Darius Sinathrya Pilih Tetap Tinggal di Indonesia Meski Anak Berkarier di Luar Negeri
JAKARTA — Darius Sinathrya membagikan cerita mengenai aktivitasnya bersama keluarga di tengah kesibukan pekerjaan dan aktivitas anak-anaknya. Ditemui di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senin (11/8/2026), Darius mengungkapkan bahwa keluarga mereka memang kerap menghabiskan waktu bersama dengan melakukan berbagai kegiatan, termasuk menikmati alam.
Menurut Darius, momen liburan keluarga biasanya menjadi kesempatan untuk melakukan family time. Namun, tahun ini waktunya tidak sebanyak sebelumnya karena dirinya masih memiliki sejumlah pekerjaan.
“Biasanya memang kalau anak-anak libur sekolah, kita selalu liburan, jalan-jalan, family time. Destinasinya juga pindah-pindah. Cuma di liburan kali ini ternyata gue masih harus kerja,” ujar Darius.
Darius menjelaskan, kedua anaknya, Lionel dan Diego, harus lebih dahulu kembali karena sudah memasuki masa pre-season bersama tim masing-masing. Alhasil, ia baru bisa memanfaatkan waktu bersama sang istri, Dona, dan putrinya, Sabrina.
“Karena mereka juga pulangnya harus lebih dulu, karena sudah mulai pre-season sama tim masing-masing. Akhirnya kemarin baru bisa jalan sama Dona sama Sabrina aja,” tuturnya.
Pilih Destinasi yang Dekat
Karena memiliki waktu yang terbatas, Darius dan keluarga memilih destinasi yang dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat. Mereka menghindari perjalanan yang terlalu jauh agar waktu liburan tidak habis di perjalanan.
“Tahun ini waktunya aku sama Dona selalu sleep-sleep-an. Nanti aku kerja, nanti gantian Dona ada kegiatan juga. Jadi punya waktu paling tiga-empat hari,” kata Darius.
“Kalau harus terbang agak jauh capek di jalan. Jadi kita cari yang memang bisa dijangkau dalam dua-tiga jam, sampai bisa lebih banyak waktu buat nikmatin suasana sama-sama,” lanjutnya.
Darius mengatakan keluarganya sebenarnya tidak memiliki satu jenis destinasi favorit. Mereka bisa menikmati pantai, gunung, lembah maupun danau. Namun, kondisi cuaca yang sedang panas membuat mereka memilih lokasi yang lebih sejuk.
“Preferensinya banyak. Bisa ke pantai, bisa ke gunung, bisa ke lembah. Macem-macem. Cuma dari destinasi, dari jarak, dari opsi-opsi yang kita ngobrolin, yang paling mungkin paling dekat,” jelasnya.
“Karena lagi cuaca panas banget, kemaraunya lagi kemarau panjang, jadi kita cari yang agak adem,” sambung Darius.
Meski begitu, Darius mengungkapkan Sabrina sebenarnya sangat menyukai pantai. Keluarga mereka pun biasanya tetap berusaha menyempatkan diri berlibur ke pantai atau pulau, termasuk Bali.
Keluarga Darius Gemar Berolahraga
Selain berlibur ke alam, Darius menyebut keluarga mereka juga terbiasa mengisi waktu dengan olahraga. Ia mengatakan hampir seluruh anggota keluarganya memiliki gaya hidup aktif.
“Kayaknya kita salah satu keluarga yang juga semuanya suka olahraga ya, aktif,” ujar Darius.
Ia mencontohkan dirinya dan Sabrina yang sempat bermain bulu tangkis bersama. Sebelumnya, mereka juga melakukan aktivitas bersepeda bersama.
“Tadi pagi juga gue sama Sabrina main badminton. Minggu lalu kita pedal bareng,” katanya.
Menurut Darius, tidak semua aktivitas keluarga mereka selalu diabadikan dan dibagikan ke media sosial. Baginya, kebersamaan tidak harus selalu ditampilkan kepada publik.
“Enggak semua momen kita sempat abadikan atau kita belum sempat posting. Tapi di luar itu salah satu bentuk kualitasnya juga,” tuturnya.
Ungkap Rahasia Tetap Bugar
Ditanya mengenai rahasia tetap terlihat bugar dan awet muda, Darius menyebut olahraga memang menjadi salah satu faktor. Namun, menurutnya masih banyak hal lain yang turut berpengaruh, mulai dari pola hidup hingga menjaga pikiran tetap positif.
“Olahraga salah satu. Tapi kan ada banyak mungkin ya biar kita tetap semangat, tetap positif, memanajemen stres, pola hidup, pola makan, istirahat yang cukup. Banyak lah sebenarnya,” kata Darius.
Dari sisi makanan, Darius mengaku lebih sering mengonsumsi makanan yang dibuat di rumah. Ia juga berusaha mengurangi konsumsi gula dan makanan cepat saji.
“Memang kebiasaan makan sehat kali ya. Makannya biasanya di rumah, sekali-sekali makan di luar. Junk food itu sekali-sekali lah,” ujarnya.
Darius mengaku tidak terlalu menyukai sayuran. Sebagai gantinya, ia lebih banyak mengonsumsi buah.
“Ya buah. Aku kan enggak makan sayur, jadi konsumsi biasanya buah yang sehat-sehat, kurangin gula,” ungkapnya.
Lionel Pilih Gap Year dan Fokus Sepak Bola
Darius kemudian berbicara mengenai putranya, Lionel, yang baru menyelesaikan pendidikan SMA. Ia mengaku bangga melihat sang anak berhasil menyelesaikan pendidikannya.
“Dia bangga lah karena anaknya akhirnya lulus, bisa graduation bersama teman-temannya bulan Juni dan dia juga happy akhirnya selesai,” kata Darius.
Setelah lulus SMA, Lionel memutuskan untuk mengambil gap year dan belum melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Keputusan tersebut diambil karena Lionel ingin lebih dahulu fokus terhadap karier sepak bolanya.
“Tahun ini mungkin dia memilih buat fokus dulu sama sepak bolanya. Jadi dia ambil gap year, belum kuliah,” jelas Darius.
Di tengah masa tersebut, Lionel juga disebut mendapatkan tawaran di tempat baru. Ia masih mencari pilihan jurusan yang sesuai dengan minatnya untuk pendidikan selanjutnya.
“Kebetulan dapat tawaran di tempat baru juga sambil dia melihat-lihat kira-kira ada jurusan yang dia suka dan bisa diambil di sana,” tuturnya.
Jadi Ayah yang Kritik Sekaligus Beri Dukungan
Sebagai orang tua, Darius berusaha memberikan dukungan kepada anak-anaknya, terutama dalam perjalanan mereka sebagai atlet sepak bola.
Namun, ia menegaskan tidak ingin menjadi orang tua yang hanya memberikan pujian. Darius mengaku berusaha bersikap objektif dan menjadi orang pertama yang memberikan kritik ketika anak-anaknya melakukan kesalahan.
“Sebisa mungkin kasih support terbaik, apapun yang memang kita bisa support. Aku selalu sebagai ayah coba seobjektif mungkin,” ujarnya.
“Kalau misalnya ada kekurangan, aku pasti akan jadi orang pertama yang kritik mereka, yang ngingetin mereka, motivasi mereka,” sambung Darius.
Di sisi lain, ia juga tetap memberikan apresiasi ketika anak-anaknya berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Menurutnya, keseimbangan tersebut penting untuk menjaga kondisi psikologis anak.
“Aku juga selalu coba untuk memuji mereka sesuai dengan kapasitasnya, enggak berlebihan. Karena kita harus balance psikologis mereka,” jelasnya.
Darius menyadari dunia sepak bola memiliki tekanan tersendiri. Perbedaan karakter pelatih, dinamika tim, hingga kondisi pertandingan bisa memengaruhi mental seorang pemain.
“Kadang-kadang mungkin mereka lagi down, butuh dimotivasi. Mereka lagi senang harus kita ingetin biar enggak terlalu euforia,” katanya.
Beruntung, Darius menyebut anak-anaknya sudah memiliki kesadaran untuk menjalani latihan dan aktivitas sepak bola tanpa harus terus-menerus diingatkan.
“Untungnya anak-anak memang mau menjalankan itu. Jadi latihan dan sebagainya tidak perlu diingatkan, jadi tugasnya lebih ringan,” ucapnya.
Darius pun memilih memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam menentukan masa depan.
“Membebaskan mereka mau pilih apa, tapi apapun pilihannya harus dijalani dengan sepenuhnya,” tegasnya.
Tak Berniat Pindah dan Tetap Pilih Indonesia
Meski kedua anaknya kini banyak menghabiskan waktu di luar negeri karena pendidikan dan karier sepak bola, Darius mengaku belum memiliki rencana untuk menetap di luar Indonesia.
Ia menegaskan masih sangat mencintai Indonesia.
“Saya terlalu cinta sama Indonesia,” ujar Darius.
Menurut Darius, dirinya dan Dona sebenarnya ingin tetap bisa tinggal bersama seluruh anak mereka. Namun, sebagai orang tua, keduanya mulai menyadari bahwa pilihan karier anak-anak pada akhirnya akan membuat keluarga mereka harus tinggal di tempat yang berbeda.
“Kalau ditanya gitu, pengennya berlima bareng-bareng terus. Cuma begitu anak-anak itu punya cita-cita pemain bola dan ternyata mereka jalan terus, mereka yang masih mau menjalani,” tuturnya.
Darius dan Dona pun mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan hidup terpisah lokasi dengan anak-anak mereka.
“Aku sama Dona sudah mulai antisipasi bahwa suatu saat, cepat atau lambat, pasti kita akan pisah-pisah tempat,” katanya.
Meski demikian, Darius memastikan Indonesia tetap menjadi tempat tinggal utama dirinya bersama Dona.
“Aku sama Dona sejauh ini masih memiliki Indonesia sebagai tempat tinggal kita. Jadi korbannya perjalanannya lebih jauh, lebih makan waktu, lebih capek,” jelasnya.
Ia mengatakan keluarga mereka tetap berusaha menjaga komunikasi dan memanfaatkan waktu liburan untuk berkumpul. Anak-anaknya pun disebut masih sangat ingin pulang ke Indonesia ketika mendapatkan kesempatan.
“Mereka kalau dikasih pilihan misalnya Desember mau pulang enggak, oh mau banget mereka pulang. Kalau bisa tiap dua bulan sekali mereka pulang,” ungkap Darius.
Namun, keinginan tersebut tidak selalu mudah diwujudkan karena jadwal pendidikan, latihan dan pertandingan yang cukup padat.
“Cuma mereka harus sekolah, liburnya juga terbatas. Kadang bahkan libur winter di sana cuma tiga-empat hari, sudah harus latihan lagi, ada game lagi,” pungkasnya.
Share this content:


