Loading Now

Devano Danendra Ungkap Awal Karier di Dunia Akting, Akui Jatuh Cinta karena Selalu Belajar Jadi “Manusia Baru”

Jakarta – Aktor sekaligus musisi Devano Danendra membagikan kisah awal perjalanan kariernya di dunia seni peran. Siapa sangka, langkah pertamanya menjadi aktor bermula bukan karena mengikuti audisi film, melainkan saat diminta mengisi lagu soundtrack.

Devano mengungkapkan, film pertamanya adalah Melodylan. Saat itu ia awalnya hanya dipanggil untuk membawakan soundtrack film tersebut. Namun, dalam proses pertemuan dengan tim produksi, produser Sunil Soraya justru memintanya mengikuti casting untuk salah satu karakter.

“Film pertama itu Melodylan. Aku dipanggil untuk mengisi soundtrack-nya saja. Terus setelah meeting, Pak Sunil bilang, ‘Sekalian coba casting saja.’ Seminggu setelah casting, langsung dapat perannya,” ujar Devano.

Saat itu usianya baru sekitar 15 tahun. Ia mendapat peran sebagai karakter yang berhadapan dengan tokoh yang dimainkan Jeffrey Nicholas. Meski waktu tampilnya di layar tidak terlalu lama, pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuatnya tertarik mendalami dunia akting.

“Aku benar-benar nggak tahu apa-apa soal acting. Berawal dari karakter yang cuma muncul beberapa menit, akhirnya aku jadi tertarik. Dari situ mulai belajar, baca buku tentang acting, terus lanjut ke beberapa film, serial, sampai sekarang,” tuturnya.

Menurut Devano, keputusan untuk serius menjadi aktor lahir karena ia merasa seni peran memberinya ruang untuk terus berkembang. Baginya, setiap naskah merupakan kesempatan mempelajari karakter manusia dari berbagai sudut pandang.

“Aku merasa berkembang dengan baik. Dari skrip-skrip film, aku bisa mengenali karakteristik manusia. Terus ketemu aktor-aktor hebat, itu yang memantik aku untuk terus belajar. Di setiap film selalu ada hal baru karena kita belajar menjadi manusia baru,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa setiap proyek dimulai dari nol. Seorang aktor harus memahami banyak detail karakter, mulai dari kebiasaan, gestur, hingga tatapan mata agar tokoh yang dimainkan terasa hidup.

“Bahkan dari hal kecil seperti gestur, perilaku, sampai tatapan mata. Itu yang membuat acting jadi menarik buat aku,” lanjutnya.

Tak hanya berbicara soal akting, Devano juga menceritakan lagu “Surat Hati” yang dipercaya menjadi original soundtrack film Rumah Singgah. Ia mengaku lagu tersebut sebenarnya sudah lama ia tulis dan tersimpan sebelum akhirnya menemukan “rumah”-nya melalui film tersebut.

“‘Surat Hati’ sebenarnya lagu yang sudah lama ada. Aku memang nggak pernah tahu lagu-lagu yang aku tulis akan dipakai untuk apa. Ternyata lagu ini menemukan rumahnya di Rumah Singgah,” ungkapnya.

Menariknya, tawaran menggunakan lagu tersebut datang bahkan sebelum proses syuting dimulai. Menurut Devano, produser sudah melihat kecocokan antara isi lagu dengan pesan yang ingin disampaikan film.

“Bahkan sebelum syuting, sebelum skrip benar-benar jadi, produser sudah menawarkan apakah lagu ini boleh jadi bagian dari film. Ternyata secara cerita dan pesan yang ingin disampaikan, lagu ini sangat masuk,” katanya.

Devano juga menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki rumus khusus saat menulis lagu. Ia lebih memilih menuangkan perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung ke dalam karya musik.

“Aku nggak punya cara tertentu. Menulis ya menulis saja. Aku bukan tipe orang yang suka cerita, jadi biasanya aku meluapkan semuanya lewat lagu,” ujarnya.

Dalam Rumah Singgah, Devano memerankan karakter Lucky, seorang penghuni rumah singgah bagi para penyintas kanker. Ia beradu akting dengan Zara Adhisty sebagai Carla, atlet lari yang harus mengubur mimpinya setelah didiagnosis osteosarkoma.

Film tersebut juga dibintangi Gio Manassero sebagai Tony, M. Iqbal Sulaiman sebagai Ika, serta didukung Dewi Yull dan Aming. Ceritanya mengikuti perjalanan empat sahabat yang berusaha mewujudkan daftar impian mereka di tengah perjuangan melawan penyakit.

Bagi Devano, alasan utama menerima tawaran bermain di Rumah Singgah adalah karena memiliki visi yang sama dengan sutradara dan seluruh tim produksi, yakni menghadirkan film yang mampu memberi harapan bagi penonton.

“Alasan pertama aku menerima film ini karena kami punya visi yang sama, ingin membuat film yang punya nilai besar, yaitu memberikan motivasi untuk tetap bertahan hidup. Film ini sangat relate dengan banyak orang dan semoga bisa membuat orang punya semangat hidup yang lebih besar,” pungkasnya.

Share this content: