Psikiater Mintarsih Soroti Kasus Siswi Jurangmangu: Tekanan Keluarga hingga Sekolah Perlu Ditelusuri
Jakarta — Kasus seorang siswi yang tewas tertabrak Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Jurangmangu menjadi perhatian publik. Dugaan bunuh diri mencuat setelah adanya jejak curhatan korban di media sosial yang disebut mengarah pada rencana untuk mengakhiri hidup.
Psikiater dr. Mintarsih A Latief, SpKJ, mengatakan, jika seseorang telah memikirkan cara tertentu untuk mengakhiri hidup dan sebelumnya meninggalkan sejumlah petunjuk, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa orang tersebut mengalami tekanan psikologis yang berat.
“Kalau dia sudah bunuh diri, itu artinya suatu stres yang berat pada dirinya. Sekarang harus kita nilai kembali, kenapa terjadi stres berat itu?” ujar dr. Mintarsih.
Menurutnya, penyebab seseorang sampai melakukan percobaan atau tindakan bunuh diri tidak bisa langsung disimpulkan hanya dari kejadian akhirnya. Berbagai faktor perlu ditelusuri, mulai dari kondisi keluarga, lingkungan sekolah, pertemanan, hingga kemungkinan adanya gangguan kejiwaan.
“Apakah ada suatu kelainan? Apakah ada suatu bentrokan? Apakah sudah lama? Apakah ada gangguan-gangguan misalnya di dalam keluarga, di sekolah? Semua kita lihat. Tapi kenapa kok sampai bunuh diri?” katanya.
Curhatan di TikTok Dinilai Menjadi Petunjuk
Dalam kasus tersebut, dr. Mintarsih juga menyoroti curhatan korban di TikTok yang disebut memiliki gambaran mengenai “plan A” dan “plan B”.
Plan A disebut berkaitan dengan keinginan korban untuk keluar dari rumah, menyelesaikan sekolah, dan hidup mandiri. Sementara itu, plan B disebut berupa gambar kereta api.
Menurut dr. Mintarsih, keberadaan gambaran tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa korban telah mengalami tekanan dan memikirkan kemungkinan untuk mengakhiri hidup.
“Semua plan itu menunjukkan dirinya memang sudah sangat stres dan sudah mau bunuh diri. Karena kalau tidak, kenapa kalau sudah ada gambaran, kemudian betul-betul bunuh diri di kereta api?” tuturnya.
Meski demikian, ia menegaskan, petunjuk tersebut tidak otomatis menjelaskan penyebab utama korban melakukan tindakan tersebut.
“Tapi penyebabnya harus kita nilai kembali. Ada apa yang jadi penyebab dan apa latar belakangnya?” ujarnya.
Faktor Keluarga hingga Bullying Perlu Ditelusuri
dr. Mintarsih mengatakan, kondisi psikologis seseorang, khususnya remaja, dapat dipengaruhi berbagai tekanan. Persoalan keluarga, lingkungan sekolah, pertemanan, hubungan sosial, hingga bullying merupakan hal yang perlu diperhatikan.
Namun, dalam kasus ini, ia menilai belum cukup informasi untuk menyimpulkan secara pasti faktor apa yang menjadi pemicu utama.
“Kita belum tahu ceritanya berlanjut. Ini kan hanya cerita, oh dia bunuh diri, oh sebelumnya ada apa. Jadi itu hanya membuktikan bahwa dirinya memang bunuh diri, bukan dibunuh. Tapi tidak menceritakan ada apa, kok sampai bunuh diri,” jelasnya.
Ia menilai, penting untuk membedakan antara adanya tekanan psikologis dengan penyebab spesifik yang membuat tekanan tersebut menjadi sangat berat.
“Kita tahu ada suatu stres di dalam keluarga, ada stres di sekolahnya, tapi tidak persis. Stresnya itu karena apa? Stresnya wajar, stresnya tidak wajar, stres ekonomi atau bukan, lebih stres kekecewaan? Latar belakangnya perlu dilihat kembali,” katanya.
Remaja Dinilai Rentan Mengalami Tekanan Psikologis
Menurut dr. Mintarsih, masa remaja merupakan periode yang membutuhkan perhatian khusus. Ketika menghadapi frustrasi, tekanan, maupun depresi, seorang remaja dapat mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya.
Karena itu, tindakan yang terlihat sebagai keputusan mendadak atau “nekat” tetap perlu dilihat dari proses yang terjadi sebelumnya.
“Jadi ini semuanya menunjukkan dan memperkuat bahwa dirinya memang bunuh diri, bukan dibunuh. Kalau dibunuh kan tidak, sebelumnya sudah ada petunjuk. Ini memperkuat bunuh dirinya, tapi tidak memperkuat penyebabnya apa,” ungkapnya.
Tingginya Stres di Masyarakat Jadi Perhatian
Lebih jauh, dr. Mintarsih menyoroti persoalan kesehatan mental yang menurutnya tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat.
Ia menyebut tekanan ekonomi, ketidakpastian, persoalan hukum, ketidakadilan, hingga konflik dalam rumah tangga dapat menjadi sumber stres bagi sebagian masyarakat.
“Kalau jiwa masyarakat sudah tidak stabil, sudah terlalu banyak, itu kan sudah tidak normal. Kenapa masyarakat harus begitu stres?” katanya.
Menurutnya, tingginya tekanan kehidupan dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Dalam kondisi tertentu, stres yang berat dapat berkembang menjadi masalah kejiwaan.
“Stres terlalu tinggi. Maka kita perlu lihat kenapa stres itu. Kalau dilihat lagi, banyak karena penyebabnya dari ekonomi. Ketidakpastian hukum itu juga jelas sangat menentukan, ketidakadilan yang ada,” ujarnya.
Bunuh Diri Tidak Selalu Dilakukan Secara Tiba-tiba
dr. Mintarsih juga menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan bunuh diri umumnya tidak langsung mengambil keputusan secara spontan tanpa proses sebelumnya.
Menurutnya, seseorang dapat mengalami stres dalam waktu tertentu, berusaha menahannya, hingga akhirnya merasa tidak mampu lagi menghadapi tekanan tersebut.
“Orang bunuh diri ya, dia kan tidak, ‘oh sekarang saya stres, sekarang saya bunuh diri’. Tapi dia ada suatu stres, dia tahan, dia tahan, sampai pada suatu saat tidak tahan lagi, lalu melakukan suatu aksi,” jelasnya.
Dalam proses tersebut, seseorang bahkan dapat mulai memikirkan bagaimana cara mengakhiri hidupnya.
“Sebelum melakukan aksi, sering kali sudah membayangkan, saya akan dengan cara apa? Apakah saya akan loncat dari ketinggian tertentu? Apakah saya akan minum obat atau apa? Jadi sebelumnya sudah dipikirkan, saya mau bunuh diri tapi pakai apa?” lanjutnya.
Orang yang Terlihat Pendiam Juga Perlu Diperhatikan
Ia juga menanggapi anggapan bahwa orang yang mengalami depresi atau tekanan berat cenderung menjadi lebih pendiam.
Menurutnya, perubahan perilaku menjadi lebih tertutup dapat terjadi ketika seseorang sedang menghadapi tekanan.
“Kalau orang sedang dalam sebuah depresi, sedang sedih, apakah orang itu akan gembira atau diam? Jadi stres itu kan di dalam badannya akhirnya lebih cenderung untuk diam daripada menunjukkan suatu kegembiraan,” katanya.
Karena itu, orang-orang terdekat perlu peka terhadap perubahan perilaku seseorang. Terlebih jika orang tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda menarik diri atau mengalami perubahan yang signifikan.
dr. Mintarsih menambahkan, seseorang yang berada dalam kondisi berisiko terkadang dapat memberikan cerita atau petunjuk kepada orang lain sebelum melakukan tindakan berbahaya.
“Umumnya orang yang bunuh diri akan menceritakan dulu pada orang-orang lain. Bukan tiba-tiba itu umumnya. Pada saat itu kita tahu sudah, ini sudah ada bahaya,” pungkasnya.
Ia menekankan bahwa tanda-tanda tersebut sebaiknya tidak diabaikan. Ketika seseorang mulai membicarakan keinginan untuk mengakhiri hidup, menunjukkan keputusasaan, atau mengalami perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, orang terdekat perlu segera memberikan perhatian dan mencari bantuan profesional.
Share this content:


