Loading Now

Lansia Berangkat Haji, Dokter Frengky Ingatkan Bahaya Perubahan Iklim dan Stamina

Jakarta, — Keberangkatan jamaah haji kloter pertama kembali menyoroti kesiapan kesehatan, khususnya bagi jamaah lansia. Pakar kesehatan, dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med, mengingatkan bahwa kelompok usia lanjut memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Menurutnya, sebelum keberangkatan, jamaah lansia wajib melalui evaluasi kesehatan secara menyeluruh untuk memastikan kondisi tubuh dalam keadaan stabil.

“Jangan sampai niat ibadah justru berujung pada kondisi medis yang berbahaya. Karena itu, sejak awal harus dipastikan kesehatannya mumpuni,” kata dr. Frengky.

Ia menjelaskan, perbedaan iklim antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi tantangan tersendiri. Suhu yang lebih tinggi, udara yang lebih kering, serta perbedaan kelembapan dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada lansia.

“Perubahan cuaca pasti berpengaruh. Bukan hanya lansia, tapi semua jamaah. Namun lansia memang lebih rentan,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, jamaah diimbau menjaga kondisi tubuh tetap stabil, termasuk rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran serta membawa obat cadangan. Selain itu, jamaah juga perlu dibiasakan dengan rutinitas harian agar tidak mudah bingung, khususnya bagi yang mengalami demensia ringan.

Dalam kasus tertentu, lanjutnya, pendamping menjadi hal wajib bagi jamaah lansia.

“Kalau ada demensia, meski ringan, sebaiknya wajib ada pendamping. Risiko tersesat atau kebingungan di sana cukup tinggi,” jelasnya.

Selain itu, risiko heatstroke juga menjadi perhatian. Jamaah diminta tidak memaksakan diri dalam menjalankan ibadah dan harus mengenali batas kemampuan fisik.

“Jangan sampai kelelahan ekstrem. Istirahat itu penting supaya stamina tetap terjaga dan ibadah bisa lebih maksimal,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi yang dapat berdampak serius pada organ tubuh seperti jantung dan ginjal.

Dalam hal konsumsi makanan, jamaah lansia dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes diminta tetap menjaga pola makan sesuai kondisi masing-masing.

“Makanan tidak bisa disamakan. Harus disesuaikan dengan penyakitnya agar tetap terkontrol,” ujarnya.

Adapun tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain dehidrasi, kelelahan berat, serta kondisi yang tidak membaik setelah minum obat. Jika hal itu terjadi, jamaah diminta segera mencari pertolongan medis.

Di sisi lain, keluarga di tanah air juga diharapkan tetap memberikan dukungan dengan menjaga komunikasi, baik dengan jamaah maupun pendamping.

“Perhatian dari keluarga penting, termasuk mengingatkan minum obat dan menjaga kesehatan. Harapannya ibadah berjalan lancar, aman, dan tetap khusyuk,” tutupnya.

Share this content: