Loading Now

Down Syndrome Tak Bisa Disembuhkan, dr. Rudy Wenarta Tekankan Pentingnya Terapi Sejak Dini

JAKARTA — Anak dengan Down syndrome membutuhkan pendampingan dan intervensi sejak dini agar kemampuan motorik, komunikasi, kognitif, serta kemandiriannya dapat berkembang secara optimal. Meski kondisi Down syndrome merupakan kelainan genetik yang tidak dapat “diperbaiki” melalui terapi, berbagai terapi pendamping dapat membantu meningkatkan kemampuan dan kualitas hidup anak.

Hal tersebut disampaikan dr. Rudy Wenarta saat menjelaskan mengenai penanganan anak dengan Down syndrome, termasuk manfaat fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, akupunktur hingga hipnoterapi.

Menurut dr. Rudy, Down syndrome terjadi akibat adanya salinan ekstra pada kromosom. Secara umum manusia memiliki 46 kromosom atau 23 pasang, sedangkan individu dengan Down syndrome umumnya memiliki 47 kromosom karena adanya tambahan salinan kromosom 21.

“Kalau sudah genetik, secara medis memang tidak bisa diperbaiki. Tetapi dengan penanganan dini, seperti fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi dan pendampingan keluarga yang berkelanjutan, perkembangan anak Down syndrome bisa jauh lebih baik,” jelasnya.

Terapi bukan memperbaiki kondisi genetik

Dr. Rudy menegaskan bahwa terapi tidak bertujuan menghilangkan Down syndrome. Terapi lebih berfungsi sebagai intervensi untuk membantu anak mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya.

Pada sebagian anak, perkembangan motorik maupun kemampuan bicara dapat berlangsung lebih lambat dibandingkan anak pada umumnya. Karena itu, stimulasi dan terapi yang diberikan sejak usia dini dinilai penting.

“Prinsipnya, makin awal dilakukan intervensi dengan terapi dan pendampingan, perkembangan anak ke depannya akan jauh lebih baik,” katanya.

Terapi wicara, misalnya, dapat diberikan ketika anak mulai menunjukkan kemampuan memahami dan berkomunikasi. Sementara fisioterapi dapat membantu mendukung perkembangan motorik sejak anak masih kecil.

Akupunktur bersifat suportif

Selain terapi konvensional, dr. Rudy menyebut akupunktur dapat digunakan sebagai terapi pendamping atau suportif, terutama ketika terdapat keluhan tertentu.

Akupunktur, menurutnya, lebih diarahkan pada kondisi atau gejala yang menyertai, bukan untuk mengatasi penyebab genetik Down syndrome.

“Kalau untuk akupunktur sendiri biasanya lebih ke arah simptomatis. Kalau ada keluhan, misalnya kurang nyaman atau nyeri dan sebagainya, akupunktur bisa membantu. Bisa juga untuk relaksasi,” ujarnya.

Relaksasi dapat menjadi salah satu manfaat yang dipertimbangkan, terutama apabila anak mengalami gangguan tidur atau membutuhkan bantuan untuk membuat tubuh lebih rileks.

Namun, penggunaan terapi tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak, termasuk adanya masalah kesehatan lain yang menyertai Down syndrome.

Hipnoterapi bergantung pada kemampuan kognitif

Sementara itu, hipnoterapi juga dapat menjadi terapi pendamping pada kondisi tertentu. Namun, dr. Rudy menekankan bahwa keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan kognitif dan komunikasi anak.

Pasalnya, hipnoterapi membutuhkan kemampuan pasien untuk memahami komunikasi dan menerima sugesti.

“Hipnoterapi bisa membantu, tetapi harus melihat kemampuan kognitifnya. Kita melihat apakah dia bisa menerima sugesti atau tidak. Pasien harus bisa komunikatif dan menerima sugesti,” jelasnya.

Karena itu, hipnoterapi dinilai lebih memungkinkan dilakukan pada anak yang sudah lebih besar dan memiliki kemampuan komunikasi serta kognitif yang memadai. Pada anak yang masih terlalu kecil atau belum mampu memahami instruksi, metode tersebut dapat menjadi kurang efektif.

Hipnoterapi, jika sesuai dengan kondisi anak, dapat diarahkan untuk membantu relaksasi, gangguan tidur, ketakutan tertentu, maupun aspek sosial dan emosional.

Kelainan jantung perlu menjadi pertimbangan

Down syndrome juga dapat disertai sejumlah kondisi kesehatan lain. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah kelainan jantung bawaan.

Menurut dr. Rudy, kondisi jantung harus diperhatikan sebelum menentukan intervensi terapi tertentu. Anak dengan Down syndrome perlu mendapatkan penilaian secara menyeluruh sehingga terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi kesehatannya.

“Kalau memang ada kelainan jantung, itu harus dilihat. Kita harus melihat apakah dia bisa tanpa intervensi jantung atau memang ada kelainan jantung yang kadang-kadang harus dioperasi. Itu menjadi pertimbangan kita juga,” katanya.

Karena itu, terapi sebaiknya tidak diberikan secara terpisah tanpa memperhatikan kondisi medis anak secara keseluruhan.

Intervensi sejak dini menjadi kunci

Dr. Rudy mengatakan, perkembangan anak dengan Down syndrome sangat dipengaruhi oleh dukungan dan intervensi yang diberikan sejak dini.

Selain keterlambatan motorik dan bicara, sebagian anak dapat memiliki kondisi penyerta seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan maupun kelainan jantung. Namun, kondisi tersebut tidak selalu muncul pada setiap anak.

Ia juga menilai anak dengan Down syndrome memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai kemampuan dan bakat apabila mendapatkan dukungan yang tepat.

“Kalau ada intervensi lebih dini dengan terapi yang baik dari awal, perkembangannya jauh lebih baik. Mereka bisa kreatif dan punya bakat. Yang penting bakatnya disalurkan dan diarahkan secara tepat,” tuturnya.

Menurutnya, masyarakat juga perlu melihat kemampuan anak dengan Down syndrome secara lebih positif. Keterlambatan perkembangan tidak berarti anak tidak mampu belajar, berkomunikasi, berkarya, maupun beraktivitas.

Orang tua diminta tidak menyerah pada stigma

Dr. Rudy juga menyampaikan pesan kepada orang tua agar tidak menganggap Down syndrome sebagai akhir dari masa depan anak.

Ia menekankan bahwa Down syndrome bukan kesalahan orang tua. Kondisi tersebut terjadi karena adanya perubahan genetik berupa salinan ekstra kromosom.

“Orang tua tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Down syndrome bukan kesalahan orang tua. Memang sudah terjadi proses salinan ekstra genetik,” ujarnya.

Menurutnya, hal terpenting adalah menerima kondisi anak sekaligus memberikan dukungan dan pendampingan yang dibutuhkan.

“Anak dengan Down syndrome sebetulnya bisa berkembang. Memang agak terlambat dan membutuhkan tenaga serta perhatian ekstra supaya bisa berkembang optimal. Jadi tidak usah khawatir dan tidak usah takut berlebihan,” katanya.

Ia mendorong keluarga untuk memberikan pendidikan, stimulasi dan terapi sesuai kebutuhan anak. Dengan pendampingan yang konsisten, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri, kreatif dan mampu beraktivitas sesuai potensinya.

Pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan juga penting

Selain penanganan setelah anak lahir, dr. Rudy turut mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan dan konsultasi sebelum kehamilan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko tertentu.

Ia menyebut usia ibu yang lebih tinggi sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya risiko Down syndrome. Karena itu, pasangan yang merencanakan kehamilan disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan dan berkonsultasi dengan tenaga medis.

“Untuk orang yang sudah di atas 35 tahun, faktor risikonya lebih tinggi. Kalau ada riwayat keluarga dengan Down syndrome, disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan secara lebih detail sebelum hamil lagi,” ujarnya.

Pada akhirnya, penanganan Down syndrome bukan mengenai upaya mengubah kondisi genetik anak, melainkan membantu anak mencapai kemampuan terbaiknya. Terapi seperti fisioterapi, terapi wicara dan terapi okupasi tetap menjadi bagian penting dalam intervensi, sementara akupunktur dan hipnoterapi dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

Dengan intervensi yang tepat, konsisten dan dilakukan sedini mungkin, anak dengan Down syndrome memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan kemampuan, bakat, serta kemandiriannya.

Share this content: