Loading Now

Sebelum Coba Liposhape, Simak Penjelasan Dr. Frengky soal Manfaat hingga Risikonya

JAKARTA — Tren perawatan untuk membentuk kontur wajah semakin banyak diminati masyarakat. Salah satu istilah yang kerap muncul adalah liposhape, yang sering dianggap sebagai teknologi medis khusus untuk menghilangkan lemak. Namun, menurut Praktisi Kesehatan Dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med., pemahaman tersebut perlu diluruskan.

Dr. Frengky menjelaskan, liposhape pada dasarnya lebih mengarah pada konsep contouring atau pembentukan kontur tubuh dan wajah. Istilah tersebut dapat digunakan oleh klinik untuk menyebut protokol perawatan yang mengombinasikan berbagai metode atau teknologi medis.

“Liposhape itu bukan teknologi medis yang spesifik. Lebih ke arah treatment contouring. Protokol kesehatan tiap klinik bisa berbeda-beda, sehingga mereka bisa menggunakan nama liposhape,” ujar Dr. Frengky.

Menurutnya, perawatan tersebut umumnya ditujukan untuk membantu mengurangi lemak pada area tertentu, memperbaiki kontur wajah maupun tubuh, serta membantu mengencangkan kulit atau tightening.

Bisa untuk Wajah hingga Double Chin

Dr. Frengky mengatakan, area wajah menjadi salah satu bagian yang dapat ditangani dengan konsep liposhape. Beberapa area yang sering menjadi perhatian antara lain pipi, area bawah dagu atau double chin, hingga bagian wajah tertentu yang dianggap membutuhkan pembentukan kontur.

Namun, bentuk wajah yang bulat tidak selalu disebabkan oleh penumpukan lemak.

“Kalau bentuk wajah bulat itu banyak faktor yang memengaruhi. Tidak hanya lemak. Bisa karena edema atau cairan, bisa juga karena otot, misalnya otot masseter, kemudian faktor genetik, bahkan penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang,” jelasnya.

Karena penyebabnya beragam, dokter perlu melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum menentukan metode perawatan yang sesuai.

Berbagai Metode Bisa Digunakan

Menurut Dr. Frengky, pembentukan kontur wajah dapat dilakukan dengan berbagai metode, baik menggunakan teknologi non-bedah maupun tindakan medis lainnya.

Beberapa teknologi yang dapat digunakan antara lain radiofrekuensi, ultrasound, HIFU, cryolipolysis, hingga penggunaan asam deoksikolat melalui tindakan injeksi pada indikasi tertentu.

Pemilihan metode tersebut, kata dia, harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan target yang ingin dicapai.

“Kalau misalnya tujuannya mengurangi lemak di wajah atau karena berat badannya berlebih, harus dikombinasikan antara treatment dengan lifestyle, gaya hidup, dan penurunan berat badan,” katanya.

Ia menegaskan, face contouring dan penurunan berat badan merupakan dua hal yang berbeda, meskipun keduanya dapat saling memengaruhi.

Seseorang yang menjalani perawatan di area wajah tidak serta-merta akan mengalami penurunan berat badan secara keseluruhan. Begitu pula sebaliknya, penurunan berat badan dapat mengubah distribusi lemak pada wajah dan tubuh setiap orang secara berbeda.

Ekspektasi Harus Realistis

Dalam menjalani perawatan estetika, Dr. Frengky mengingatkan pasien agar memiliki ekspektasi yang realistis.

Menurutnya, keberhasilan suatu tindakan tidak bisa hanya dinilai berdasarkan pendapat orang lain. Dari sudut pandang pasien, tindakan dapat dianggap berhasil apabila hasilnya sesuai dengan tujuan yang diharapkan, membuat pasien merasa nyaman dan meningkatkan rasa percaya diri.

Sementara dari sisi medis, tindakan juga dinilai berdasarkan apakah prosedur dilakukan sesuai standar operasional, berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan komplikasi.

“Kalau treatment-nya smooth, tidak ada masalah, tidak ada komplikasi dan hasilnya sesuai SOP, dari sisi operator itu berarti tidak gagal,” ujarnya.

Meski demikian, setiap tindakan medis tetap memiliki risiko. Risiko tersebut dapat berbeda-beda tergantung kondisi pasien, jenis tindakan dan obat yang digunakan.

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain reaksi alergi terhadap obat atau anestesi, kemungkinan mengenai pembuluh darah saat tindakan, serta adanya penyakit penyerta atau kondisi medis tertentu yang dapat menjadi penyulit.

Hasil Tidak Bisa Disebut Permanen

Dr. Frengky juga mengingatkan pasien agar tidak menganggap liposhape maupun penurunan berat badan sebagai hasil yang bersifat permanen.

Pasalnya, tubuh tetap mengalami proses penuaan atau aging. Perubahan berat badan dan distribusi jaringan juga dapat memengaruhi kembali bentuk wajah maupun tubuh.

“Kalau hasil ditanya permanen atau tidak, kita tidak menyebut kata permanen. Tetap dipengaruhi proses aging. Liposhape atau penurunan berat badan bukan berarti anti-aging,” jelasnya.

Karena itu, hasil perawatan perlu didukung dengan pola hidup yang sehat agar dapat dipertahankan secara optimal.

Bedah dan Non-Bedah Bisa Menjadi Pilihan

Selain metode non-bedah, pembentukan kontur wajah juga dapat dilakukan melalui tindakan bedah atau invasif, tergantung indikasi pasien.

Salah satunya adalah rhytidectomy atau facelift, yang merupakan prosedur bedah untuk menangani perubahan tertentu pada wajah akibat proses penuaan.

Namun, tidak semua pasien membutuhkan tindakan bedah. Pilihan metode harus ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

“Kalau mau dikombinasikan dengan plastic surgery juga boleh, tergantung indikasi, dokternya, dan operatornya. Yang penting dilakukan oleh dokter yang kompeten di bidangnya,” kata Dr. Frengky.

Pemeriksaan Sebelum Tindakan Sangat Penting

Sebelum menjalani prosedur, pasien sebaiknya menjalani konsultasi dan pemeriksaan terlebih dahulu. Dokter perlu mengetahui riwayat alergi obat, penyakit yang pernah atau sedang diderita, serta kemungkinan adanya kondisi medis yang dapat menjadi penyulit.

Riwayat kelainan darah juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama apabila tindakan yang direncanakan berpotensi menimbulkan perdarahan atau membutuhkan penggunaan obat tertentu.

“Dokter akan menganamnesis dulu, melihat riwayat alergi obat, riwayat penyakit, penyulit dan segala macam. Kemudian sebelum tindakan juga dilihat tindakan ini berisiko mengeluarkan banyak darah atau tidak,” tuturnya.

Dengan pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan apakah tindakan aman dilakukan dan metode apa yang paling sesuai.

Gaya Hidup Tetap Menjadi Faktor Penting

Dr. Frengky menekankan bahwa perawatan estetika tidak seharusnya berdiri sendiri. Jika pasien ingin mendapatkan dan mempertahankan hasil yang optimal, perawatan perlu disertai pola hidup sehat.

Hal tersebut mencakup pola makan yang baik, asupan nutrisi yang cukup, olahraga secara teratur, serta manajemen stres.

Pasien juga disarankan menghindari kebiasaan yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan, termasuk konsumsi alkohol, merokok dan penggunaan narkoba.

“Kalau memang mau hasilnya maksimal dan lebih tahan, otomatis harus dibantu dengan pola hidup, gaya hidup, lifestyle juga mesti dijaga. Gaya hidup sehat, pola makan sehat, nutrisi, olahraga teratur dan manajemen stres yang baik,” pungkas Dr. Frengky.

Dengan demikian, liposhape lebih tepat dipahami sebagai pendekatan perawatan untuk membantu membentuk dan memperbaiki kontur pada area tertentu, bukan sebagai solusi tunggal untuk menurunkan berat badan secara keseluruhan. Konsultasi dengan dokter yang kompeten menjadi langkah penting agar metode yang dipilih sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan keamanan pasien.

Share this content: