Loading Now

Luvita Ho Wakili Indonesia di Bite Me Sweet, Sulap Karakter Jadi Dessert

JAKARTA, – Viu menghadirkan reality series kuliner original terbaru, Bite Me Sweet, yang resmi tayang mulai 17 April di Indonesia.

Berbeda dari kompetisi baking pada umumnya, program ini membawa pendekatan yang lebih dalam, menjadikan dessert sebagai medium untuk membaca dan menerjemahkan karakter manusia.

Dipandu oleh Yoon Shi-yoon, Bite Me Sweet mempertemukan pastry chef terbaik Asia Tenggara dengan selebriti Korea dalam format kompetisi lintas budaya.

Dalam setiap tantangan, para peserta diminta menciptakan dessert dengan rasa dan tampilan terbaik, dan menerjemahkan kepribadian “muse” mereka ke dalam bentuk hidangan.

Di antara para peserta, Luvita Ho dari Indonesia tampil dengan pendekatan yang menggabungkan kreativitas dan observasi karakter. Sebagai pemenang termuda MasterChef Indonesia sekaligus kreator konten dengan lebih dari 1,2 juta subscribers, Luvita membawa perspektif berbeda dalam melihat dessert—bukan sekadar produk kuliner, tetapi refleksi kepribadian.

Luvita Ho bergabung dalam kompetisi bersama chef dari Malaysia, Hong Kong, Thailand, dan Filipina, yang masing-masing membawa pengaruh budaya serta kreativitas kuliner yang menonjolkan keragaman dan inovasi dalam perkembangan dessert modern Asia Tenggara.

“Dessert membutuhkan tingkat presisi yang tinggi. Implementasi rasa, tekstur, dan tujuan dessert tersebut disajikan bisa menunjukkan karakter seseorang—apakah perfeksionis, risk taker, atau autentik,” ujar Luvita Ho.

Dalam kompetisi ini, Luvita dipasangkan dengan Lee Sae-on, salah satu rising star Korea Selatan, untuk menciptakan dessert yang terinspirasi dari karakter dan kepribadiannya. Proses kreatif tersebut dimulai jauh sebelum memasak—dengan observasi mendalam terhadap muse yang menjadi sumber inspirasi.

First impression matters. Setiap orang punya vibe yang berbeda. Aku biasanya perhatikan cara mereka berbicara, gaya berpakaian, sampai energi yang mereka bawa,” jelasnya. “Dari situ aku bisa membayangkan visual dan tekstur dessert yang paling sesuai untuk menggambarkan karakter mereka.”

Menurut Luvita, rasa memiliki dimensi emosional yang universal dalam menyampaikan identitas seseorang. “Rasa adalah bahasa emosi yang paling universal,” tambahnya.

Pendekatan ini menjadikan Bite Me Sweet lebih dari sekadar kompetisi kuliner. Program ini menghadirkan eksplorasi tentang bagaimana makanan dapat menjadi medium ekspresi—menghubungkan rasa, emosi, dan identitas dalam satu pengalaman yang utuh.

Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Kolaborasi lintas budaya menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam komunikasi antara chef dan muse yang berasal dari latar belakang berbeda.

“Perbedaan bahasa dan kultur membuat komunikasi jadi tidak selalu mudah. Kadang kami mengandalkan bahasa tubuh untuk saling memahami,” ungkap Luvita. Meski demikian, dinamika tersebut justru memperkaya proses kreatif selama kompetisi berlangsung.

Menggabungkan cita rasa Asia Tenggara dengan inspirasi camilan Korea, Bite Me Sweet juga memperluas perspektifnya ke ranah gaya hidup seperti kecantikan dan fashion, menjadikannya sebagai konten yang tidak hanya relevan bagi pecinta kuliner, tetapi juga audiens hiburan dan lifestyle.

Tim pemenang akan mendapatkan kesempatan untuk meluncurkan pop-up store Bite Me Sweet di Singapura, membawa pengalaman dari layar ke dunia nyata melalui konsep yang menghubungkan hiburan, kreativitas, dan interaksi langsung dengan audiens.

Diproduksi oleh Studio CR, series ini menjadi bagian dari kolaborasi strategis Viu bersama Korea Creative Content Agency (KOCCA) dan Ministry of Culture, Sports and Tourism (MCST) dalam mengembangkan konten dengan daya tarik global yang menggabungkan kekuatan budaya Korea dan Asia Tenggara.

Melalui pendekatannya yang unik, kehadiran Luvita Ho dalam Bite Me Sweet  membawa nama Indonesia ke panggung regional, sekaligus memperkenalkan cara baru dalam melihat dessert sebagai medium untuk memahami manusia.

Share this content: