Loading Now

Tara Budiman Cerita soal Quality Time Bersama Dua Putrinya, dari Kencan hingga Hadapi Drama Kakak-Adik

Jakarta — Tara Budiman mengungkapkan bahwa akhir pekan menjadi waktu yang cukup penting baginya untuk berkumpul bersama keluarga. Di tengah kesibukannya bekerja, ia berusaha menyempatkan diri menghabiskan waktu bersama sang istri, Dian Ayu, serta kedua putrinya.

Menurut Tara, apabila tidak memiliki pekerjaan di akhir pekan, ia hampir selalu mengutamakan waktu bersama keluarga. Ia bahkan memiliki kebiasaan mengajak kedua putrinya melakukan berbagai aktivitas yang mereka sukai.

“Kalau nggak ada kerjaan, biasanya pasti sama anak-anak, sama istri. Jadi, kalau memang kosong, biasanya kita sepetin. Anak-anak mau ke mana, mau jalan ke mana,” ujar Tara Budiman.

Salah satu kegiatan yang cukup sering dipilih adalah mengajak anak-anak bermain di playground. Namun, Tara mulai mencari alternatif lain karena terlalu sering mengunjungi playground membuat anak-anak merasa bosan.

Terlebih, ia juga mempertimbangkan kondisi kesehatan anak-anak yang membuatnya lebih selektif memilih tempat untuk menghabiskan waktu.

Tara kemudian memilih kafe yang memiliki area bermain anak, tetapi tidak terlalu ramai. Dengan begitu, kedua putrinya tetap bisa bermain dan bersosialisasi tanpa harus berada di tempat yang terlalu penuh.

“Biasanya paling sering playground. Cuma kalau playground terus kan bosan. Terus kayaknya lagi musim sakit juga. Jadi gue cari kafe yang benar-benar ada tempat mainnya tapi nggak begitu banyak orang,” tuturnya.

Seiring bertambahnya usia, kedua putri Tara juga mulai memiliki keinginan masing-masing. Putrinya yang berusia sekitar tujuh tahun, misalnya, sudah mulai aktif menyampaikan apa yang ingin dilakukan maupun makanan yang ingin disantap.

Menurut Tara, kondisi tersebut membuat dirinya harus pintar mencari jalan tengah ketika keinginan kedua anaknya berbeda.

“Udah tujuh tahun udah mulai mau nih, aku maunya ini, aku maunya ini. Satunya lagi maunya, ‘Aku pokoknya mau makan spaghetti,’ ‘Aku mau makan burger aja, Ayah.’ Jadi mesti benar-benar dicari jalan tengahnya,” kata Tara.

Lebih Suka Anak Aktif daripada Terlalu Banyak Bermain Gadget

Dalam mendidik anak, Tara mengaku lebih menyukai aktivitas yang membuat kedua putrinya bergerak dan berinteraksi secara langsung. Ia tidak ingin anak-anak terlalu larut dalam penggunaan gadget.

Menurutnya, terlalu banyak bermain gadget dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

“Gue lebih suka anak aktif, karena kalau gadget jadinya nggak interaksi. Di satu sisi, dia nggak bisa bersosialisasi,” ungkapnya.

Tara juga menyadari bahwa tantangan orang tua saat ini semakin besar karena anak-anak mudah menemukan berbagai jenis konten melalui gadget. Karena itu, ia merasa perlu memberikan batasan dan mengarahkan anak-anak pada aktivitas yang lebih interaktif.

Dua Putri Sering Bertengkar

Meski menikmati momen bersama kedua putrinya, Tara mengakui bahwa memiliki dua anak perempuan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satunya adalah ketika kedua anaknya terlibat pertengkaran.

Ia sempat mengira anak perempuan hanya akan lebih banyak menghadirkan drama berupa marah-marah. Namun kenyataannya, pertengkaran kedua putrinya bisa terjadi karena berbagai hal sederhana.

“Kalau punya dua anak cewek itu ributnya lebih luar biasa lagi. Gue pikir anak cewek paling kalau itu cuma marah-marah doang. Ini nggak. Yang kecil galak banget, kakaknya kesabarannya udah tipis banget,” ujarnya.

Menurut Tara, perselisihan kedua putrinya bisa terjadi karena berbagai hal, mulai dari makanan, permainan, hingga berebut giliran.

Bahkan, urusan memilih lagu di dalam mobil pun terkadang dapat menjadi pemicu pertengkaran.

“Masalah lagu aja bisa menjadi sebuah pertikaian,” kata Tara sambil tertawa.

Dalam menghadapi situasi tersebut, Tara berusaha mengambil peran sebagai orang tua yang tetap sejalan dengan istrinya. Ia tidak ingin memberikan aturan yang berbeda karena khawatir anak-anak justru akan memanfaatkan perbedaan tersebut.

“Sebenarnya saya ingin jadi good cop-nya, cuma parenting sekarang tuh kayak lo nggak boleh kayak gitu. Kalau ibu bilang, kita harus satu suara,” jelasnya.

Ia pun memilih untuk menyampaikan aturan dengan cara yang lebih halus. Jika sang ibu sudah mengatakan tidak, Tara berusaha mendukung keputusan tersebut daripada memberikan kelonggaran.

Menurutnya, jika ayah dan ibu memberikan aturan yang berbeda, anak-anak justru akan belajar mencari celah dengan mendatangi orang tua yang dianggap lebih mudah memberikan izin.

“Karena kalau udah beda, ntar yang ada mereka akan datang ke gue terus,” katanya.

Putri Kedua Punya Karakter Berbeda

Tara juga menceritakan perkembangan kedua putrinya di sekolah. Ia menyebut putri sulungnya cukup percaya diri dan aktif berbicara. Bahkan, sang anak berani berinteraksi dengan teman maupun adik kelasnya.

Namun, pengalaman berbeda ia rasakan bersama putri keduanya. Tara menyebut karakter anak keduanya cukup berbeda dan membutuhkan pendekatan tersendiri.

Salah satu tantangan yang sedang mereka hadapi adalah rutinitas berangkat sekolah. Sang anak terkadang sulit bangun pagi dan belum selalu mau mengenakan seragam sekolah.

Tara dan Dian Ayu pun masih terus mengajarkan bahwa ada aturan yang harus diikuti ketika berada di sekolah.

“Anak nomor dua ternyata beda. Gue pikir pasti dia akan ngikut dengan kakaknya. Ternyata nggak,” ungkapnya.

Menurut Tara, putri keduanya memiliki karakter yang cukup kuat. Ia bahkan menyebut sang anak sebagai sosok yang “idealis” dan cenderung anti-mainstream.

“Kalau dibilang idealis sih sangat idealis. Jujur, dia anti-mainstream kayaknya anaknya,” ujarnya.

Meski demikian, Tara mengatakan bahwa putrinya perlahan mulai memahami aturan. Ia pun menyadari bahwa proses tersebut membutuhkan waktu karena anaknya baru memasuki lingkungan sekolah yang baru.

Ingin Dekat dengan Kedua Putrinya

Di balik kesibukannya sebagai figur publik, Tara memiliki alasan tersendiri mengapa ia berusaha menyediakan waktu khusus bersama anak-anaknya.

Ia mengaku pengalaman masa kecil membuatnya menyadari pentingnya kehadiran orang tua, termasuk memiliki waktu berdua antara anak dan orang tua.

Menurut Tara, pada masa kecilnya, momen bersama orang tua lebih banyak terjadi ketika liburan sekolah atau hari raya. Karena itu, ia tidak ingin mengulangi pola yang sama kepada anak-anaknya.

“Yang nggak ada di masa kecil gue adalah kehadiran, me-time ketika satu anak bersama orang tua,” tuturnya.

Tara ingin kedua putrinya memiliki kedekatan emosional dengannya sejak kecil. Apalagi, kedua anaknya merupakan perempuan. Ia berharap kedekatan tersebut bisa terus terjaga hingga mereka dewasa nanti.

“Saya nggak pernah punya waktu berdua dengan orang tua. Apalagi anak-anak gue kan cewek-cewek. Gue pengennya anak-anak cewek itu sama bapaknya juga dekat, supaya nanti ketika dewasa bisa sharing moment, curhat,” jelasnya.

Tara bahkan berharap kedekatannya dengan kedua putrinya dapat menjadi salah satu standar bagi mereka ketika kelak memilih pasangan hidup.

Ia ingin anak-anaknya memahami bahwa seorang pasangan seharusnya bisa memperlakukan mereka dengan baik, penuh perhatian, dan menghargai kebutuhan mereka.

“Gue pengen ngasih standar. Ketika mendapatkan pasangan, pasangannya harus kayak bapak gue nih, yang mengerti gue, yang baik, yang memang care sedetail kebutuhan gue,” kata Tara.

Punya Jadwal Kencan dengan Anak

Untuk menjaga kedekatan tersebut, Tara mengaku rutin membuat waktu khusus bersama anak-anak. Salah satunya adalah berkencan dengan putri sulungnya, Gia.

Ia menyebut agenda tersebut bisa dilakukan sekitar dua kali dalam sebulan. Bentuknya pun tidak harus mewah, bisa berupa makan siang, makan malam, atau bepergian ke luar kota.

“Kalau date sama Gia tuh sebulan dua kali itu pasti ada. Mau makan malam, mau lunch, atau mungkin kita pergi keluar kota,” ungkap Tara.

Bagi Tara, konsep “kencan” tersebut bukan sekadar jalan-jalan. Ia ingin setiap anak memiliki kesempatan merasakan perhatian penuh dari salah satu orang tuanya secara personal.

Selain waktu bersama anak, Tara juga berusaha menyediakan waktu khusus bersama istrinya. Menurutnya, keberadaan dua anak terkadang membuat komunikasi antara suami dan istri menjadi terbatas.

Karena itu, ia merasa penting untuk memiliki pembagian waktu, baik antara ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antara suami dan istri.

“Kita harus punya kencan beda-beda. Ada waktunya gue sama istri, sama anak-anak, atau gue sama anak-anak, atau istri sama anak-anak,” pungkas Tara.

Share this content: