Psikiater Mintarsih Ungkap Alasan Revaldo Kembali Terjerat Narkoba hingga Empat Kali: Sudah Masuk Taraf Ketergantungan
JAKARTA — Psikiater dr. Mintarsih A Latief, Sp.KJ, menilai aktor Revaldo yang kembali terjerat kasus narkoba untuk keempat kalinya menunjukkan kondisi ketergantungan yang cukup berat. Menurutnya, seseorang yang telah berulang kali menggunakan narkoba tidak lagi sekadar mencari kesenangan, tetapi dapat merasa membutuhkan zat tersebut untuk mendapatkan kondisi psikologis tertentu.
“Kalau dia sudah empat kali, dia sudah sampai pada taraf ketergantungan. Jadi untuk mencapai kesembuhan itu jauh lebih susah,” ujar dr. Mintarsih.
Ia menjelaskan, pada tahap ketergantungan, penggunaan narkoba dapat berubah dari sekadar keinginan menjadi kebutuhan. Ketika tidak menggunakan narkoba, seseorang dapat merasakan kondisi yang berbeda sehingga muncul dorongan untuk kembali mengonsumsi.
“Kalau dia tidak pakai, dia sudah membutuhkan, bukan lagi untuk sekadar kesenangan, tapi dia sudah sampai pada taraf bahwa kalau dia tidak pakai ada perasaan yang berbeda,” katanya.
Empat kali tertangkap bukan satu-satunya ukuran
Meski demikian, dr. Mintarsih mengatakan kondisi Revaldo tidak dapat dinilai hanya berdasarkan jumlah penangkapan. Menurutnya, perlu dilihat secara lebih menyeluruh bagaimana kondisi setiap kasus, seberapa berat penggunaan narkobanya, serta apakah terdapat penggunaan lain yang belum terungkap.
“Kita jangan lihat empat kalinya saja, tapi empat kali dalam keadaan berat atau ringan dan empat kali yang ketahuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila seseorang sampai empat kali menjalani proses hukum atau rehabilitasi akibat narkoba, kondisi tersebut sudah tergolong cukup berat. Namun, masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui seberapa jauh tingkat ketergantungannya.
“Kalau sampai dimasukkan penjara atau rehab empat kali, itu ya tergolong cukup berat. Karena kita tidak tahu kan dari empat kali itu, berapa kali yang tidak ketahuan, yang lolos,” jelasnya.
Menurut dr. Mintarsih, faktor lain seperti lamanya penggunaan, tingkat ketergantungan, alasan kembali menggunakan, serta kondisi psikologis pasien juga perlu diperhatikan dalam menentukan penanganan.
Profesi selebritas dan tekanan pekerjaan
Dr. Mintarsih juga menyoroti faktor pekerjaan dan lingkungan yang berpotensi memengaruhi seseorang untuk kembali menggunakan narkoba. Sebagai seorang selebritas, kata dia, seseorang dapat menghadapi tuntutan pekerjaan yang tinggi, termasuk tetap tampil meski sedang lelah atau kondisi suasana hati sedang tidak baik.
“Kita bayangkan pekerjaan mereka. Jika mereka tiba-tiba dibutuhkan, walaupun dia capek, walaupun dia sudah mood-nya tidak ada, tapi dia tetap harus tampil,” tuturnya.
Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong penyalahgunaan zat, terutama jika narkoba dianggap dapat membantu seseorang menjalankan aktivitas atau tampil sesuai tuntutan pekerjaan.
Selain pekerjaan, lingkungan pergaulan juga dinilai dapat berpengaruh. Menurut dr. Mintarsih, jika seseorang berada di lingkungan yang sudah terbiasa menggunakan narkoba, risiko untuk kembali menyalahgunakan zat tersebut dapat semakin besar.
“Kalau sudah terbiasa begitu, kawan-kawan lingkungannya juga begitu juga,” katanya.
Stres dan sepinya pekerjaan dapat menjadi pemicu
Dr. Mintarsih juga tidak menutup kemungkinan kondisi pekerjaan Revaldo yang sedang sepi menjadi salah satu sumber stres. Namun, ia menegaskan bahwa penyalahgunaan narkoba tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor.
“Stres itu akan ikut memengaruhi untuk dia menyalahgunakan lagi. Jadi kan banyak faktor,” ujarnya.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut dengan seseorang yang mengalami tekanan berat hingga mengambil tindakan berisiko untuk mengatasi tekanan yang dirasakannya.
“Bayangkan kalau orang sedang stres sekali, stres lalu tidak tahan, maka dia memakai dengan segala risikonya,” kata dr. Mintarsih.
Menurutnya, tekanan psikologis dapat membuat seseorang mengabaikan risiko yang sebenarnya sudah diketahui, termasuk kemungkinan kembali ditangkap dan menjalani hukuman.
Mudahnya akses narkoba turut menjadi persoalan
Selain faktor individu, dr. Mintarsih menilai lingkungan dan kemudahan memperoleh narkoba juga menjadi persoalan penting. Menurut dia, seseorang yang berada di lingkungan dengan akses narkoba yang mudah akan lebih rentan kembali menggunakan ketika muncul keinginan.
“Sekarang itu mencari narkoba mudah, di mana-mana ada. Jadi semua itu menjadi kombinasi,” ujarnya.
Ia membandingkan kondisi seseorang yang kesulitan mendapatkan narkoba dengan orang yang dapat memperolehnya dengan mudah. Ketika akses sulit, seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir atau menghadapi hambatan sebelum akhirnya menggunakan. Sebaliknya, akses yang mudah dapat membuat keinginan sesaat langsung berujung pada penggunaan.
“Kalau orang begitu mudah mendapatkan, dia baru ingin sedikit, sudah langsung dia beli, langsung dia pakai lagi,” jelasnya.
Karena itu, menurut dr. Mintarsih, persoalan ketergantungan narkoba tidak hanya berkaitan dengan kemauan seseorang untuk berhenti, tetapi juga dipengaruhi lingkungan, akses terhadap narkoba, kondisi psikologis, kepribadian, serta dukungan keluarga.
Tetap perlu pendampingan psikiatri dan rehabilitasi
Terkait penanganan Revaldo, dr. Mintarsih menilai pendampingan psikologis maupun psikiatri tetap penting meskipun kasusnya telah berulang kali terjadi.
“Baiknya begitu, tapi itu bukan suatu jaminan,” katanya.
Ia menjelaskan, ketergantungan yang sudah berlangsung lama atau berulang cenderung membutuhkan proses pemulihan yang lebih panjang. Kondisinya dianalogikan seperti penyakit kronis yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
“Kalau sakit sudah kronis, penyembuhannya akan lebih susah. Ini juga sama, yaitu boleh dikatakan sudah ketergantungan,” ujarnya.
Dalam proses rehabilitasi, menurutnya, kondisi keluarga juga perlu diperiksa. Dukungan keluarga dapat menjadi salah satu faktor penting dalam pemulihan, tetapi lingkungan keluarga juga perlu dilihat apakah membantu atau justru memperberat kondisi pasien.
“Kita lihat kenapa, apakah keluarganya bisa ikut membantu atau keluarganya justru memperberat keadaan, atau ada pihak-pihak lain yang harus ikut mengatasi keadaan dia,” tutur dr. Mintarsih.
Selain itu, pemeriksaan perlu diarahkan untuk mengetahui alasan yang mendasari penggunaan narkoba, termasuk bagaimana pola pikir dan kondisi psikologis seseorang hingga akhirnya kembali menggunakan.
Masih ada peluang untuk pulih
Meski menilai kondisi ketergantungan yang berulang cukup berat, dr. Mintarsih menegaskan bahwa peluang untuk pulih tetap ada.
“Sebenarnya kemungkinan itu ada, kita tinggal melihat,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan pemulihan tidak cukup hanya dengan menghentikan penggunaan narkoba untuk sementara. Faktor penyebab yang membuat seseorang kembali menggunakan juga perlu ditangani agar risiko kekambuhan dapat ditekan.
Dengan demikian, kasus Revaldo yang kembali terjerat narkoba untuk keempat kalinya perlu dilihat secara menyeluruh. Tidak hanya dari sisi hukum, tetapi juga dari tingkat ketergantungan, kondisi psikologis, tekanan pekerjaan, lingkungan pergaulan, kemudahan akses terhadap narkoba, serta dukungan keluarga.
Dr. Mintarsih menekankan bahwa semakin berulang suatu ketergantungan, proses pemulihannya dapat menjadi semakin sulit. Namun, kondisi tersebut bukan berarti tidak memiliki peluang untuk pulih, selama mendapatkan penanganan dan pendampingan yang sesuai.
Share this content:


