Anrez Adelio Pertanyakan Klaim Mediasi Damai: “Kok Sudah Tanda Tangan, Masih Ada yang Kurang?”
Jakarta — Anrez Adelio angkat bicara terkait polemik kesepakatan damai yang sebelumnya telah dilakukan bersama pihak Icel. Anrez mempertanyakan pernyataan yang menyebut adanya tekanan saat proses penandatanganan kesepakatan tersebut.
Menurut Anrez, proses mediasi dan pembuatan kesepakatan damai saat itu dilakukan dengan melibatkan pihak pengacara Icel. Ia pun merasa heran ketika kemudian muncul pernyataan bahwa Icel tidak membaca atau tidak mengetahui isi dokumen yang ditandatangani.
“Yang nulis perjanjian damai itu lawyernya dia. Oke? Tapi dia bilang dia lagi di toilet. Selama apakah dia di toilet? Itu kan poinnya ada banyak,” ujar Anrez.
Anrez juga mempertanyakan apakah masuk akal seseorang menandatangani dokumen yang memiliki banyak poin tanpa terlebih dahulu membacanya.
“Dia kan bukan anak kecil. Ada sesuatu hal yang besar harus ditandatangani, terus dia enggak baca dulu. Gitu loh,” katanya.
Anrez Sebut Keluarga Icel Berada di Lokasi
Anrez juga membantah adanya dugaan tekanan dalam proses mediasi tersebut. Ia menyebut pihak keluarga Icel berada di lokasi ketika proses pembahasan kesepakatan berlangsung.
Menurutnya, bukan hanya Icel yang hadir. Sejumlah anggota keluarganya disebut turut berada di tempat tersebut.
“Kalau dibilang tekanan, maksudnya ini kan yang semuanya agendanya yang megang kertas kan lawyernya dia, Pak Santo. Jadi enggak mungkin lawyer sendiri neken klien,” tutur Anrez.
“Kalau ada tekanan, yang tertekan justru pihak gue. Karena pihak gue cuma aku, Ali saudara aku, sama lawyer. Kalian tahu, mereka sekeluarga,” lanjutnya.
Anrez kemudian mempertanyakan bagaimana mungkin Icel merasa tertekan apabila sejumlah anggota keluarganya juga berada di lokasi.
“Keluarganya rame ada di situ. Ada fotonya. Sekeluarga. Gimana caranya keluarganya tidak mendengarkan kita semeja?” ujarnya.
Ia juga menyebut isi notulen atau kesepakatan tersebut sempat dibacakan dalam proses mediasi.
Anrez Singgung Pernyataan Icel Saat Konferensi Pers
Anrez kemudian menyoroti konferensi pers yang dilakukan Icel. Ia mengaku justru merasa pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana masing-masing pihak memandang persoalan yang sedang terjadi.
“Saya bersyukur, secara enggak langsung dia sudah nunjukin siapa dirinya. Dia sudah nunjukin bagaimana karakter aslinya,” kata Anrez.
Anrez merasa heran lantaran pihak yang membuat draft kesepakatan melalui pengacaranya kemudian disebut merasa dirugikan oleh isi dokumen tersebut.
“Kok bisa nyalahin lawyer sendiri? Kecuali yang nulis lawyernya, dia baru bisa merasa dirugikan, dia baru bisa merasa dibohongin di situ,” ucapnya.
Ia juga mempertanyakan mengapa kesepakatan yang sebelumnya sudah disetujui dan ditandatangani masih kembali dipermasalahkan.
“Sudah ngajak damai duluan, pihakku mau menerima damainya. Sama-sama sudah tanda tangan, kok masih ada yang kurang lagi? Kok bisa sudah tanda tangan, lawyernya yang nulis setiap poin, kok bisa mau diganti lagi?” tuturnya.
Anrez Bantah Persoalan Hanya Soal Rp900 Ribu dan Rp3 Juta
Dalam kesempatan tersebut, Anrez juga menanggapi narasi mengenai uang Rp900 ribu serta nominal Rp3 juta per bulan yang disebut menjadi salah satu poin dalam kesepakatan.
Ia menilai persoalan tersebut tidak sesederhana nominal yang disebut dalam konferensi pers.
“Lucunya adalah yang poin dia kemarin sampaikan cuma poin Rp3 juta per bulan, dan that’s it. Kalau lo mau tahu notulen, baca deh poin awal-awalnya apa,” kata Anrez.
Menurut Anrez, nominal Rp3 juta tersebut merupakan angka minimal, bukan batas maksimal tanggung jawab yang bersedia diberikan olehnya.
“Itu minimal loh, Kak. Aku bilang minimal. Rp3 juta bukan tok Rp3 juta. Gila kali gue. Rp3 juta itu minimal,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku tidak mempermasalahkan apabila jumlah yang harus diberikan lebih besar.
“Gue bisa ngasih tiga kali lipat, lima kali lipat, enggak masalah. Tapi maksudnya seminim-minimnya lo akan dapat minimal Rp3 juta,” kata Anrez.
Anrez Klaim Sudah Menanggung Sejumlah Kebutuhan
Anrez juga mengklaim dirinya telah memberikan tanggung jawab terhadap berbagai kebutuhan Icel dan anaknya. Ia menyebut pengeluaran tersebut bahkan telah berlangsung sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan.
“Gue rembes dari mulai dia hamil sampai dia lahiran. Rumah sakit, dari lahir sampai ke detik ini,” ujarnya.
Anrez menyayangkan apabila berbagai hal tersebut tidak masuk dalam pembahasan publik dan justru hanya nominal Rp3 juta per bulan yang disorot.
“Gimana bisa yang di-highlight cuma yang Rp3 juta? Itu minimal,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi pekerjaannya disebut ikut terdampak setelah polemik yang berlangsung selama berbulan-bulan. Karena itu, Anrez mengaku kemudian mengalihkan sebagian asetnya ke bisnis.
“Karena dampak dari yang selama 13 bulan yang dijelek-jelekin gue di media, pasti kerjaan gue berdampak. Akhirnya aset-aset gue gue alihin ke bisnis,” tuturnya.
Anrez: Kalau Mau Damai, Tinggal Ajukan Rincian
Terkait proses perdamaian, Anrez mengatakan dirinya sebenarnya bersedia memenuhi sejumlah kewajiban yang telah disepakati. Ia bahkan menyebut pihak Icel seharusnya dapat mengajukan rincian biaya yang dibutuhkan.
“Dia yang tahu biaya rumah sakitnya berapa. Dia yang tahu berapa kemarin selama lahir. Tugas gue tinggal bayar,” ujar Anrez.
Menurut Anrez, jika pihak Icel memang menginginkan penyelesaian secara damai, rincian tersebut seharusnya dapat disampaikan untuk kemudian diselesaikan.
“Lu yang mau damai nih, lu tinggal nyodorin berapa, selesai. Malah bikin drama baru,” katanya.
Anrez pun mengaku kecewa karena proses yang awalnya diharapkan menjadi jalan keluar justru kembali menimbulkan polemik.
“That’s why kemarin aku meledak dengan postingan lu yang kemarin, dengan postingan aku kemarin. Aku ngerasa kayak, orang gila banget ini. Masya Allah, enggak ada puasnya,” ucapnya.
Anrez menegaskan dirinya sebenarnya tidak ingin terus memperpanjang persoalan tersebut. Ia bahkan mengaku masih memiliki bukti-bukti lain yang dapat digunakan untuk menjelaskan versinya, tetapi memilih untuk tidak seluruhnya dipublikasikan.
“Aku sebenarnya kalau aku mau nunjukin semua bukti, ya selesai dia. Selesai dia kalau aku tunjukin semua bukti. Aku masih enggak mau, biarin aja,” kata Anrez.
Ia pun kembali meminta agar isi kesepakatan dilihat secara utuh, bukan hanya mengambil satu poin mengenai nominal Rp3 juta per bulan.
“Kalau bisa lihat notulen itu dari awal sampai akhir. Jangan cuma satu poin yang di-highlight,” pungkasnya.
Share this content:


