Dr. Wenny Tan Soroti Risiko Silikon Cair pada Wajah, Terutama di Kalangan Artis
Jakarta – Praktisi estetika, Dr. Wenny Tan, menyoroti maraknya kasus perbaikan wajah pada kalangan artis yang sebelumnya memiliki riwayat suntik silikon cair. Menurutnya, tren operasi plastik yang terus berkembang membuat banyak figur publik memilih melakukan revisi atau perbaikan, termasuk setelah menjalani prosedur di luar negeri seperti Korea Selatan.
Ia menjelaskan, salah satu kasus yang kerap ditemui adalah artis yang melakukan facelift atau operasi peremajaan wajah setelah sebelumnya mengalami masalah akibat silikon. “Ada yang dulu pernah gagal karena silikon, bahkan sampai harus dikeluarkan cairannya. Tapi perbaikannya tidak sesederhana itu,” ujarnya.
Dr. Wenny menegaskan bahwa silikon cair memiliki karakteristik berbeda dibandingkan bahan lain dalam dunia estetika. Silikon tidak dapat diserap oleh tubuh sehingga akan menetap di jaringan secara permanen. Seiring waktu, silikon tersebut juga bisa berpindah (migrasi) dari titik awal penyuntikan dan mengubah bentuk wajah yang diinginkan.
“Masalahnya, silikon itu sudah menyatu dengan jaringan. Jadi tidak bisa hanya disedot seperti cairan biasa. Saat dibersihkan, jaringan yang menempel juga ikut terangkat,” jelasnya.
Proses pembersihan silikon, lanjutnya, menjadi tantangan tersendiri sebelum tindakan operasi plastik dilakukan. Bahkan, dalam banyak kasus, silikon tidak bisa dihilangkan sepenuhnya karena berisiko merusak jaringan wajah. Hal ini membuat dokter harus sangat berhati-hati dalam melakukan tindakan lanjutan.
Selain itu, keberadaan silikon juga dapat mengganggu proses penyembuhan pascaoperasi. Karena dianggap sebagai benda asing oleh tubuh, silikon bisa memicu peradangan berkepanjangan hingga memperlambat pemulihan luka.
“Akibatnya, luka jadi sulit sembuh, bisa bolak-balik meradang, dan berisiko menimbulkan jaringan parut. Ini sering terjadi terutama pada area kecil seperti hidung,” tambahnya.
Dr. Wenny juga mengungkapkan bahwa tren kecantikan menjadi salah satu alasan artis melakukan perubahan pada wajah mereka. Dulu, standar kecantikan cenderung mengarah pada bentuk yang tajam dan mencolok, seperti hidung sangat tinggi atau dagu lancip. Namun kini, tren mulai bergeser ke arah tampilan yang lebih natural dan harmonis.
“Artis itu kan konsumsi publik. Mereka cenderung mengikuti tren agar tetap relevan dan disukai. Sekarang tren lebih ke wajah yang seimbang, tidak berlebihan,” katanya.
Terkait penggunaan silikon cair, ia menegaskan bahwa praktik tersebut sebenarnya sudah lama tidak diperbolehkan dalam dunia medis. Banyak kasus justru dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi medis yang memadai.
Sebagai penutup, Dr. Wenny mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih dokter dan klinik estetika. Legalitas, kompetensi dokter, serta hasil yang telah terbukti menjadi faktor penting sebelum memutuskan menjalani prosedur kecantikan.
“Jangan hanya tergiur harga atau tren. Konsultasi langsung itu penting agar tindakan yang dilakukan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien,” pungkasnya.
Share this content:


