Wajah Natural Kini Jadi Tren, Dr. Frengky Ungkap Peran Biostimulator Kolagen
JAKARTA — Tren perawatan estetika kulit terus berkembang, salah satunya penggunaan collagen biostimulator atau biostimulator kolagen. Namun, masih banyak masyarakat yang mengira prosedur tersebut dilakukan dengan cara menyuntikkan kolagen langsung ke dalam kulit.
Dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med., menjelaskan bahwa pemahaman tersebut kurang tepat. Menurutnya, biostimulator kolagen pada prinsipnya bekerja dengan memberikan rangsangan agar kulit melakukan proses remodeling dan membentuk kolagen baru.
“Biostimulator kolagen itu maksudnya bukan kita menyuntikkan kolagen ke dalam tubuh atau ke dalam kulit. Kalau biostimulator, lebih karena remodeling,” ujar Dr. Frengky.
Ia menjelaskan, proses tersebut berkaitan dengan pemberian stimulasi terhadap fibroblas, yaitu sel yang berperan dalam pembentukan matriks ekstraseluler dan kolagen. Karena mekanismenya melalui proses biologis tersebut, hasil perawatan tidak selalu terlihat secara instan.
“Remodeling itu seperti memberikan rangsangan pada fibroblast untuk membentuk ekstraselular matrik dan kolagen baru,” katanya.
Berbeda dengan Filler yang Memberikan Efek Volume Lebih Cepat
Dr. Frengky menekankan adanya perbedaan antara biostimulator kolagen dan tindakan yang bertujuan memberikan volume secara langsung. Pada prosedur tertentu, efek pengisian volume dapat terlihat lebih cepat, sedangkan biostimulator membutuhkan waktu karena mengandalkan proses remodeling.
Menurut dia, biostimulator kolagen juga dapat digunakan untuk mendukung sejumlah tujuan estetika, seperti membantu mengencangkan kulit, meningkatkan elastisitas, melakukan skin rejuvenation, serta memperbaiki tampilan kerutan tertentu. Beberapa produk juga dapat memberikan kontribusi terhadap volume, tergantung karakteristik produk dan indikasinya.
“Kalau ini memang ada sebagian yang bisa membantu untuk volume juga, tapi bisa juga untuk mengencangkan, untuk skin elastisitas, untuk rejuvenation, untuk kerut-kerut. Jadi kerjanya lebih perlu waktu karena remodeling itu perlu waktu,” jelasnya.
Tren estetika saat ini, lanjut Dr. Frengky, juga mulai bergeser. Jika sebelumnya sebagian orang menginginkan perubahan bentuk wajah yang lebih terlihat, kini semakin banyak pasien menginginkan wajah yang tampak lebih sehat, muda, tetapi tetap natural.
Hasil Tidak Bisa Disamaratakan
Dr. Frengky mengatakan keberhasilan suatu prosedur biostimulator kolagen tidak dapat hanya dilihat dari jenis produknya. Hasil perawatan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi dan indikasi pasien, produk yang digunakan, teknik tindakan, kompetensi dokter, hingga ekspektasi pasien.
Karena itu, menurutnya, tidak semua orang akan memperoleh hasil yang sama meskipun menjalani prosedur yang serupa.
“Outcome-nya tergantung dari produk, indikasi pasien, teknik dokter yang mengerjakannya, dan ekspektasi yang lebih realistis,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada klaim pemasaran yang menjanjikan hasil instan atau berlebihan. Menurutnya, pendekatan berbasis bukti ilmiah (evidence-based medicine) tetap diperlukan dalam menilai efektivitas suatu tindakan estetika.
“Marketing itu bebas, bisa bilang langsung mudah, langsung hasilnya, langsung instan. Tapi ada remnya. Remnya itu evidence base. Evidence-based medicine itu remnya,” ujar Dr. Frengky.
Ia menambahkan bahwa biostimulator kolagen telah memiliki penelitian yang menunjukkan efektivitas pada indikasi tertentu. Namun, hasil penelitian tersebut tetap perlu dipahami sesuai produk, pasien, teknik pemberian, serta tujuan perawatannya.
Tetap Memiliki Risiko dan Efek Samping
Meskipun dilakukan untuk tujuan estetika, Dr. Frengky menegaskan bahwa biostimulator kolagen bukanlah tindakan yang bebas risiko.
Sejumlah efek samping atau komplikasi dapat terjadi, antara lain kemerahan, iritasi, infeksi, hematoma, hingga reaksi alergi. Karena itu, pemilihan tenaga medis yang kompeten menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keamanan prosedur.
“Semua obat pasti ada risikonya. Mau filler, mau biostimulator, itu ada risikonya,” katanya.
Menurutnya, dokter yang memiliki kompetensi di bidang tindakan tersebut harus memahami cara melakukan tindakan dengan tepat, melakukan pemantauan, serta mengetahui langkah yang harus diambil apabila terjadi efek samping atau komplikasi.
Dengan demikian, masyarakat tidak seharusnya menganggap suatu prosedur estetika sebagai tindakan yang sama sekali tanpa risiko.
Bukan Pengganti Operasi Plastik
Dr. Frengky juga mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap biostimulator kolagen sebagai pengganti operasi plastik.
Meski biostimulator dapat membantu memperbaiki kualitas kulit dan memberikan efek pengencangan pada kondisi tertentu, terdapat kasus-kasus yang membutuhkan tindakan bedah untuk mendapatkan hasil yang sesuai.
“Bukan berarti dia menggantikan operasi plastik. Beda. Untuk kasus-kasus tertentu yang memang membutuhkan penarikan, tidak bisa digantikan dengan melakukan biostimulator kolagen,” jelasnya.
Karena itu, pemilihan prosedur sebaiknya disesuaikan dengan kondisi anatomi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Tidak Permanen dan Membutuhkan Perawatan Lanjutan
Selain tidak memberikan hasil instan, hasil biostimulator kolagen juga bukan hasil permanen. Dr. Frengky menjelaskan bahwa pasien pada umumnya tetap membutuhkan perawatan lanjutan atau maintenance untuk mempertahankan hasil.
Lamanya dan tingkat hasil yang diperoleh juga dapat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Faktor seperti pola hidup, kondisi tubuh, pola makan, tingkat stres, serta paparan radikal bebas dapat turut memengaruhi kondisi kulit dan proses biologis di dalamnya.
“Kalau hasilnya permanen? Menurut saya, yang saya kerjakan selama ini tidak permanen. Biasanya perlu ada maintenance,” ujarnya.
Anak Muda dan Tren Preventive Aesthetic
Meningkatnya kesadaran terhadap perawatan kulit juga membuat tren preventive aesthetic semakin mendapat perhatian. Generasi muda kini mulai melakukan tindakan estetika dengan tujuan mempertahankan kondisi kulit sebelum muncul tanda-tanda penuaan yang lebih nyata.
Namun, Dr. Frengky mengingatkan agar tren tersebut tidak membuat masyarakat mencoba berbagai tindakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan.
Menurutnya, seseorang yang masih muda dan memiliki kondisi kolagen kulit yang baik belum tentu membutuhkan biostimulator kolagen.
“Kalau kamu masih muda, kolagen kamu masih bagus. Kalau disuntik biostimulator yang merangsang kolagen, sementara kolagen kamu masih bagus, ya jangan semuanya dicoba,” katanya.
Ia menyarankan masyarakat lebih bijaksana dalam memilih prosedur dan memperbanyak literasi mengenai kondisi kulit serta indikasi setiap tindakan.
“Lebih wise, lebih bijaksana. Literaturnya ditambah, jadi bisa dicek. Sekarang gampang mencari informasi, kulit saya seperti ini, yang harus dipakai apa, yang cocok apa. Setelah itu konsultasi ke dokter,” ujarnya.
Pilih Klinik dan Dokter, Bukan Sekadar Harga
Di tengah semakin populernya biostimulator kolagen, masyarakat juga dihadapkan pada banyak pilihan klinik dan promosi dengan beragam harga. Dr. Frengky menilai persaingan antar-klinik merupakan bagian dari dinamika bisnis. Namun, menurutnya, harga seharusnya bukan satu-satunya pertimbangan dalam memilih tempat melakukan prosedur estetika.
Hal yang lebih penting adalah memastikan tindakan dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten dan pasien mendapatkan penjelasan mengenai indikasi, manfaat, risiko, kemungkinan efek samping, serta ekspektasi hasil yang realistis.
Pada akhirnya, biostimulator kolagen bukanlah prosedur yang memberikan perubahan instan maupun permanen. Tindakan ini bekerja melalui proses biologis yang membutuhkan waktu dan hasilnya dapat berbeda pada setiap individu.
Karena itu, sebelum menjalani prosedur, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua tren estetika cocok untuk setiap orang. Konsultasi dengan dokter yang kompeten dan keputusan berdasarkan kebutuhan medis serta bukti ilmiah menjadi bagian penting agar tindakan estetika dilakukan secara lebih aman dan rasional.
Share this content:


