Putra Siregar Soroti Generasi Emas Indonesia: Pendidikan, Gadget hingga Bahaya Vape Jadi Perhatian
JAKARTA — Pengusaha sekaligus publik figur Putra Siregar menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia. Menurutnya, cita-cita Indonesia Emas tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga bagaimana kualitas generasi penerus dipersiapkan sejak dini.
Putra menilai pendidikan, pola pikir, hingga persoalan stunting menjadi sejumlah hal yang harus mendapat perhatian serius jika Indonesia ingin memiliki generasi emas.
“Kita tinggal tergantung ya negara ini mau jadi negara Indonesia emas atau Indonesia bubar. Kalau mau jadi Indonesia emas, maka generasinya yang harus kita ini pendidikannya, pola pikirnya, mindset-nya, stunting-nya. Itu sih yang paling terpenting kalau kita mau jadi generasi emas,” ujar Putra.
Ia kemudian menyoroti perkembangan anak-anak saat ini yang dinilai semakin cepat dalam menerima berbagai informasi. Putra mengambil contoh dari anaknya yang masih duduk di kelas 1 SD.
Menurutnya, anak-anak dari generasi Alpha memiliki rasa ingin tahu dan pengetahuan yang cukup luas mengenai berbagai hal di luar lingkungan mereka.
“Anak-anak sekarang itu lebih cepat nangkep loh seputar apa pun. Anak aku aja, aku heran ya, pertumbuhannya Gen Alpha. Meskipun kelas 1 SD, tapi pengetahuan atau knowledge-nya luar biasa seputar dunia luar,” ungkapnya.
Namun, perkembangan tersebut juga menjadi tantangan bagi orang tua. Terlebih saat ini anak-anak memiliki akses yang sangat luas terhadap informasi melalui gadget dan media sosial.
Putra mengingatkan orang tua agar tidak hanya memberikan akses teknologi, tetapi juga ikut mendampingi serta menyaring informasi yang diterima anak.
“Kalau kita sebagai orang tua kurang dalam mengedukasinya, sekarang ada gadget yang dia bebas akses informasi atau berita apa pun. Jadi kalau kita nggak pintar-pintar dalam menyaringnya, itu menjadi masalah,” katanya.
Selain penggunaan gadget, Putra juga menyoroti maraknya penggunaan vape di kalangan remaja. Ia membandingkan kebijakan Indonesia dengan sejumlah negara lain yang menurutnya lebih tegas dalam mengatur penggunaan produk tersebut.
Putra mengaku prihatin melihat penggunaan vape yang menurutnya semakin mudah ditemukan di kalangan anak muda.
“Sekarang hampir, lihat ya, remaja-remaja itu menggunakan vape,” ujarnya.
Ia kemudian menyinggung kebijakan di negara seperti Thailand dan Singapura terkait vape. Menurut Putra, persoalan tersebut seharusnya menjadi perhatian apabila Indonesia ingin menjaga kualitas generasi mudanya.
“Nah kembali, kita mau jaga generasi kita atau enggak,” tegasnya.
Putra juga menyoroti keamanan lingkungan sekolah setelah muncul sejumlah kasus penemuan benda atau senjata yang berkaitan dengan aksi kejahatan. Menurutnya, sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak menuntut ilmu justru bisa dimanfaatkan pihak tertentu karena dianggap sebagai lokasi yang tidak menimbulkan kecurigaan.
“Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Mungkin menggunakan prinsip itu. Jadi tanpa sembunyi, terus tidak ada yang curiga karena namanya sekolah, tempat orang menuntut ilmu, bukan merakit senjata dan sebagainya,” jelas Putra.
Meski demikian, Putra mengaku masih percaya terhadap upaya aparat dalam menjaga keamanan. Ia menyebut sejumlah unsur kepolisian memiliki peran dalam mengantisipasi potensi tindak kejahatan.
“Tapi kita harus percaya kok, kepolisian kita sejauh ini kan cukup aktif,” katanya.
Dalam hal pengawasan anak, Putra mengatakan orang tua juga memiliki peran penting dalam memilih lingkungan pendidikan. Ia menyebut dirinya memilih sekolah untuk anaknya yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal agar pengawasan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
“Ya kita lah kembali sebagai orang tua, berikan sekolah anak kita yang baik. Kalau anakku alhamdulillah kan di sekolah Global Islamic School yang sampingnya rumahku, jadi bisa kekontrol,” tutur Putra.
Ia pun menyarankan orang tua yang belum bisa melakukan pengawasan secara langsung untuk lebih aktif mengecek lingkungan sekolah dan pergaulan anak.
Lebih jauh, Putra menilai tantangan generasi muda saat ini tidak terlepas dari pengaruh media sosial dan lingkungan. Menurutnya, edukasi kepada anak harus dilakukan secara konsisten agar mereka mampu memahami berbagai informasi yang diterima.
Namun, ada satu hal yang menurut Putra tidak kalah penting, yakni menanamkan jiwa nasionalisme kepada generasi muda.
“Dan paling terpenting dari antara semuanya itu punya jiwa nasional. Aku lihat ini yang makin gugur di rakyat kita saat ini adalah jiwa nasionalis,” ungkapnya.
Putra bahkan mengaitkan hal tersebut dengan momentum Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Ia mempertanyakan sejauh mana masyarakat masih memiliki semangat untuk merayakan kemerdekaan dan menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi penerus.
Di sisi lain, Putra turut menanggapi upaya pemerintah dalam membatasi akses media sosial bagi anak-anak di bawah umur. Menurutnya, pembatasan saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan.
“Kemarin kan ada bagus ya, anak-anak di bawah umur sama Komdigi dibatasi. Tapi ternyata nggak efektif juga,” katanya.
Putra menilai perlindungan anak dari dampak negatif perkembangan teknologi harus menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga orang tua, keluarga, sekolah, guru, dan lingkungan sekitar.
“Kembali sih semuanya berperan aktif, baik lingkungan, baik orang tua, baik keluarga dan sebagainya, guru, semuanya terlibat,” pungkas Putra.
Menurut Putra, masa depan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana seluruh pihak mempersiapkan dan menjaga generasi muda. Pendidikan, pengawasan, penggunaan teknologi secara bijak, serta penanaman nilai agama dan nasionalisme dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk generasi penerus bangsa.
Share this content:


