26 Tahun Berkarya, Ungu Akhirnya Wujudkan Mimpi Gelar Konser Tunggal Kolosal di Indonesia
Jakarta – Band Ungu bersiap menggelar konser tunggal berskala besar di Indonesia setelah bertahun-tahun lebih sering mengadakan konser di luar negeri. Vokalis Ungu, , mengaku selama ini dirinya menyimpan kegelisahan karena antusiasme penggemar di Malaysia dan Singapura selalu luar biasa, sementara konser tunggal dengan konsep besar di Tanah Air belum pernah benar-benar terwujud.
Pasha mengatakan setiap kali Ungu tampil di Malaysia maupun Singapura, tiket konser hampir selalu habis terjual. Respons positif dari penggemar di luar negeri itulah yang membuat band merasa sudah waktunya menghadirkan konser spesial di Indonesia.
“Di Malaysia sering banget, di Singapura juga beberapa kali. Alhamdulillah tiketnya selalu luar biasa, sampai sekarang kalau buka penjualan tiket hampir selalu sold out. Kegelisahan itu akhirnya terjawab, dan Alhamdulillah Trinity bisa merespons. Kayaknya memang sudah saatnya Ungu,” ujar Pasha.
Menurutnya, konser kali ini bukan sekadar soal perayaan usia perjalanan karier band, melainkan momentum berkumpul bersama para penggemar yang telah mengikuti perjalanan Ungu sejak awal 2000-an.
Pasha menegaskan angka perjalanan karier bukan untuk menunjukkan bahwa para personel sudah tidak muda lagi, melainkan sebagai bukti bahwa Ungu masih mampu bertahan dan terus berkarya hingga sekarang.
“Bukan menunjukkan bahwa Ungu sudah tua. Tapi ini menunjukkan perjalanan Ungu hari ini dengan semua proses yang sudah dilewati dan masih tetap berkarya.”
Konser Kolosal Pertama
Pasha menjelaskan selama ini Ungu sebenarnya masih sering tampil di berbagai daerah di Indonesia. Namun, konser-konser tersebut bukanlah konser tunggal berskala besar yang benar-benar dikonsep secara khusus.
Ia mengungkapkan konser yang akan digelar pada 30 Agustus menjadi konser tunggal kolosal pertama yang benar-benar dipersiapkan secara matang.
“Kalau manggung di Indonesia sering. Tapi konser tunggal yang benar-benar dikonsep dengan skala besar seperti ini memang belum pernah. Baru insya Allah tanggal 30 nanti,” katanya.
Siapkan Lagu dari 15 Album
Dalam konser tersebut, Ungu berencana membawakan lagu-lagu dari seluruh perjalanan musik mereka, mulai dari album pertama hingga sekitar 15 album yang telah dirilis.
Namun hingga kini, para personel masih terus berdiskusi mengenai susunan lagu terbaik agar penonton bisa menikmati alur nostalgia selama konser berlangsung.
“Kita masih meeting terus mencari formula yang paling pas. Mau diurutkan berdasarkan album atau dibuat acak, itu masih kita bahas,” ujar Pasha.
Ia bahkan memiliki mimpi seluruh penonton dapat menyanyikan setiap lagu dari awal hingga akhir konser.
“Saya bermimpi orang yang datang bisa nyanyi dari lagu pertama sampai lagu terakhir. Setelah konser selesai, enggak ada satu lagu pun yang mereka enggak tahu.”
Debat Soal Lagu Pembuka
Selain menentukan daftar lagu, Ungu juga mengaku cukup sering berdebat mengenai konsep pembuka konser.
Menurut Pasha, perdebatan itu bukan soal kualitas lagu, melainkan bagaimana menjaga emosi penonton sejak awal pertunjukan.
“Kadang kita debat, lagu pertama harus langsung kencang atau justru mulai dengan lagu yang pelan. Itu yang masih kita cari formulanya.”
Ia optimistis para penggemar yang datang dari berbagai daerah di Indonesia akan hafal seluruh lagu yang dibawakan karena telah mengikuti perjalanan Ungu selama lebih dari dua dekade.
Dari Dicibir Hingga Bertahan 26 Tahun
Pasha juga mengenang masa-masa awal Ungu membangun nama di industri musik Indonesia. Saat itu, berbagai cibiran sempat menghampiri karena konsep band mereka dianggap berbeda.
“Dulu waktu membangun branding banyak yang bilang, ‘Ini band apaan?’ Tapi akhirnya waktu yang menjawab.”
Kini, menurut Pasha, Ungu justru memilih kembali menjadi diri sendiri tanpa terlalu memikirkan pencitraan.
“Kita sekarang back to basic. Jadi diri sendiri saja. Mungkin dulu terlalu banyak mikirin branding sampai jadi orang lain.”
Tantangan Menjaga Relevansi
Seiring bertambahnya usia para personel dan kesibukan masing-masing, tantangan terbesar Ungu saat ini bukan lagi membangun popularitas, melainkan menjaga produktivitas dan tetap relevan di tengah perkembangan industri musik.
Pasha menegaskan seluruh keputusan di band selalu diambil bersama sehingga setiap langkah yang dilakukan merupakan hasil kesepakatan lima personel.
“Kita kerja sekarang by system. Semua keputusan dibicarakan bersama. Yang penting Ungu tetap produktif dan tetap relevan dengan zaman.”
Meski kini tak lagi selincah saat muda, Pasha mengaku semangat bermusik para personel tidak pernah berubah.
“Dulu masih bisa lompat-lompat di atas panggung. Sekarang agak berat, takut panggungnya yang enggak kuat,” candanya yang disambut tawa personel lain.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Ungu berharap konser tunggal mereka nanti menjadi ajang nostalgia sekaligus bukti bahwa setelah lebih dari 26 tahun berkarya, band tersebut masih memiliki tempat istimewa di hati para penggemarnya.
Share this content:


