Loading Now

dr. Rudy Wenarta Jelaskan Rabun Jauh dan Dekat: Dipicu Gaya Hidup hingga Kebiasaan Baca

Jakarta – Kasus gangguan penglihatan seperti rabun jauh (minus) dan rabun dekat (plus) semakin banyak ditemukan, terutama pada usia muda. Dokter umum dan praktisi kesehatan, Dr. Rudy Wenarta, menyebut kondisi ini tidak lepas dari faktor gaya hidup.

“Banyak kasus rabun jauh itu dipengaruhi pola lingkungan, terutama kebiasaan membaca dan penggunaan mata yang berlebihan,” ujarnya.

Rabun Jauh Dipicu Kebiasaan Buruk

Rabun jauh atau miopi membuat penderitanya kesulitan melihat objek yang jauh. Menurut dr. Rudy, kondisi ini sering terjadi akibat kebiasaan membaca dalam posisi yang tidak tepat.

“Misalnya membaca sambil tiduran, pencahayaan kurang, atau memaksakan mata dalam waktu lama,” jelasnya.

Penggunaan gadget dalam durasi panjang tanpa istirahat juga memperburuk kondisi mata.

Rabun Dekat karena Faktor Usia

Sementara itu, rabun dekat atau presbiopi umumnya dialami seiring bertambahnya usia.

“Kalau rabun dekat biasanya karena faktor penuaan. Lensa mata sudah tidak sefleksibel dulu,” katanya.

Kondisi ini membuat seseorang kesulitan melihat objek dekat, terutama saat membaca.

Koreksi Utama: Kacamata atau Tindakan Medis

dr. Rudy menegaskan, secara medis gangguan ini terjadi pada lensa mata sehingga penanganan utamanya adalah koreksi penglihatan.

“Solusinya pakai kacamata, minus untuk rabun jauh, plus untuk rabun dekat. Atau tindakan medis seperti LASIK,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa metode seperti hipnoterapi tidak dapat memperbaiki kelainan ini karena bukan berbasis pada struktur fisik mata.

Akupuntur Hanya Bantu Gejala

Terkait terapi alternatif, seperti akupuntur, dr. Rudy menyebut hanya membantu mengurangi gejala, bukan menyembuhkan.

“Akupuntur bisa membantu mengurangi kelelahan mata atau membuat lebih rileks, tapi tidak mengurangi minus atau plusnya,” katanya.

Pola Hidup Jadi Kunci

Menurutnya, faktor utama tetap pada gaya hidup. Pola membaca, pencahayaan, hingga durasi penggunaan mata sangat berpengaruh.

“Kalau makan bergizi seperti vitamin A memang membantu, tapi bukan faktor utama. Yang paling penting itu pola hidup,” tegasnya.

Istirahatkan Mata dengan Aturan 20-20-20

Untuk mencegah gangguan mata, ia menyarankan pola istirahat yang cukup, salah satunya dengan metode 20-20-20.

“Setiap 20 menit, lihat objek sejauh sekitar 6 meter selama 20 detik,” jelasnya.

Selain itu, jika membaca atau menggunakan gadget dalam waktu 1-2 jam, disarankan untuk berhenti sejenak agar mata tidak kelelahan.

Stres Tidak Langsung Sebabkan Minus

Terkait anggapan stres bisa memperparah minus, dr. Rudy menyebut hal tersebut tidak berpengaruh langsung.

“Stres itu lebih ke psikis. Tapi bisa berdampak ke kualitas tidur dan kelelahan, yang akhirnya memengaruhi kondisi mata,” katanya.

Pesan: Perbaiki Kebiasaan Sejak Dini

Ia mengingatkan pentingnya menjaga kebiasaan sejak dini, terutama pada anak-anak yang kini semakin sering terpapar layar digital.

“Posisi membaca harus benar, pencahayaan cukup, dan jangan terlalu lama tanpa istirahat,” pungkasnya.

Share this content: