Loading Now

Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag Ungkap Cara Mendidik Anak: Tegas, Kompak, hingga Tak Pernah Tidur dalam Kondisi Bertengkar

JAKARTA — Pasangan selebritas Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag berbagi cerita mengenai kehidupan rumah tangga sekaligus cara mereka mendidik ketiga anaknya. Keduanya mengaku memiliki gaya pengasuhan yang berbeda, namun perbedaan tersebut justru membuat mereka dapat saling melengkapi sebagai orang tua.

Salah satu hal yang mereka ceritakan adalah kebiasaan anak-anak yang terkadang saling menggigit ketika sedang bermain atau berselisih.

Jessica mengatakan, salah satu anaknya pernah mengalami gigitan hingga menangis dan bagian tubuhnya sempat membiru.

“Mereka suka gigit. Kadang-kadang memang demen gigit sih. Nah, gue tuh pernah digigit sampai kejirit-jerit nangis. Sampai biru-biru, terus yang gigit kebalas,” ujar Jessica.

Menurut Jessica dan Vincent, kejadian tersebut biasanya berlangsung secara spontan. Bahkan, terkadang mereka baru menyadari adanya gigitan setelah melihat anaknya menangis atau berlari menghampiri salah satu orang tua.

“Kadang dia cuma bilang, ‘Mama, dia gigit aku.’ Dia nangis, kejerit-kejerit, lari ke kamar atau lari ke salah satu kita. Lagi gigit pas kita lihat, sudah kebiru,” tuturnya.

Meski demikian, Jessica memahami bahwa anak yang masih kecil belum sepenuhnya mampu mengendalikan respons emosionalnya. Terlebih, usia salah satu anak mereka masih sekitar satu tahun delapan bulan.

“Dia sama sekali enggak bahaya. Jadi terjadi di depan mata kita. Cuma ya, usianya satu tahun delapan bulan. Kalau kita kasih tahu kan belum sampai. Masih proses, masih refleks,” jelas Jessica.

Vincent Verhaag Terapkan Sikap Tegas kepada Anak

Dalam hal pengasuhan, Vincent mengaku lebih mengedepankan ketegasan. Ia menilai anak perlu mengetahui batasan mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Namun, Vincent menegaskan bahwa ketegasan yang diterapkannya bukan berarti memberikan ancaman kepada anak.

“Kalau dibilang galak, itu mungkin perspektif orang. Tapi tujuan saya lebih ke tegas. Iya, iya. Enggak, enggak. Mungkin anak melihatnya sebagai ayah yang tegas atau yang galak, tapi yang penting mereka mengerti apa yang saya maksud,” kata Vincent.

Ia juga berusaha menjelaskan alasan di balik setiap aturan kepada anak-anaknya. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran agar anak memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

“Ini bukan ancaman, tapi lebih ke life learning,” ujarnya.

Vincent juga menanamkan nilai kepada anak laki-lakinya agar tidak menggunakan kekerasan terhadap perempuan.

“Pokoknya sebagai laki-laki enggak boleh kita menyakiti wanita. Dan Hagia itu wanita, sama kayak ibunya. Kita selalu menghormati dan selalu mengalah,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa penggunaan tangan untuk menyakiti orang lain merupakan tindakan yang tidak dibenarkan.

“Apalagi kalau pakai tangan, jangan. Enggak boleh. Jangan pernah,” tegas Vincent.

Jessica Pilih Komunikasi Ketimbang Marah-marah

Berbeda dengan Vincent yang lebih dikenal tegas, Jessica mengaku lebih banyak menggunakan pendekatan komunikasi. Ia berusaha menjelaskan kesalahan anak tanpa harus langsung memarahi mereka.

“Kalau buat aku, segala sesuatunya aku omongin. Aku yang pro, aku yang kontra, semuanya aku omongin,” ujar Jessica.

Jessica mengaku memang tidak suka marah-marah kepada anak. Ia justru ingin menjadikan kemarahannya sebagai sesuatu yang hanya muncul ketika masalah sudah benar-benar mencapai batas.

“Aku memang tipe yang pertama, aku malas marah-marah. Kedua, aku mau bikin kalau aku sudah marah itu berarti itu sudah puncaknya. Puncaknya, benar-benar. Sudah super-super mega emosi,” katanya.

Untuk masalah-masalah kecil, Jessica memilih memberikan pemahaman dan mengajarkan anak memperbaiki kesalahannya.

“Kalau small things, misalnya dia bikin kotor, atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, aku tetap kasih tahu. Aku ajarin untuk bersihkan. Simple things aku enggak akan marah-marah,” jelasnya.

Jessica pun menyebut pola pengasuhan yang mereka terapkan bukan semata-mata gentle parenting. Baginya, anak tetap harus mendapatkan batasan yang jelas.

“Kalau ada sesuatu yang salah, aku pasti kasih tahu, ajarin. Tapi tegasnya aku itu, kalau aku bilang iya ada penjelasannya, kalau aku bilang enggak pun harus ada penjelasannya biar anak ngerti,” ungkapnya.

Menurut Jessica, anak sebaiknya tidak hanya mengetahui bahwa sesuatu dilarang, tetapi juga memahami alasan di balik larangan tersebut.

“Bukan sekadar enggak boleh, tapi kenapa. Harus ada penjelasannya, biar dia juga jadi belajar. Oh, aku enggak boleh karena ini. Nah, jawabannya dia tahu sendiri nanti,” sambungnya.

Jessica dan Vincent Bagi Peran dalam Mengasuh Anak

Jessica dan Vincent juga mengaku memiliki pembagian peran dalam menghadapi anak-anak. Keduanya menyebut pola tersebut seperti “good cop dan bad cop”, meski bukan berarti salah satu selalu menjadi pihak yang keras.

“Kalau di kita, good cop bad cop. Jadi tidak ada perannya masing-masing. Kalau itu terjadi, pasti aku lari ke dia, ‘Ayang, ini tadi gini, gini, gini.’ Nanti kalau anaknya lari ke dia, dia sudah tahu,” tutur Jessica.

Jessica mengatakan dirinya cenderung lebih mudah memberikan izin. Namun, ketika merasa sesuatu sudah tidak bisa diberikan, ia akan menyerahkan keputusan kepada Vincent.

“Kalau minta izin mungkin lebih ke aku. Aku lebih oke-oke biasanya. Tapi kalau misalkan aku pikir, ‘Oh, sudah enggak bisa nih,’ aku langsung lempar ke papanya. ‘Coba tanya Papa.’ Kalau Papa sudah tersenyum, jawabannya no,” katanya sambil bercanda.

Bagi mereka, pembagian peran tersebut justru membuat anak memahami bahwa kedua orang tuanya memiliki aturan yang harus dihormati.

Konsekuensi Diterapkan kepada Anak yang Lebih Besar

Untuk anak yang sudah lebih besar, Jessica dan Vincent mulai menerapkan konsep konsekuensi. Vincent memberikan contoh mengenai aturan penggunaan gadget.

“Kalau sama El sudah, kan dia sudah masuk usia 12, jadi dia itu ada yang namanya konsekuensi. Kalau dia melakukan sesuatu yang dia sudah tahu enggak boleh, ada yang namanya time out,” jelas Vincent.

Ia mencontohkan ketika anak mendapatkan jatah waktu menggunakan gadget selama tiga jam, tetapi ternyata hanya digunakan dengan baik selama satu jam.

“Contoh hal yang paling kecil, kalau kita kasih tahu, ‘El, hari Jumat gadget time tiga jam ya.’ Kalau akhirnya cuma bisa satu jam karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan, konsekuensinya mungkin di hari Sabtu,” lanjutnya.

Menurut Vincent, aturan tersebut bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti anak, melainkan mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Tak Ingin Anak Takut untuk Terbuka

Jessica dan Vincent juga sepakat bahwa keseimbangan dalam pola asuh sangat penting. Menurut mereka, jika kedua orang tua terlalu lembut, anak bisa kehilangan rasa segan. Namun, jika keduanya terlalu keras, anak justru bisa takut untuk terbuka.

“Menurut aku, di dalam rumah tangga ada satu yang soft, ada satu yang lebih tegas. Karena kalau dua-duanya soft, nanti repot. Anak jadi enggak punya rasa tegas sama orang tua,” ujar Jessica.

“Kalau ada satu yang tegas, ada satu yang disegani. Tapi kalau dua-duanya keras, itu bahaya juga. Anak enggak dapat tempat sharing. Anak jadi takut untuk membuka dirinya,” sambungnya.

Karena itu, mereka berusaha menjaga keseimbangan agar anak tetap memiliki rasa hormat sekaligus merasa aman untuk bercerita kepada kedua orang tuanya.

Sempat Berbeda Pendapat di Depan Anak

Dalam kehidupan rumah tangga, Jessica dan Vincent mengakui bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Mereka pun terkadang memiliki pandangan berbeda ketika menghadapi anak.

Namun, keduanya berusaha tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai konflik berkepanjangan di depan anak.

Jessica mengatakan, ketika mereka berbeda pendapat, terkadang salah satu pihak memilih mengalah.

“Kalau aku bisa, aku kasih kode. Kalau dia bilang enggak, aku bilang iya, terus aku bilang enggak. Atau dia bilang iya, ya di situ aku langsung pelintir saja,” ujarnya.

Ia mencontohkan bagaimana mereka tetap menunjukkan kekompakan kepada anak.

“Oh, Mama sudah bilang iya? Ya sudah deh. Ini hari Mama, go, silakan. Jadi mereka tahu, ‘Yes, hari ini Papa dengar Mama,'” lanjut Jessica.

Jessica Sebut Menemukan Pasangan yang Tepat Membuat Rumah Tangga Lebih Mudah

Jessica kemudian berbicara mengenai hubungannya dengan Vincent. Menurutnya, pengalaman menjalani rumah tangga membuatnya percaya bahwa ketika seseorang menemukan pasangan yang tepat, berbagai persoalan dapat terasa lebih mudah dijalani.

“Aku tuh melihat suami aku berdasarkan pengalaman yang sudah aku jalani. Aku merasa ketika kita menemukan soulmate kita, sesuatu itu jadi merasa lebih mudah, lebih enak. Beda,” kata Jessica.

Ia mengatakan ada keyakinan dan rasa percaya ketika seseorang sudah merasa menemukan pasangan yang tepat.

“Kayak ada keyakinan di situ, ada rasa percaya bahwa he’s the one, I’m the one for him,” tuturnya.

Jessica pun berharap setiap orang dapat menemukan pasangan yang tepat dalam hidupnya.

“Jadi ketika kamu sudah ketemu jodohmu, ketemu soulmate-mu, segala sesuatunya akan lebih mudah dan jalannya akan lebih mudah. Jadi berdoa saja, semoga pasangan kita adalah soulmate yang mudah,” ungkapnya.

Jika Bertengkar, Tak Boleh Dibawa Tidur

Meski dikenal harmonis, Jessica dan Vincent mengakui bahwa mereka tetap pernah mengalami perbedaan pendapat atau pertengkaran kecil dalam rumah tangga.

Namun, mereka memiliki aturan untuk segera mencari solusi dan tidak membiarkan masalah berlarut-larut.

“Ada, cuma kita punya pengaturan. Kalau kita ngomongnya ribut, kita harus cari solusi,” ujar Vincent.

Ia menegaskan bahwa mereka berusaha menyelesaikan persoalan sebelum tidur.

“Dan sebelum kita tidur, kita harus baikan. Besok kita bangun, everything is okay,” katanya.

Bagi Jessica dan Vincent, menjalani rumah tangga sekaligus membesarkan tiga anak merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Mereka memilih menikmati setiap fase pertumbuhan anak sembari terus menyesuaikan cara mendidik sesuai usia dan kebutuhan masing-masing.

Menurut mereka, masa anak-anak akan berlalu dengan cepat. Karena itu, keduanya ingin memanfaatkan waktu tersebut untuk membangun hubungan yang dekat dengan anak, sekaligus memberikan bekal agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memahami batasan, konsekuensi, dan pentingnya saling menghormati.

Share this content: