar negeri yang kerap menjadi sorotan, Darius mengaku dirinya dan Donna telah menyiapkan semuanya sejak jauh hari. Keduanya berkomitmen untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak dan berusaha mengatur keuangan keluarga dengan matang.

“Sebenarnya kita sudah plan dari jauh-jauh hari buat pendidikan anak-anak. Kita sama-sama kerja dan berusaha mengatur semuanya sebaik mungkin. Sisanya kita berserah sama Tuhan,” kata Darius.

Sebagai orang tua, Darius dan Donna juga memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk memperluas pergaulan selama berada di luar negeri. Namun komunikasi tetap menjadi hal utama agar hubungan keluarga tetap dekat meski terpisah jarak.

“Kita kasih kebebasan mereka berteman dengan sebanyak-banyaknya orang. Yang penting mereka tetap terbuka dan sering cerita sama kita. Kita ingin hubungan orang tua dan anak bisa seperti teman,” pungkasnya.

Share this content: