Pemilik SPPG Erick Sunardi Ungkap Rahasia Pengelolaan MBG hingga Respons Siswa
JAKARTA – Pro dan Kontra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bagi para siswa. Di tingkat pelaksana, program tersebut juga dinilai memiliki dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pemilik SPPG, Erick Sunardi, mengungkapkan bahwa pengelolaan MBG di unit yang dikelolanya turut melibatkan masyarakat sekitar. Langkah tersebut dilakukan agar keberadaan SPPG tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi makanan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan di sekitarnya.
Menurut Erick, sebagian tenaga kerja yang dilibatkan berasal dari warga lokal. Persentasenya disebut berada di kisaran 30 hingga 50 persen, sementara posisi tertentu tetap membutuhkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan operasional SPPG.
Keterlibatan masyarakat lokal menjadi salah satu bagian yang menurut Erick penting dalam pengelolaan MBG. Dengan adanya aktivitas SPPG, warga sekitar memiliki peluang untuk mendapatkan pekerjaan dan terlibat langsung dalam pelaksanaan program pemerintah tersebut.
Petani Lokal Ikut Dilibatkan
Tidak hanya tenaga kerja, Erick juga mengungkapkan upaya untuk melibatkan petani lokal dalam rantai pasok kebutuhan makanan MBG.
Bahan makanan yang digunakan dalam penyediaan menu diupayakan dapat berasal dari lingkungan sekitar. Dengan pola tersebut, kebutuhan bahan pangan untuk MBG diharapkan sekaligus dapat membuka pasar bagi hasil pertanian masyarakat.
Menurut Erick, keterlibatan petani lokal dapat menciptakan efek ekonomi yang lebih luas. Anggaran yang digunakan untuk penyediaan makanan tidak hanya berhenti pada proses produksi di dapur SPPG, tetapi juga dapat mengalir kepada masyarakat yang menjadi bagian dari rantai pasok.
Hal ini menjadi salah satu sisi lain dari program MBG yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian.
Kantin Sekolah Tidak Harus Tersingkir
Erick juga menyoroti keberadaan kantin sekolah yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi di lingkungan pendidikan.
Ia menilai pekerja kantin tidak harus sepenuhnya kehilangan mata pencaharian setelah program MBG berjalan. Mereka masih dapat dilibatkan dengan menyesuaikan sistem serta standar yang ditetapkan dalam pelaksanaan program.
Di SPPG yang dikelolanya, Erick menyebut terdapat tenaga kerja yang sebelumnya memiliki pengalaman bekerja di kantin sekolah.
Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk ikut terlibat dalam ekosistem MBG, selama seluruh proses tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.
Bahkan, terdapat rencana untuk mengembangkan sejumlah menu yang sudah dikenal dan disukai siswa melalui kerja sama dengan pihak sekolah.
Namun, pengembangan menu tersebut tetap harus menyesuaikan standar gizi yang ditetapkan dan melibatkan tenaga ahli seperti ahli gizi.
Respons Siswa Jadi Tolok Ukur
Di sisi lain, Erick mengungkapkan bahwa penerimaan siswa terhadap program MBG di SPPG yang dikelolanya cukup positif.
Ia menyebut antusiasme siswa terlihat ketika makanan dibagikan. Mereka disebut kerap menunggu kedatangan makanan dan penasaran dengan menu yang disediakan.
Untuk menjaga minat siswa, variasi menu juga menjadi perhatian. Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan adalah menyediakan menu snack secara berkala.
Erick menyebut menu camilan dapat diberikan sekitar satu kali dalam sepekan. Variasi tersebut diharapkan membuat siswa tidak mudah bosan sekaligus meningkatkan ketertarikan terhadap makanan yang disediakan.
Bagi Erick, respons siswa menjadi salah satu gambaran apakah menu yang diberikan dapat diterima oleh penerima manfaat.
Pengelolaan MBG Tetap Perlu Dievaluasi
Meski melihat adanya sejumlah manfaat, Erick mengakui bahwa pelaksanaan MBG masih membutuhkan evaluasi dan perbaikan.
Hal tersebut terutama berkaitan dengan penerapan standar operasional prosedur (SOP) di setiap SPPG. Menurutnya, persoalan yang terjadi di sejumlah tempat tidak serta-merta dapat menggambarkan seluruh pelaksanaan program.
Setiap kasus, kata Erick, perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing dan diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.
Ia berharap pengelolaan MBG ke depan semakin baik, baik dari sisi kualitas makanan maupun tata kelola di tingkat SPPG.
Dengan demikian, program tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan makanan bergizi bagi siswa, tetapi juga mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat, petani, dan pelaku usaha di sekitar lokasi SPPG.
Bagi Erick, keberhasilan MBG pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari berapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi juga dari bagaimana program tersebut memberikan manfaat bagi penerima dan masyarakat yang terlibat di dalamnya.
Share this content:


