Loading Now

Dr. Mintarsih Soroti Persaingan Green SM Taxi dan Bluebird, Singgung Manajemen hingga Kekuasaan

JAKARTA — Persaingan bisnis transportasi, khususnya industri taksi di Indonesia, kembali menjadi sorotan. Psikiater dr. Mintarsih A Latief, Sp.KJ, menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan bisnis taksi, termasuk persaingan antara Green SM Taxi dan Bluebird.

Dalam pernyataannya, dr. Mintarsih mempertanyakan faktor yang membuat sejumlah perusahaan taksi tidak mampu bertahan di tengah persaingan industri.

Menurutnya, terdapat dua persoalan yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan bisnis di Indonesia, yakni persoalan manajemen dan kekuasaan.

“Kalau kita lihat, bisnis atau apa pun di Indonesia ini terkenal bahwa ada dua hal. Ada masalah manajemen dan ada masalah kekuasaan,” ujar dr. Mintarsih dalam pernyataannya.

Ia kemudian menyoroti banyaknya perusahaan taksi yang disebutnya telah berhenti beroperasi. Menurut dr. Mintarsih, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut dikelola dan bagaimana regulasi turut memengaruhi persaingan.

Ia menyebut jumlah perusahaan taksi yang sudah tidak beroperasi mencapai lebih dari 40 perusahaan.

“Kalau 40 taksi bubar, kira-kira ada apa?” katanya.

Dr. Mintarsih juga mempertanyakan apakah keberlangsungan sebuah perusahaan taksi semata-mata ditentukan oleh kemampuan manajemen atau terdapat faktor lain yang ikut memengaruhinya.

Soroti Perubahan Regulasi

Dalam penjelasannya, dr. Mintarsih turut menyinggung perubahan peraturan yang menurutnya pernah terjadi dalam industri taksi.

Ia mengatakan bahwa pada suatu periode terdapat ketentuan yang membuat perusahaan-perusahaan taksi dapat beroperasi di tempat-tempat umum tanpa pembedaan tertentu. Namun, menurutnya, kemudian terjadi perubahan kebijakan yang memengaruhi ruang persaingan antarpelaku usaha.

“Yang terjadi adalah perubahan-perubahan peraturan,” ujarnya.

Menurut dr. Mintarsih, perubahan regulasi menjadi salah satu hal yang perlu dilihat ketika membahas perkembangan perusahaan taksi di Indonesia.

Ia mempertanyakan apakah pertumbuhan perusahaan tertentu terjadi karena kemampuan manajemen atau karena adanya perubahan aturan yang memberikan ruang lebih besar kepada perusahaan tertentu.

Singgung Pengalaman di Industri Taksi

Dr. Mintarsih juga menceritakan pengalaman dirinya ketika terlibat dalam pengelolaan perusahaan taksi pada masa lalu.

Ia mengatakan bahwa pada periode tersebut terdapat sejumlah perusahaan taksi yang masih berkembang dan para pengelola perusahaan kerap berdiskusi mengenai persoalan yang mereka hadapi.

Menurutnya, komunikasi antarpengelola menjadi salah satu cara untuk mencari jalan keluar terhadap berbagai persoalan dalam industri.

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi industri taksi mengalami perubahan. Sejumlah perusahaan kemudian tidak mampu bertahan dan akhirnya berhenti beroperasi.

Kondisi tersebut, menurut dr. Mintarsih, kembali menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan manajemen masing-masing perusahaan.

“Jadi kita kembalikan, apakah manajemen? Manajemen siapa yang bagus,” tuturnya.

Green SM Taxi dan Bluebird

Dalam konteks persaingan taksi saat ini, pandangan tersebut menjadi relevan untuk melihat bagaimana perusahaan taksi konvensional maupun layanan taksi yang berkembang dengan sistem baru beradaptasi terhadap perubahan industri.

Green SM Taxi dan Bluebird menjadi bagian dari dinamika industri taksi yang menghadapi perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, serta persaingan layanan transportasi.

Dr. Mintarsih menilai persoalan manajemen perlu menjadi perhatian ketika membandingkan keberlangsungan perusahaan-perusahaan taksi.

Ia juga menyinggung perkembangan sistem teknologi dalam industri taksi. Menurutnya, penggunaan sistem komputer sebenarnya bukan hal baru dalam pengelolaan perusahaan taksi.

Ia mengatakan sistem tersebut sudah mulai dibangun sejak masa ketika penggunaan komputer belum semaju seperti sekarang.

“Sebetulnya sistem komputer sudah dibentuk dari dulu, semuanya ada, pada saat orang belum pakai komputer,” katanya.

Pertanyakan Faktor Kekuasaan

Selain persoalan manajemen, dr. Mintarsih berulang kali menyinggung faktor kekuasaan dalam perkembangan industri taksi.

Ia mempertanyakan apakah keberhasilan suatu perusahaan hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola bisnis atau terdapat faktor lain yang memengaruhi posisi perusahaan dalam persaingan.

“Jadi akhirnya menjadi tanda tanya, ada apa sih? Apakah ini kelebihan kekuasaan atau apa? Atau kelebihan manajemen?” ujarnya.

Dr. Mintarsih juga menyampaikan bahwa dirinya memiliki sejumlah pengalaman yang menurutnya berkaitan dengan persoalan tersebut. Namun, ia tidak menjelaskan seluruh detailnya dalam pernyataan yang disampaikan.

Ia bahkan menyatakan bersedia mengungkap lebih jauh apabila persoalan tersebut dibahas secara terbuka dan disertai pembuktian dari masing-masing pihak.

Industri Taksi Terus Berubah

Persaingan industri taksi saat ini memang tidak lagi hanya mempertemukan perusahaan taksi konvensional. Perubahan teknologi, aplikasi pemesanan, kendaraan listrik, serta perubahan pola mobilitas masyarakat turut mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis.

Dalam kondisi tersebut, kemampuan perusahaan beradaptasi menjadi salah satu aspek penting dalam mempertahankan bisnis.

Dr. Mintarsih menutup pandangannya dengan kembali menekankan dua persoalan yang menurutnya perlu dilihat dalam perkembangan industri taksi, yakni manajemen dan kekuasaan.

Pernyataan dr. Mintarsih tersebut merupakan pandangan dan pertanyaan yang disampaikannya dalam konteks pembahasan mengenai industri taksi. Berbagai tudingan maupun klaim mengenai pengelolaan perusahaan, regulasi, atau pihak tertentu tetap memerlukan verifikasi dan tanggapan dari pihak-pihak yang disebut.

Share this content: