Psikiater Mintarsih Bongkar Alasan Anak Korban Kasus Maling Ayam di Bali Cepat Ceria, Berbeda dengan Anak Satpam Waduk Jatiluhur
Jakarta – Perbedaan respons emosional dua anak yang sama-sama kehilangan ayah akibat tindak kekerasan menjadi perhatian publik. Di satu sisi, anak dari pria yang tewas dalam kasus dugaan pencurian ayam di Bali tampak mulai ceria setelah mendapat perhatian luas dari masyarakat, artis, hingga pejabat. Sementara itu, anak dari satpam Waduk Jatiluhur, Purwakarta, yang ayahnya diduga menjadi korban pembunuhan, masih terlihat larut dalam kesedihan.
Menanggapi fenomena tersebut, Psikiater dr. Mintarsih A. Latief, Sp.KJ, menegaskan bahwa kondisi psikologis kedua anak tidak bisa dibandingkan secara langsung karena masing-masing memiliki latar belakang keluarga, pola asuh, dan pengalaman hidup yang berbeda.
Kasus di Bali bermula dari tewasnya seorang pria yang diduga mencuri ayam setelah menjadi korban pengeroyokan warga. Peristiwa itu viral setelah video anak korban menangis histeris saat pemakaman beredar di media sosial. Viralitas tersebut memicu gelombang bantuan dari masyarakat, tokoh publik, hingga pejabat. Sebaliknya, kasus tewasnya seorang satpam Waduk Jatiluhur yang ditemukan meninggal dengan kondisi mengenaskan sempat minim perhatian publik, meski belakangan juga mulai mendapatkan dukungan dan bantuan.
Menurut dr. Mintarsih, hal pertama yang harus dipahami adalah bagaimana latar belakang keluarga membentuk cara seorang anak memandang kekerasan.
“Pengaruh terhadap anak harus dilihat juga dari latar belakang keluarganya. Cara seorang anak dibesarkan akan memengaruhi bagaimana ia memaknai sebuah peristiwa traumatis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, apabila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang keras atau terbiasa melihat perilaku kriminal, persepsinya terhadap tindakan kekerasan bisa berbeda dibandingkan anak yang tumbuh dalam lingkungan yang lebih kondusif.
“Kalau seorang anak dibesarkan oleh sosok yang terbiasa hidup keras, kemungkinan dia memandang kekerasan dengan cara yang berbeda. Namun, kehilangan ayah akibat pembunuhan tetap merupakan peristiwa yang sangat berat bagi anak,” jelasnya.
Meski demikian, dr. Mintarsih mengingatkan bahwa kedua anak sama-sama berisiko mengalami trauma berkepanjangan. Perbedaannya hanya terletak pada bagaimana trauma itu diekspresikan.
“Anak yang terlihat kembali ceria belum tentu sudah pulih dari traumanya. Sebaliknya, anak yang masih menangis dan bersedih bukan berarti kondisinya lebih buruk. Setiap anak memiliki mekanisme menghadapi trauma yang berbeda,” katanya.
Ia menilai trauma akibat kehilangan orang tua karena pembunuhan dapat berkembang menjadi berbagai gangguan psikologis apabila tidak mendapatkan pendampingan yang memadai.
“Anak bisa mengalami trauma, gangguan kecemasan, depresi, bahkan perubahan karakter. Tetapi yang paling kita khawatirkan adalah apakah anak itu tumbuh menjadi pribadi yang penakut atau justru menyimpan dendam kepada orang lain,” tuturnya.
Menurut dr. Mintarsih, rasa dendam yang tidak ditangani dapat memengaruhi cara anak memandang kehidupan dan hubungan sosial saat dewasa.
“Jangan sampai anak menyimpan kebencian kepada manusia karena merasa dunia begitu kejam. Kalau itu terjadi, ada risiko dia tumbuh menjadi pribadi yang sulit percaya kepada orang lain atau bahkan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pendampingan psikologis secara berkelanjutan, bukan hanya beberapa hari setelah kejadian.
“Pendampingan harus dilakukan terus-menerus. Ibunya harus mendampingi ketika trauma muncul kembali, dan sekolah juga harus ikut memberikan perhatian terhadap perkembangan mental anak,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan terapi setiap anak berbeda-beda sehingga tidak bisa disamaratakan.
“Kita lihat dulu kondisi mental masing-masing anak. Ada yang kuat menghadapi, ada yang membutuhkan terapi dan pendampingan lebih lama. Karena itu penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi anak,” jelasnya.
Menanggapi perbedaan perhatian publik terhadap kedua kasus tersebut, dr. Mintarsih menilai fenomena itu merupakan kecenderungan yang sering terjadi di masyarakat.
“Umumnya masyarakat memberikan perhatian yang besar pada kejadian yang pertama kali viral. Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan semua anak korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan psikologis yang sama, tanpa bergantung pada seberapa besar perhatian publik terhadap kasus tersebut,” pungkasnya.
Share this content:


