Loading Now

Tren Vape di Kalangan Anak Muda, dr. Frengky Ungkap Dampak Serius Bagi Kesehatan

Jakarta – Tren penggunaan vape di kalangan anak muda kian meningkat. Banyak yang menganggap rokok elektrik ini lebih aman dibanding rokok konvensional. Namun, anggapan tersebut ditegaskan keliru oleh dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med.

“Vape itu bukan alternatif sehat. Tetap berbahaya,” kata dr. Frengky.

Ia menjelaskan, vape tetap mengandung nikotin dalam kadar tinggi yang bisa menyebabkan ketergantungan. Selain itu, terdapat zat berbahaya lain seperti formaldehid, logam berat, dan bahan perasa kimia.

“Bukan cuma nikotin. Justru banyak bahan lain yang juga berisiko merusak tubuh,” ujarnya.

Bisa Rusak Paru-paru hingga Picu ‘Popcorn Lung’

Menurutnya, penggunaan vape dapat berdampak langsung pada organ pernapasan. Salah satu risiko yang disorot adalah kerusakan paru-paru, termasuk kondisi yang dikenal sebagai popcorn lung.

Kondisi ini terjadi akibat paparan zat kimia tertentu dalam perasa, yang jika dihirup terus-menerus bisa merusak jaringan paru.

“Awalnya dipakai di industri makanan, tapi ternyata berbahaya kalau terhirup,” jelasnya.

Ganggu Otak dan Picu Masalah Mental

Tak hanya paru-paru, vape juga berdampak pada otak. dr. Frengky menyebut penggunaan jangka panjang bisa menurunkan konsentrasi, memori, hingga memicu gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.

“Efeknya ke otak ada. Bisa bikin nggak fokus, gangguan tidur, bahkan depresi,” katanya.

Jadi Pintu Masuk Narkoba

Ia juga mengingatkan adanya penyalahgunaan vape dengan mencampurkan zat berbahaya, termasuk narkoba.

“Sekarang ada yang dicampur zat psikoaktif, bahkan obat anestesi. Ini sangat berbahaya karena efeknya bisa menurunkan kesadaran,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini juga menjadi perhatian serius aparat dan lembaga terkait.

Tanpa Nikotin Tetap Berbahaya

Banyak produk vape mengklaim “tanpa nikotin”. Namun, dr. Frengky menegaskan hal itu tidak serta-merta membuatnya aman.

“Asapnya tetap mengandung zat yang bisa merusak paru-paru dan tubuh secara keseluruhan,” jelasnya.

WHO Sudah Ingatkan

Lembaga kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), telah menyatakan bahwa vape tidak dianjurkan karena berdampak buruk bagi kesehatan.

Di Indonesia, edukasi juga terus dilakukan oleh para tenaga medis di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pesan: Jangan Sekadar Ikut Tren

dr. Frengky mengingatkan agar masyarakat, khususnya anak muda, tidak menjadikan vape sebagai bagian dari gaya hidup.

“Kalau cuma buat gaya, nggak ada manfaatnya. Justru merugikan kesehatan,” tegasnya.

Ia menambahkan, tren saat ini seharusnya bergeser ke pola hidup sehat.

“Sekarang yang keren itu hidup sehat, bukan merokok atau vape,” pungkasnya.

Share this content: