Produksi Udang Meningkat, BUBK Kebumen Jadi Motor Ekonomi Masyarakat Pesisir
KEBUMEN – Keberhasilan Tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah, dalam mengoptimalkan lahan pesisir menjadi kawasan produksi udang modern dan berkelanjutan mendapat apresiasi dari Ketua Komisi IV DPR RI, . Pada siklus ke-8, kawasan tambak yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut diproyeksikan menghasilkan total 254,5 ton udang.
Apresiasi itu disampaikan saat Ketua dan Anggota Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke BUBK Kebumen pada Sabtu (11/7). Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau langsung kawasan tambak, mengikuti kegiatan penanaman pohon, panen udang, serta penebaran 10,24 juta ekor benur pada 32 petak sebagai tanda dimulainya operasional siklus ke-9.
Siti Hediati Soeharto yang akrab disapa Titiek Soeharto menilai BUBK Kebumen menjadi contoh nyata keberhasilan pemanfaatan lahan pesisir yang sebelumnya belum tergarap secara optimal menjadi kawasan produksi udang berkualitas ekspor.
“Hasilnya luar biasa. Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini digunakan untuk menghasilkan udang berkualitas ekspor. Kami berharap model seperti BUBK Kebumen dapat direplikasi di daerah lain sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah,” ujarnya.
Menurut Titiek, keberadaan BUBK Kebumen tidak hanya berperan sebagai sentra produksi udang, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat dan pelaku usaha yang ingin mengembangkan budidaya udang dengan teknologi modern dan tata kelola yang baik.
“Semakin banyak daerah yang memiliki kawasan seperti ini, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, , menjelaskan bahwa BUBK Kebumen dirancang sebagai model pengelolaan tambak udang berbasis kawasan yang menerapkan prinsip Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB).
Menurutnya, penerapan CBIB tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup pengelolaan lingkungan, keamanan pangan, biosekuriti, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan tambak.
“BUBK Kebumen membuktikan bahwa peningkatan produksi dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Sistem intake, tandon, saluran masuk dan keluar air yang terpisah, serta IPAL menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas air dan keberlanjutan produksi,” ujar Haeru.
BUBK Kebumen berdiri di atas lahan seluas 100 hektare dengan area terbangun mencapai 65 hektare dan luas kolam efektif sekitar 24 hektare. Kawasan tersebut dilengkapi dengan 139 petak produksi, 50 petak tandon, dan 17 petak Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) guna mendukung operasional yang berkelanjutan.
Saat ini, operasional kawasan tambak memasuki masa transisi dari siklus ke-8 menuju siklus ke-9. Panen perdana siklus ke-8 yang digelar bersama Presiden pada 23 Mei 2026 menghasilkan 89,5 ton udang dari 32 petak tambak.
Panen kedua yang sedang berlangsung ditargetkan selesai dalam enam hari ke depan dengan total produksi sekitar 75 ton dari 37 petak tambak. Sementara itu, panen tahap akhir dijadwalkan berlangsung pada akhir Juli 2026 dengan target produksi mencapai 90 ton dari 70 petak.
Dengan capaian tersebut, total produksi udang pada siklus ke-8 diproyeksikan mencapai sekitar 254,5 ton.
Selain berkontribusi terhadap peningkatan produksi udang nasional, keberadaan BUBK Kebumen juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Hingga saat ini, kawasan tambak tersebut telah menyerap 645 tenaga kerja lokal yang terdiri atas 145 pekerja tetap dan 500 tenaga kerja harian lepas.
Aktivitas budidaya di kawasan tersebut juga mendorong pertumbuhan berbagai usaha pendukung, mulai dari warung makan, toko kebutuhan sehari-hari, penyedia sarana produksi tambak, jasa transportasi, hingga penginapan yang melayani kebutuhan pekerja dan pengunjung kawasan.
Dengan dimulainya siklus ke-9 melalui penebaran lebih dari 10 juta benur, KKP optimistis BUBK Kebumen akan terus menjadi model pengembangan budidaya udang nasional yang produktif, ramah lingkungan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Share this content:


