Denny Sumargo Rela Botak Demi Film Baby Udon, Fanny Kondoh: ‘Feel Suami Saya Banget’
Jakarta – Denny Sumargo mengungkap pengalaman emosional saat memerankan almarhum Hajime Kondoh dalam film Baby Udon. Menurutnya, proses syuting dipenuhi berbagai keajaiban hingga membuat dirinya merasa benar-benar melebur dengan sosok yang diperankannya.
Denny bercerita, keterlibatannya dalam film bermula setelah Fanny Kondoh datang kepadanya dan menceritakan kisah hidup bersama mendiang suaminya, Hajime Kondoh. Dari pertemuan tersebut, tanpa diduga ia justru dipercaya memerankan tokoh utama.
“Teman saya datang dan menceritakan kisahnya bersama almarhum suaminya. Panjang ceritanya, sampai akhirnya saya sendiri juga nggak menyangka bisa jadi orang yang memerankan beliau di film ini,” ujar Denny.
Meski memerankan tokoh sentral, Denny mengaku nyaris tak memiliki persiapan khusus karena saat itu tengah sibuk menjadi produser di proyek lain.
“Anehnya, waktu saya melihat preview filmnya, saya sampai berpikir, ‘kok saya nggak lihat Denny Sumargo ya?’. Rasanya Denny-nya hilang, yang ada cuma Hajime Kondoh,” katanya.
Salah satu pengorbanan terbesar yang dilakukan Denny adalah mencukur habis rambutnya demi kebutuhan cerita. Dalam film tersebut, karakter Hajime Kondoh diceritakan mengidap kanker dan harus menjalani kemoterapi.
Awalnya, tim produksi menawarkan penggunaan prostetik kepala botak. Namun Denny memilih mencukur rambutnya sendiri karena merasa hasilnya akan lebih natural.
“Kalau pakai prostetik, pasangnya dua jam, lepasnya dua jam. Saya nggak suka yang ribet. Akhirnya saya bilang ya sudah, botakin saja. Saya pernah botak juga sebelumnya, jadi sekalian saja,” ungkapnya.
Keputusan itu rupanya mendapat respons positif dari orang-orang terdekat Hajime Kondoh.
Fanny Kondoh mengaku sempat bertanya-tanya apakah sosok suaminya benar-benar bisa direpresentasikan di layar lebar. Namun keraguannya sirna setelah melihat penampilan Denny.
“Sebagai istri, awalnya saya berpikir memang bisa ya direpresentasikan? Tapi setelah melihat prosesnya, saya merasa, ini benar-benar feel suami saya. Secara emosional dia berhasil menghadirkan sosok Hajime Kondoh,” tutur Fanny.
Tak hanya Denny, Fanny juga memuji penampilan Kathleen yang memerankan dirinya di film tersebut. Menurutnya, akting sang aktris berhasil menangkap gestur, logat, hingga emosinya.
“Bahkan ada beberapa adegan yang suaranya benar-benar mirip saya. Logatnya dapat, pembawaannya juga terasa natural. Orang Jakarta kalau mencoba logat daerah biasanya terdengar aneh, tapi dia berhasil membawakannya dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Denny mengungkap proses pendalaman karakter dilakukan dengan sangat serius. Ia mengaku menonton seluruh dokumentasi kehidupan Hajime Kondoh dan Fanny, termasuk rekaman saat Hajime Kondoh menjalani masa-masa terakhir sebelum meninggal dunia.
“Saya nonton semua footage mereka, termasuk detik-detik sakaratul maut Hajime Kondoh. Itu berat sekali. Saya sampai jam dua pagi menangis sambil menulis dialog demi dialog,” kata Denny.
Menurut Denny, pengalaman tersebut menjadi salah satu proses akting paling emosional sepanjang kariernya. Bahkan ia tak ragu memberikan pujian kepada lawan mainnya, Kathleen, yang dinilainya menampilkan performa terbaik.
“Tanpa mengesampingkan film-film Kathleen yang lain, menurut saya ini akting terbaiknya. Saya punya feeling dia layak masuk nominasi penghargaan,” ucap Denny.
Di balik chemistry yang kuat antara Denny dan Kathleen sebagai pasangan suami istri di layar, Denny mengaku tetap menjaga batas selama proses syuting. Ia berseloroh bahwa sang istri memberikan restu, tetapi tetap mengawasinya.
“Istri sih kasih restu karena tahu ini pekerjaan. Tapi CCTV banyak di mana-mana. Saya harus hati-hati. Jangan sampai pulang ke rumah malah harta dan anak saya hilang,” canda Denny yang disambut tawa awak media.
Share this content:


