Dr. Frengky Luruskan Mitos Air Kelapa: Bisa Bantu Hidrasi, Bukan Pengganti Obat
JAKARTA — Air kelapa kerap dipercaya masyarakat memiliki beragam khasiat, mulai dari membantu mengatasi dehidrasi hingga dianggap mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Namun, klaim bahwa air kelapa dapat menyembuhkan kanker, menjadi obat segala penyakit, atau berfungsi sebagai detoksifikasi tubuh perlu disikapi secara bijak dan berdasarkan bukti ilmiah.
Hal tersebut disampaikan Dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med., yang mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai klaim kesehatan hanya berdasarkan pengalaman pribadi, testimoni, maupun promosi produk.
“Kalau dibilang air kelapa bisa menyembuhkan penyakit, bisa menyembuhkan kanker, bisa menyembuhkan segala macam, marketing boleh saja. Tapi kita mesti ada remnya,” ujar Dr. Frengky.
Menurutnya, dalam dunia kedokteran terdapat prinsip evidence-based medicine (EBM) atau pengobatan berbasis bukti yang menjadi salah satu pijakan penting dalam menentukan apakah suatu klaim kesehatan dapat diterima secara medis.
“Remnya itu kalau di kedokteran adalah evidence-based medicine. Jadi apa pun itu kita patokannya dengan evidence-based,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa bukti ilmiah tidak muncul hanya karena seseorang memberikan kesaksian bahwa dirinya merasa sembuh setelah menggunakan atau mengonsumsi suatu bahan. Bukti medis membutuhkan proses penelitian yang panjang dan terukur, mulai dari pengamatan awal, berbagai penelitian, hingga terkumpul bukti yang cukup kuat.
“Dari testimoni itu sudah paling rendah sampai terus ke atas, akhirnya sampai jadi evidence-based. Itu kasusnya sudah banyak, puluhan ribu, ratusan ribu. Jadi kita harus ada remnya,” jelasnya.
Air Kelapa Memiliki Kandungan yang Bermanfaat
Dr. Frengky menegaskan bahwa penjelasan tersebut bukan berarti air kelapa tidak memiliki manfaat. Sebaliknya, air kelapa memang mengandung sejumlah komponen yang dapat memberikan manfaat bagi tubuh.
Secara umum, air kelapa mengandung air, elektrolit seperti natrium, kalium, kalsium dan magnesium, karbohidrat alami, sejumlah mikronutrien, serta berbagai senyawa bioaktif.
Kandungan air membuat air kelapa dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Sementara elektrolit di dalamnya dapat berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dan fungsi tubuh.
Namun, kandungan gula atau karbohidrat alami tetap perlu diperhitungkan.
“Walaupun karbohidrat atau gula itu alami, tetap hitungannya karbohidrat dan kalori. Jadi hati-hati, tidak bisa sembarangan. Jangan anggap kalau ini alami sudah pasti sebanyak-banyaknya kita minum aman,” ujarnya.
Menurut dia, perhatian tersebut terutama penting bagi orang dengan kondisi tertentu, termasuk penderita diabetes, yang tetap perlu memperhitungkan asupan karbohidrat dan kalorinya.
Bisa Membantu Hidrasi, Bukan Pengganti Pengobatan
Air kelapa, lanjut Dr. Frengky, dapat digunakan untuk membantu memenuhi cairan tubuh pada kondisi tertentu. Salah satunya ketika seseorang mengalami diare ringan dan membutuhkan tambahan cairan.
Namun, situasinya berbeda apabila diare sudah berat atau disertai muntah sehingga menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar.
“Kalau diarenya berat, mual muntah, otomatis mesti harus di infus. Karena elektrolitnya tidak bisa menyamai rehidrasi yang dilakukan rumah sakit atau fasilitas kesehatan,” katanya.
Ia juga mencontohkan kondisi demam. Orang yang mengalami demam dapat mengalami kekurangan cairan. Mengonsumsi air kelapa dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan sehingga kondisi tubuh dapat membaik apabila penyebabnya berkaitan dengan dehidrasi.
Namun, hal tersebut tidak berarti air kelapa dapat menggantikan obat yang memang dibutuhkan.
“Bukan berarti air kelapa itu menggantikan obat penurun demam, misalnya paracetamol. Kalau memang perlu obat, ya harus diminum,” tegasnya.
Klaim Air Kelapa sebagai Detoksifikasi Perlu Bukti
Salah satu klaim yang juga sering beredar adalah air kelapa dianggap mampu melakukan “detoks” atau mengeluarkan berbagai racun dari tubuh.
Dr. Frengky menilai klaim tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta medis tanpa dukungan penelitian yang memadai.
“Sampai sekarang untuk detoks dengan air kelapa itu belum ada evidence base-nya,” ujarnya.
Hal serupa berlaku pada klaim bahwa air kelapa dapat menetralisir zat tertentu seperti nikotin atau menghilangkan racun dari tubuh.
Menurutnya, testimoni seseorang yang merasa lebih baik setelah mengonsumsi air kelapa tidak otomatis membuktikan bahwa air kelapa telah mengeluarkan racun dari tubuh.
“Kalau katanya si A, katanya si B, terus menurut dia sembuh, kita tidak bisa pakai patokan itu. Kita harus jelas, evidence-based itu yang jelas ada hasil penelitiannya, jurnalnya semua sudah jelas,” katanya.
Air Kelapa Setelah Olahraga Belum Tentu Lebih Baik daripada Air Putih
Dr. Frengky juga menyinggung penggunaan air kelapa sebagai minuman untuk membantu rehidrasi setelah berolahraga.
Menurutnya, meskipun air kelapa memiliki elektrolit, masyarakat tetap perlu berhati-hati dalam menyimpulkan bahwa air kelapa pasti lebih unggul daripada air putih.
Ia menyebut adanya penelitian yang membandingkan konsumsi air putih dan air kelapa setelah aktivitas fisik, dengan hasil yang menunjukkan perbedaan tidak signifikan pada kondisi tertentu.
“Berarti sebenarnya masih perlu penelitian lagi kalau benar-benar air kelapa itu untuk kasus hidrasi lebih baik dari air putih,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pernyataan tersebut bukan berarti air kelapa tidak baik untuk dikonsumsi.
“Bukan berarti air kelapa tidak bagus. Bagus, boleh diminum. Tapi jangan salah stigma, jangan salah tanggap. Air kelapa itu bukan sebagai pengganti obat,” katanya.
Penderita Gangguan Ginjal Perlu Berhati-hati
Kandungan kalium dalam air kelapa juga menjadi perhatian khusus bagi orang dengan kondisi medis tertentu.
Dr. Frengky mengingatkan bahwa orang yang mengalami gangguan fungsi ginjal perlu berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mengonsumsi sumber kalium dalam jumlah banyak.
Pada gangguan ginjal tertentu, kemampuan tubuh untuk membuang kalium dapat terganggu sehingga kadar kalium dalam darah bisa meningkat atau mengalami hiperkalemia. Kondisi tersebut dapat berbahaya karena kadar kalium berkaitan erat dengan fungsi otot dan jantung.
“Kalau untuk orang-orang yang punya gangguan ginjal justru mesti hati-hati. Itu kan hiperkalemi. Kalau kaliumnya berlebihan malah mengganggu dan bisa bahaya,” katanya.
Karena itu, menurutnya, prinsip “alami berarti aman” tidak dapat diterapkan secara mutlak kepada semua orang.
VCO dan Minyak Alami Juga Tidak Boleh Overclaim
Selain air kelapa, Dr. Frengky turut menyoroti berbagai produk berbahan alami seperti virgin coconut oil (VCO) yang kerap dipasarkan dengan beragam klaim kesehatan.
Menurutnya, pembahasan mengenai manfaat suatu produk harus dimulai dari tujuan penggunaannya.
“Yang mau dituju apa dulu? Kegunaannya apa dulu?” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa lemak tetap memiliki fungsi bagi tubuh, sementara kolesterol juga bukan sesuatu yang sepenuhnya harus dihilangkan. Tubuh membutuhkan kolesterol untuk berbagai fungsi, termasuk sebagai bahan pembentukan hormon.
Namun, persoalan kesehatan tidak cukup dinilai hanya berdasarkan istilah “kolesterol” secara umum karena terdapat berbagai jenis lipoprotein dan parameter yang perlu diperhatikan.
Untuk penggunaan minyak sebagai bahan masakan, ia juga mengingatkan bahwa proses pemanasan, khususnya penggorengan berulang, dapat menyebabkan oksidasi sehingga cara penggunaan menjadi hal penting.
Sementara untuk penggunaan minyak pada kulit atau rambut, menurutnya manfaatnya harus dilihat berdasarkan kondisi dan indikasi.
“Kalau misalnya untuk melembapkan kulit bisa. Untuk kulit kering yang pecah-pecah bisa dibantu. Tapi harus dengan indikasi yang sesuai dan pemakaiannya harus sesuai,” jelasnya.
Jika seseorang memiliki masalah kulit kepala, misalnya kondisi yang berkaitan dengan kelembapan berlebih atau infeksi jamur, penggunaan minyak secara sembarangan justru berpotensi tidak sesuai dengan kondisi yang dialami.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat berkonsultasi apabila tidak yakin dengan kondisi yang sedang dialami.
Testimoni Boleh Didengar, tetapi Bukan Pengganti Bukti Ilmiah
Menariknya, Dr. Frengky juga menceritakan pengalaman keluarganya yang menurutnya turut menggambarkan bagaimana kepercayaan terhadap air kelapa dapat terbentuk dan diwariskan dari satu orang ke orang lain.
Ia mengisahkan seorang anggota keluarganya yang pernah mengalami kondisi yang oleh keluarga dipersepsikan sebagai “mati suri”. Setelah sadar, orang tersebut menceritakan pengalaman subjektif yang dialaminya, termasuk kisah menerima air kelapa sebelum akhirnya sadar kembali.
Sejak saat itu, anggota keluarga tersebut menjadi percaya bahwa air kelapa memiliki manfaat khusus dan mengonsumsinya ketika mengalami berbagai keluhan kesehatan.
Dr. Frengky mengakui bahwa pengalaman pribadi seperti itu dapat menjadi sangat kuat bagi orang yang mengalaminya.
Namun, menurutnya, pengalaman tersebut tetap berbeda dengan bukti ilmiah.
“Dia yang menjalani dan itu kepercayaan dia, sugestinya dia. Dari dia ngomong begitu, orang-orang sekitarnya jadi ikut-ikutan,” ujarnya.
Ia menilai, cerita turun-temurun, pengalaman orang tua, maupun testimoni pribadi dapat menjadi salah satu alasan mengapa suatu kepercayaan kesehatan bertahan di masyarakat.
Meski demikian, dunia kedokteran tetap memiliki batasan dalam menilai sebuah klaim.
“Testimoni, cerita itu semua kita boleh dengarkan, kita boleh ambil yang positifnya. Tapi tetap kita semua ada remnya. Remnya tadi itu penelitian yang jelas hingga sampai jadi evidence-based medicine,” tegasnya.
Jangan Sampai Klaim Kesehatan Membuat Pasien Mengabaikan Pengobatan
Dr. Frengky menekankan bahwa bahan alami tidak harus dipertentangkan dengan pengobatan medis. Suatu bahan dapat saja dikonsumsi atau digunakan sebagai pelengkap selama manfaat, keamanan, kondisi pasien, dan penggunaannya sesuai.
Yang menjadi persoalan adalah ketika sebuah bahan diklaim mampu menggantikan pengobatan medis atau menyembuhkan penyakit serius tanpa bukti yang memadai.
Ia memberikan gambaran bahwa pada kasus diare, misalnya, seseorang dapat menggunakan air kelapa untuk membantu memenuhi cairan, tetapi tetap perlu mendapatkan penanganan medis apabila kondisinya berat.
Begitu pula pada penyakit serius seperti kanker. Menurutnya, pasien tidak boleh meninggalkan pengobatan yang diperlukan hanya karena mempercayai klaim bahwa air kelapa dapat menyembuhkan kanker.
“Kalau memang sakitnya kanker, jangan cuma minum air kelapa, habis itu tidak berobat. Itu malah bahaya,” tegasnya.
Pada akhirnya, menurut Dr. Frengky, masyarakat perlu bersikap bijak terhadap berbagai informasi kesehatan yang beredar, terutama ketika informasi tersebut menggunakan kata-kata seperti “menyembuhkan segala penyakit”, “menghilangkan semua racun”, atau “pengganti obat”.
“Air kelapa itu berguna, bisa membantu. Tapi kalau untuk obat segala macam penyakit, itu menurut saya bukan fakta,” pungkasnya.
Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa manfaat suatu bahan alami tidak otomatis berarti bahan tersebut merupakan obat untuk semua penyakit. Klaim kesehatan perlu dinilai berdasarkan bukti ilmiah, sementara penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Share this content:


