Loading Now

Putra Siregar Soroti Kasus Ayah Tewas Diduga Dipukuli Massa: Tak Ada Pembenaran Mencuri, Tapi Nyawa Tetap Harus Dihargai

Jakarta – Pengusaha sekaligus publik figur Putra Siregar ikut angkat bicara mengenai kasus tewasnya seorang pria yang diduga menjadi korban aksi main hakim sendiri usai tertangkap mencuri. Menurutnya, kasus tersebut menjadi perhatian publik karena memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat.

Putra mengatakan bahwa tindakan pencurian memang tidak dapat dibenarkan. Namun, ia juga menilai menghilangkan nyawa seseorang bukanlah solusi yang tepat, terlebih korban meninggalkan seorang istri dan anak yang masih kecil.

“Ini memang jadi isu nasional karena ramai sekali. Memang ada pro dan kontra. Kalau mencuri tentu tidak ada pembenarannya, tapi ini sampai menghilangkan nyawa. Korban juga meninggalkan anak dan istri yang masih membutuhkan sosok ayah serta nafkah,” ujar Putra.

Ia mengaku paling tersentuh melihat kondisi sang anak yang menyaksikan langsung ayahnya menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia.

“Yang paling menyentuh itu anaknya. Dia melihat langsung, menangis memanggil ayahnya. Saya rasa itu akan menjadi trauma yang sangat dalam bagi seorang anak,” tuturnya.

Putra juga menyoroti besarnya perhatian masyarakat terhadap keluarga korban. Menurutnya, media sosial memiliki peran besar dalam menggerakkan kepedulian banyak pihak, termasuk sejumlah artis yang memberikan bantuan.

“Power media sosial sekarang luar biasa. Banyak orang akhirnya bergerak membantu karena melihat kondisi anak yang ditinggalkan,” katanya.

Ia sendiri mengaku sempat berniat datang langsung menemui keluarga korban. Namun karena jadwal yang padat, rencana tersebut belum dapat direalisasikan.

Di sisi lain, Putra menyoroti maraknya berbagai aksi kekerasan yang belakangan terjadi di Indonesia, mulai dari kasus pengeroyokan hingga tindak kriminal lainnya. Ia berharap masyarakat bisa lebih mampu mengendalikan emosi dan tidak mudah melakukan tindakan anarkis.

“Kita melihat sekarang banyak sekali kasus kekerasan. Mudah-mudahan sebagai masyarakat Indonesia kita bisa lebih menahan emosi dan amarah,” ujarnya.

Terkait munculnya kritik dari sebagian masyarakat yang mengingatkan bahwa korban merupakan residivis, Putra memilih melihat persoalan dari sudut pandang keluarga yang ditinggalkan.

“Kalau soal dia residivis atau pernah melakukan kesalahan, tetap tidak ada pembenaran untuk mencuri. Tapi sekarang beliau sudah meninggal dunia. Mari kita doakan saja semoga mendapat ampunan, dan anak-anaknya kelak bisa menjadi pribadi yang baik serta berbakti,” ucapnya.

Menutup pernyataannya, Putra mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali menghidupkan semangat gotong royong dan saling membantu sebagai upaya menekan angka kemiskinan maupun kejahatan.

“Kita ini bangsa yang dikenal ramah dan menjunjung gotong royong. Kalau semua saling membantu dan saling merangkul, insyaallah tingkat kemiskinan bisa berkurang dan angka kejahatan juga ikut menurun,” pungkasnya.

Share this content: