Loading Now

Denny Sumargo: Perjalanan 7 Tahun Burger Bangor Jadi Bukti UMKM Indonesia Bisa Tumbuh hingga Ratusan Outlet

Jakarta – Aktor sekaligus pengusaha Denny Sumargo membagikan kisah perjalanan Burger Bangor yang kini telah berkembang menjadi salah satu jaringan burger lokal terbesar di Indonesia. Dalam perayaan “Make Efficient: 7 Years of Burger Bangor”, Denny menyebut pencapaian perusahaan merupakan bukti bahwa UMKM lokal mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Menurut Denny, Burger Bangor berawal dari hanya satu outlet. Namun, tanpa disangka dalam kurun waktu tujuh tahun bisnis tersebut berhasil berkembang menjadi sekitar 840 outlet yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia serta menciptakan sekitar 8.400 lapangan kerja.

“Banyak banget hal-hal yang bikin kita pusing. Burger Bangor berangkat dari satu outlet, kemudian nggak ada yang nyangka sampai tujuh tahun sekarang sudah menjadi sekitar 840 outlet dan membuka sekitar 8.400 lapangan kerja,” ujar Denny.

Ia juga mengaku terkejut ketika mendengar adanya pembahasan mengenai kemungkinan Burger Bangor melantai di bursa saham atau Initial Public Offering (IPO) pada 2028 apabila perkembangan bisnis terus berjalan positif. Meski demikian, Denny menegaskan keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan manajemen perusahaan.

“Saya juga kaget tadi sempat ada pembicaraan kalau ke depannya, kalau progresinya bagus, tahun 2028 mau IPO. Itu saya juga belum tahu, nanti biar menjadi ranah manajemen,” katanya.

Ingin Menjadi Inspirasi bagi UMKM

Bagi Denny, pencapaian Burger Bangor bukan sekadar soal pertumbuhan bisnis, tetapi diharapkan dapat menjadi contoh bagi pelaku UMKM di Indonesia.

Ia menilai kondisi ekonomi saat ini tidak mudah, terutama bagi pelaku usaha kecil yang menghadapi berbagai tantangan, termasuk perubahan kebijakan dan meningkatnya beban operasional.

“Dengan kondisi sekarang yang sulit, banyak UMKM yang berguguran. Saya berharap apa yang dicapai Burger Bangor bisa menjadi inspirasi dan menular kepada seluruh UMKM di Indonesia. Burger Bangor juga berproses melalui jalur yang sama sampai akhirnya bisa berada di titik ini,” ujarnya.

Berawal dari Masa Sulit Pandemi

Denny mengungkapkan bahwa ide awal mendirikan Burger Bangor bukan berasal darinya, melainkan dari rekannya bernama Aldi yang menjadi penggagas bisnis tersebut.

Menurutnya, usaha itu lahir pada masa pandemi COVID-19 ketika banyak sektor usaha mengalami penurunan.

Saat itu, Denny mengingatkan agar bisnis tidak dijalankan dengan sifat serakah.

“Kalau mau memulai sesuatu di kondisi seperti itu, jangan serakah. Untung tidak perlu besar, yang penting tidak rugi. Yang paling penting niatnya membangun sesuatu yang bisa memberikan dampak kepada masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Ia menambahkan, apabila sebuah usaha berkembang, maka keberhasilannya juga harus dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial maupun aktivitas yang memberikan manfaat.

Mengutamakan Harga Terjangkau

Salah satu strategi Burger Bangor adalah menghadirkan produk dengan harga yang tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.

Denny menjelaskan perusahaan sengaja tidak mengambil margin keuntungan yang terlalu besar agar produk tetap dapat dijangkau masyarakat luas.

“Kami melihat daya beli masyarakat Indonesia itu harus menjadi perhatian. Orang ingin makanan yang cocok di kantong, tapi juga tetap enak di lidah. Karena itu kami melakukan riset hingga akhirnya lahirlah konsep Burger Bangor,” jelasnya.

Ia menambahkan, perusahaan juga melakukan efisiensi penggunaan bahan baku tanpa mengurangi cita rasa produk.

Tidak Mengejar Ekspansi Berlebihan

Meski kini memiliki ratusan outlet, Denny mengatakan sejak awal Burger Bangor tidak memiliki target agresif untuk membuka cabang sebanyak mungkin.

Menurutnya, pertumbuhan bisnis berlangsung secara organik karena tingginya minat calon mitra.

Namun, perusahaan memilih melakukan proses seleksi agar kualitas merek tetap terjaga.

“Kalau semua langsung diterima mungkin sekarang outletnya sudah ribuan. Tapi kami melakukan filtrasi supaya kualitas dan kepercayaan terhadap brand tetap terjaga,” katanya.

Komitmen Menjaga Kualitas

Denny menegaskan salah satu komitmen utama Burger Bangor selama tujuh tahun adalah menjaga kualitas produk dan pelayanan kepada konsumen.

Ia mengungkapkan seluruh keluhan pelanggan ditangani dengan cepat, bahkan dirinya masih sering menerima laporan langsung melalui akun Instagram pribadinya sebelum diteruskan ke manajemen pusat.

“Saya masih sering menerima komplain lewat DM Instagram. Saya langsung teruskan ke Bangor Pusat dan biasanya dalam satu sampai dua jam sudah ada laporan bahwa masalahnya selesai,” ujarnya.

Selain itu, perusahaan juga berencana membentuk tim investigasi yang melakukan inspeksi mendadak ke outlet mitra untuk memastikan seluruh standar operasional tetap dijalankan.

Tidak Ingin Bersaing Secara Tidak Sehat

Menanggapi anggapan bahwa Burger Bangor ingin menyaingi jaringan burger internasional, Denny menegaskan perusahaan tidak memiliki ambisi untuk mengalahkan merek lain.

Menurutnya, Burger Bangor hanya ingin terus tumbuh bersama masyarakat Indonesia.

“Kami tidak punya niat mengalahkan siapa pun. Burger Bangor lahir secara organik dari keresahan kami sendiri. Kalau memang harus terus berkembang ya berkembang, kalau memang suatu saat harus berhenti ya berhenti. Yang penting kami bisa memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.

Tetap Berkarya di Dunia Bisnis

Denny mengaku dirinya tidak semata-mata mengejar keuntungan finansial melalui bisnis.

Ia mengatakan aktivitas berwirausaha menjadi salah satu bentuk produktivitas sekaligus cara untuk terus memberikan kontribusi kepada masyarakat.

“Saya senang melakukan sesuatu yang produktif. Selain membuat saya terus berkarya, saya juga berharap apa yang saya lakukan bisa memberikan dampak yang positif bagi banyak orang,” ujarnya.

Selain Burger Bangor, Denny juga mengungkapkan dirinya memiliki sejumlah lini usaha lain, termasuk bisnis perawatan wajah pria yang dipasarkan secara digital dan disebut memiliki performa penjualan yang kuat di platform TikTok.

Share this content: