Dr. Frengky Soroti Prosedur dan Risiko Operasi Plastik di Tengah Tren Kecantikan
Jakarta – Praktisi estetika dr. Frengky menyoroti meningkatnya minat masyarakat terhadap operasi plastik di tengah tren kecantikan yang kian berkembang, terutama yang dipengaruhi budaya populer Korea.
Menurutnya, saat ini operasi plastik bukan lagi hal tabu. Tidak hanya kalangan artis atau publik figur, masyarakat umum pun mulai menganggap prosedur tersebut sebagai sesuatu yang lumrah.
“Sekarang hampir semua orang sudah familiar dengan operasi plastik. Apalagi tren dari Korea, K-pop, itu sangat memengaruhi standar kecantikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum seseorang menjalani operasi plastik, terdapat prosedur medis yang wajib dilalui, salah satunya adalah konsultasi dengan dokter yang berkompeten. Dalam tahap ini, pasien akan mendapatkan penjelasan menyeluruh terkait tindakan yang akan dilakukan.
Mulai dari riwayat kesehatan, tujuan operasi—apakah estetika atau fungsional—hingga detail prosedur, bahan yang digunakan, biaya, efek samping, serta kemungkinan komplikasi akan dijelaskan secara transparan.
“Semua itu dituangkan dalam informed consent. Jadi pasien berhak bertanya apa pun sampai benar-benar paham sebelum menyetujui tindakan,” jelasnya.
Dokumen informed consent tersebut menjadi dasar kesepakatan antara dokter dan pasien. Setelah pasien menyetujui dan menandatangani, maka seluruh risiko yang mungkin terjadi telah dipahami bersama.
Jika setelah operasi muncul hasil yang kurang sesuai atau komplikasi, pasien tetap akan dipantau. Dalam beberapa kasus, bisa dilakukan tindakan lanjutan atau revisi, yang mekanismenya juga sudah tercantum dalam kesepakatan awal.
“Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, biasanya dimediasi berdasarkan perjanjian tersebut. Itu jadi pegangan bagi dokter dan pasien,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Frengky menilai motivasi seseorang melakukan operasi plastik beragam. Untuk tujuan fungsional, seperti akibat kecelakaan atau gangguan medis, tindakan tersebut memang diperlukan. Namun untuk estetika, keputusan sepenuhnya berada di tangan pasien.
Ia juga menyinggung fenomena sosial yang turut mendorong tren ini, termasuk pengaruh media sosial dan pernyataan sejumlah influencer yang dinilai kurang bijak dalam mempromosikan operasi plastik.
“Ada yang bilang setelah operasi jadi lebih mudah cari uang. Narasi seperti ini bisa memicu orang, terutama yang belum matang secara mental, untuk ikut-ikutan tanpa pertimbangan matang,” katanya.
Selain itu, maraknya promosi klinik kecantikan serta banyaknya figur publik yang terbuka soal operasi plastik turut memperkuat tren tersebut di masyarakat.
dr. Frengky pun mengingatkan pentingnya edukasi dan pertimbangan matang sebelum memutuskan menjalani prosedur operasi plastik. Ia menekankan bahwa keputusan tersebut tidak boleh hanya didasari tren atau tekanan sosial semata.
“Yang terpenting adalah memahami risiko, tujuan, dan memilih dokter yang benar-benar kompeten. Jangan hanya karena ikut-ikutan,” pungkasnya.
Share this content:


