Denny Sumargo Ungkap Makna Perjalanan Islam Hajime Kondoh dan Kisah Cinta yang Diangkat ke Layar Lebar
Jakarta — Denny Sumargo mengungkap pandangannya mengenai perjalanan kisah cinta Hajime Kondoh dan Fanny yang diangkat ke dalam sebuah film. Menurut Denny, kisah tersebut bukan sekadar cerita tentang hubungan dua insan yang berbeda latar belakang, tetapi juga perjalanan spiritual yang memiliki makna mendalam.
Dalam kesempatan tersebut, Denny menyoroti perjalanan Hajime Kondoh dalam memeluk Islam. Ia menilai keislaman Hajime tidak semata-mata didorong oleh rasa cinta kepada sang istri, Fanny, tetapi juga karena adanya keyakinan dan pencarian terhadap makna yang lebih besar dalam agama Islam.
“Islam ini menjadi bagian dari perjalanan kisah mereka. Ini dua orang yang berbeda negara, berbeda latar belakang, berbeda budaya, kemudian dipersatukan oleh suatu hal yang menurut saya sangat mulia,” ujar Denny Sumargo.
Menurut Denny, keputusan Hajime Kondoh untuk memeluk Islam merupakan bagian penting dari perjalanan hidupnya. Ia melihat ada nilai spiritual yang lebih dalam dari sekadar kisah cinta antara pasangan yang berasal dari latar belakang berbeda.
Denny juga mengatakan, salah satu hal yang paling membekas baginya adalah keyakinan Hajime terhadap apa yang diyakininya dalam kehidupan, termasuk mengenai harapan memiliki anak bersama Fanny.
Menurut Denny, keyakinan tersebut bukan sekadar keinginan pribadi, melainkan bentuk kepercayaan bahwa apabila Tuhan telah berkehendak, maka tidak ada yang mustahil.
“Kalau Tuhan sudah berkehendak, maka terjadilah semuanya,” kata Denny, mengingat salah satu kalimat yang pernah disampaikan dalam podcastnya.
Keyakinan itu pula yang menurut Denny menjadi salah satu garis besar perjalanan Hajime Kondoh dan Fanny. Ia menilai kisah tersebut tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi romantisme atau sebagai bahan eksploitasi untuk mendapatkan perhatian publik.
“Jadi poinnya di situ. Bukan sebenarnya kita ingin mengeksploitasi itu untuk tujuan tertentu,” tuturnya.
Adegan Terakhir Hajime Kondoh yang Paling Membekas
Dalam sesi bincang bersama awak media, Denny juga mengungkap salah satu bagian film yang paling menyentuh emosinya. Adegan tersebut menggambarkan momen terakhir Hajime Kondoh sebelum meninggal dunia.
Menurut Denny, dialog yang ditampilkan dalam film bukan sekadar hasil dramatisasi untuk kebutuhan cerita. Kalimat yang disampaikan Hajime kepada Fanny dalam adegan tersebut disebut diambil dari perkataan nyata Hajime.
“Itu ada bagian terakhir sebelum Hajime meninggal. Sebelum Hajime pergi, Hajime memberikan kata-kata kepada Fanny,” ujar Denny.
Denny menjelaskan, Fanny sebelumnya memang memiliki rekaman video yang memperlihatkan momen tersebut. Rekaman itu kemudian menjadi salah satu referensi dalam pembuatan film.
“Yang ada di film itu, Fanny belum pernah tayangkan videonya di media sosial. Dan itu adalah real, apa yang sebenarnya Hajime katakan kepada Fanny,” katanya.
Bahkan, menurut Denny, dialog dalam film dibuat sedekat mungkin dengan perkataan Hajime Kondoh yang sebenarnya.
“Jadi itu memang sampai kata-katanya disamakan dengan apa yang Hajime katakan. Jadi itu bukan diubah untuk film, tapi memang itu adalah real yang Hajime katakan,” tutur Denny.
Ia mengaku emosional ketika pertama kali melihat rekaman tersebut yang kemudian divisualisasikan kembali dalam film.
Denny semakin tersentuh karena dalam momen terakhirnya, Hajime masih mengingat Fanny dan menyampaikan rasa cintanya.
“Di masa akhirnya Hajime, dia tetap ingat Fanny dan bilang, ‘I love you, honey,'” ungkapnya.
Keajaiban di Tengah Kehilangan
Selain adegan terakhir Hajime Kondoh, Denny juga menyebut terdapat sejumlah bagian lain yang menurutnya sangat berkesan. Salah satunya adalah ketika Fanny mendapatkan kabar dari dokter mengenai kehamilannya.
Adegan tersebut dinilai memiliki emosi yang kuat karena kabar bahagia itu datang ketika Fanny baru saja kehilangan suaminya.
“Salah satu favoritku waktu Fanny dikasih tahu sama dokter Cynthia, ‘Congratulations’,” kata Denny.
Menurutnya, adegan tersebut terasa sangat menyentuh karena mempertemukan dua emosi yang bertolak belakang: kehilangan orang yang dicintai sekaligus datangnya sebuah kabar bahagia yang selama ini dinantikan.
“Dia baru banget kehilangan suaminya. Maksudnya kehilangan, tapi keajaiban yang baru datang,” ujarnya.
Dukungan Keluarga dalam Perjalanan Fanny
Dalam kesempatan yang sama, pemeran Retno, Fonny, turut berbicara mengenai arti penting keluarga dalam menghadapi masa-masa terberat dalam kehidupan.
Fonny mengaku terharu melihat antusiasme awak media yang hadir dalam acara tersebut. Ia berharap film yang dihadirkan dapat memberikan keberkahan bagi seluruh pihak yang terlibat maupun masyarakat yang menyaksikannya.
“Siang ini terasa begitu hangat dan mengharukan buat saya. Mudah-mudahan ini berkah juga buat semua yang menonton dan semua yang terlibat di dalamnya,” kata Fonny.
Ketika ditanya mengenai seberapa penting dukungan keluarga bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah dalam hidup, Fonny menilai keluarga memiliki peran yang sangat besar.
Menurutnya, keluarga merupakan pihak terdekat yang biasanya menjadi tempat pertama seseorang berbagi cerita ketika menghadapi persoalan kehidupan.
“Keluarga pastinya besar sekali dukungannya. Sebagai manusia yang terdekat, sebenarnya adalah keluarga. Jadi apa pun yang dialami, apa pun cerita yang dilalui di kehidupan, orang terdekat yang akan lebih dulu atau pertama dikasih tahu itu pasti keluarga,” ujarnya.
Namun, Fonny mengakui karakter Retno yang diperankannya dalam film justru tidak langsung memberikan dukungan kepada anaknya. Retno digambarkan sebagai sosok yang sempat berseberangan dengan keputusan sang anak.
“Sayangnya saya memerankan Retno yang justru terlihat tidak begitu mendukung di awalnya. Padahal sebagai manusia yang terdekat itu kan sebenarnya adalah keluarga,” kata Fonny.
Meski demikian, perjalanan cerita kemudian membuat karakter Retno mengalami perubahan. Ia perlahan menyadari keadaan yang dihadapi anaknya dan memahami keputusan yang diambil dalam kehidupannya.
Kisah Cinta, Keyakinan, dan Harapan
Melalui film tersebut, kisah Hajime Kondoh dan Fanny tidak hanya ditampilkan sebagai kisah cinta antara dua orang dari latar belakang berbeda. Cerita tersebut juga membawa tema tentang keyakinan, keluarga, kehilangan, perjuangan, dan harapan.
Bagi Denny Sumargo, perjalanan keduanya menunjukkan bagaimana sebuah keyakinan dapat menjadi kekuatan bagi seseorang untuk terus melangkah, bahkan ketika menghadapi situasi yang sangat berat.
Ia pun berharap pesan yang terkandung dalam kisah tersebut dapat sampai kepada penonton dan tidak berhenti sebagai sebuah cerita romantis semata.
Kisah Hajime Kondoh dan Fanny pada akhirnya menjadi gambaran tentang perjalanan dua manusia yang dipertemukan dalam keadaan yang tidak biasa, menghadapi berbagai tantangan, dan meninggalkan pesan mengenai cinta, kepercayaan kepada Tuhan, serta harapan yang terus hidup di tengah kehilangan.
Share this content:


