Dr. Frengky Soroti Promosi Vape ke Anak, Sebut Influencer Harus Lebih Bijak Bikin Konten
Jakarta – Praktisi kesehatan Dr. Frengky, Dip.Cib.Cid.Cos.Med., mengingatkan bahaya promosi vape yang menyasar anak-anak dan remaja. Menurutnya, anggapan bahwa vape lebih sehat dibanding rokok sudah lama terbantahkan karena rokok elektrik tetap mengandung berbagai zat berbahaya.
Hal itu disampaikan Dr. Frengky saat ditemui di Thamrin City, Jakarta Pusat, Senin (3/8/2026).
“Stigma kalau vape lebih sehat daripada rokok itu sudah diluruskan. Faktanya nikotin tetap ada sehingga menyebabkan kecanduan. Selain itu ada logam berat, bahan kimia lain, termasuk diacetyl yang bisa memicu popcorn lung,” kata Dr. Frengky.
Ia menjelaskan, kandungan nikotin pada vape tetap bersifat adiktif. Tak hanya itu, liquid vape juga disebut dapat mengandung formaldehida dan zat karsinogenik yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan paru-paru hingga kanker.
Dr. Frengky kemudian menyoroti maraknya konten influencer yang mempromosikan vape. Menurutnya, konten seperti itu berbahaya jika dikonsumsi anak-anak dan remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan.
“Dari sisi medis dan psikologis, otak anak dan remaja masih berkembang. Bagian prefrontal cortex yang mengatur pengambilan keputusan dan kontrol diri belum matang. Karena itu mereka lebih mudah terpengaruh dan ikut-ikutan,” ujarnya.
Ia menilai kreator konten seharusnya lebih berhati-hati sebelum mengunggah materi di media sosial. Apalagi, menurutnya, konten negatif dapat menyebar dengan sangat cepat dan memengaruhi banyak orang.
“Lebih bijaksana kalau membuat konten yang positif dan edukatif. Jangan hanya mengejar viral, tetapi melupakan dampaknya bagi masyarakat, terutama anak-anak,” katanya.
Dr. Frengky juga mengingatkan adanya potensi penyalahgunaan liquid vape dengan mencampurkan zat-zat terlarang, termasuk narkotika. Kondisi tersebut dinilai dapat memperparah dampak kesehatan, mulai dari gangguan fungsi otak, kecanduan, kecemasan, depresi hingga terganggunya tumbuh kembang anak.
“Kalau sudah ditambah zat adiktif atau narkoba, risikonya jauh lebih besar. Anak bisa kehilangan fokus, mengalami ketergantungan, bahkan motivasi belajar menurun karena hanya mengejar sensasi,” jelasnya.
Terkait polemik influencer yang mempromosikan vape hingga dilaporkan ke kepolisian, Dr. Frengky menilai langkah permintaan maaf yang telah dilakukan merupakan hal positif.
Menurutnya, tujuan utama bukan sekadar memberikan hukuman, tetapi juga membangun kesadaran agar kesalahan serupa tidak terulang.
“Kalau sudah sadar, meminta maaf, mengklarifikasi dan berjanji tidak mengulanginya lagi, itu jauh lebih baik. Hukuman harus memberikan efek jera sekaligus menjadi edukasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, edukasi mengenai bahaya vape tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Orang tua, sekolah, tenaga kesehatan hingga para influencer juga perlu terlibat aktif.
“Anak-anak sekarang lebih banyak melihat gadget, media sosial, artis, influencer, dan public figure. Karena itu mereka juga harus ikut membuat konten edukatif agar pesan kesehatan lebih mudah diterima oleh generasi muda,” pungkasnya.
Share this content:


